<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464</id><updated>2011-08-01T07:10:55.528-07:00</updated><title type='text'>Dare to Dream</title><subtitle type='html'>Motivasi dan Inspirasi Kehidupan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>79</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7497526484910015651</id><published>2010-11-02T21:32:00.000-07:00</published><updated>2010-11-02T21:56:03.977-07:00</updated><title type='text'>BOLA GOLF, PASIR DAN KOPI..</title><content type='html'>&lt;table style="width: 90%; font-size: 12px;" cellpadding="0" cellspacing="0"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="padding: 7px 0px;" valign="top" align="left"&gt;&lt;div style="padding-bottom: 7px;"&gt;&lt;a rel="nofollow" style="font-weight: bold;" target="_blank" href="http://www.facebook.com/n/?pdewo&amp;amp;mid=336ec3fG5af36a85a54dG125b2bG0&amp;amp;n_m=slimsehat%40yahoo.com"&gt;Pramono  'Pakde' Dewo&lt;/a&gt;&lt;span style="padding-left: 7px; color: rgb(136, 136, 136);"&gt;October 31, 2010 at 12:17pm&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-bottom: 7px;"&gt;Subject: BOLA GOLF, PASIR DAN KOPI...&lt;/div&gt;&lt;div style="padding-bottom: 7px;"&gt;(Repost...Catatan ringan di Minggu pagi.  Have a nice sunday).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang dosen berdiri di depan kelas  filsafat.&lt;br /&gt;Saat kelas dimulai, dia mengambil toples kosong &amp;amp;  mengisi dgn BOLA2 GOLF.&lt;br /&gt;Kemudian berkata pd murid2nya, apakah toples  sdh penuh...?&lt;br /&gt;Mereka setuju !.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menuangkan BATU  KORAL ke dalam toples, mengguncang dg ringan.&lt;br /&gt;Batu2 koral mengisi  tempat yg kosong di antara bola2 golf.&lt;br /&gt;Kemudian dia bertanya kpd  murid2nya, apakah toples sdh penuh ??&lt;br /&gt;Mereka setuju !!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya  dia menabur PASIR ke dlm toples...&lt;br /&gt;Tentu saja pasir menutupi  semuanya.&lt;br /&gt;Profesor sekali lagi bertanya apakah toples sdh penuh..??.&lt;br /&gt;Para  murid berkata, "Yes"...!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia menuangkan dua cangkir &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1288760039_1"&gt;KOPI&lt;/span&gt; ke dlm toples,  &amp;amp; secara efektif mengisi ruangan kosong di antara pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  murid tertawa....&lt;br /&gt;"Sekarang.. saya ingin kalian memahami bahwa  toples ini mewakili KEHIDUPANmu. "&lt;br /&gt;"Bola2 golf adalah HAL YANG  PENTING: Tuhan, keluarga, anak2, kesehatan.&lt;br /&gt;"Jika yg lain hilang  &amp;amp; hanya tinggal mereka, maka hidupmu masih tetap penuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Batu2  koral adalah HAL2 LAIN, spt pekerjaanmu, rumah &amp;amp; mobil."&lt;br /&gt;"Pasir  adalah HAL2 SEPELE."&lt;br /&gt;"Jika kalian pertama kali memasukkan pasir ke  dlm toples, maka tdk akan tersisa ruangan utk batu2 koral ataupun utk  bola2 golf. !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yg sama akan terjadi dlm hidupmu."&lt;br /&gt;"Jika  kalian menghabiskan energi utk hal2 yg sepele, kalian tidak akan  mempunyai ruang utk hal2 yg penting buat kalian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Beri  perhatian utk hal2 yg penting utk kebahagiaanmu.&lt;br /&gt;"Bermainlah dgn  anak2mu."&lt;br /&gt;"Luangkan wkt utk check up kesehatan."&lt;br /&gt;"Ajak  pasanganmu utk keluar makan malam"&lt;br /&gt;"Berikan perhatian terlebih  dahulu kpd bola2 golf,&lt;br /&gt;Hal2 yg benar2 penting.&lt;br /&gt;Atur prioritasmu.&lt;br /&gt;Baru  yg terakhir, urus pasirnya.&lt;br /&gt;"Salah satu murid mengangkat tangan dan  bertanya, "Kopi mewakili apa??&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor tersenyum, "Saya senang  kamu bertanya."&lt;br /&gt;"Itu utk menunjukkan pd kalian, sekalipun hidupmu  tampak sudah sangat penuh,.. tetap selalu tersedia tempat utk secangkir  kopi bersama SAHABAT.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewo&lt;br /&gt;PIN 21E3D90A&lt;/div&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7497526484910015651?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7497526484910015651'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7497526484910015651'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/11/bola-golf-pasir-dan-kopi.html' title='BOLA GOLF, PASIR DAN KOPI..'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1865571406515059074</id><published>2010-08-19T19:43:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T19:44:15.426-07:00</updated><title type='text'>JANGAN MEMPERSULIT DIRI</title><content type='html'>"Allah menghendaki kemudahanbagimu, dan  tidak menghendaki kesukaran bagimu. " (Al-Baqoroh 185)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat,  betapa dahsyatnya beritadan opini yang berkembang diberbagai media  tentang hal-hal yang negatif membuatbanyak diantara kita larut dan ikut  berfikir negatif dan semakin mempersulitdiri..... dan suka menyalahkan  orang lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jutaan orang menganggur ..... wah sulit nih cari kerja  !, 4 : 1 Jumlah wanita dibandinglaki-laki.....aduuuh makin susah nih  cara dapetin jodohku !, Korupsi merajalela.......mana mungkin kitabisa  kaya dan suskses berbisnis belum untung sudah dikorup !, pornografi  ,pornoaksi dan narkoba telah membudaya diseluruh strata  generasi........aduuhgimana nih tambah ancur saja nih negara.......pak  ustadz, pak Guru, pak Lurah,pak DPR dan Pak Presiden jangan tidur dan  melancong aja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal sebenarnya tidak ada yang sulit dalam  hidup kita ini, karena Allah sendirilah yang punya statmen ' Jangan  mempersulit diri, karena Aku tidak pernah mempersulit kalian ' begitulah  kira-kira bahasa gampangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja kita lihat  realitas-relaitas berikut ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang saat melamar  kerja,memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu  terlihat CCTV oleh peng-interview, maka dia lolos dan mendapatkan  pekerjaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata untuk memperolehpenghargaan sangat  mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang anak  menjadi murid ditoko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan  sepeda rusak untukdiperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki  sepeda tersebut, si anak inijuga membersihkan sepeda hingga bersih  mengkilap. Murid-murid lain menertawakanperbuatannya. Keesokan hari  setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, siadik kecil  ditarik/diambil kerja di tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata untuk menjadi orang  yangberhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang  anak berkata kepadaibunya: "Ibu hari ini sangat cantik.Ibu menjawab:  "Mengapa?Anak menjawab: "Karena hari ini ibu sama sekali tidak  marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata untuk memiliki kecantikansangatlah mudah,  hanya perlu tidak marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani menyuruh  anaknyasetiap hari bekerja giat di sawah.Temannya berkata: "Tidak perlu  menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetapakan tumbuh dengan  subur.Petani menjawab: "Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku  sedang membinaanakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata membina seorang anaksangat mudah,  cukup membiarkan dia rajin bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pelatih bola  berkatakepada muridnya: "Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan,  bagaimana caramencarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menjawab: "Cari mulaidari  bagian tengah." Ada pula yang menjawab: "Cari di rerumputan yang cekung  kedalam." Dan ada yang menjawab: "Cari di rumput yang paling tinggi.  Pelatihmemberikan jawaban yang paling tepat: "Setapak demi setapak cari  dari ujungrumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata  jalan menujukeberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala  sesuatunya setahap demisetahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katak  yang tinggal di sawahberkata kepada katak yang tinggal di pinggir  jalan: "Tempatmu terlaluberbahaya, tinggallah denganku."Katak di pinggir  jalan menjawab: "Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah."Beberapa hari  kemudian katak "sawah" menjenguk katak "pinggir jalan" danmenemukan  bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata  sangat mudah menggenggamnasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan  saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada segerombolan orang yangberjalan di padang pasir,  semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanyasatu orang yang  berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: "Mengapa engkaubegitu  santai?"Dia menjawab sambil tertawa: "Karena barang bawaan saya  sedikit."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sangat mudah untukmemperoleh kegembiraan,  cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang  gadis datang kepadasang Ustadz, Ustadz gimana sih cara cepat dapetin  jodoh ? gampang mau pilihyang mana ? yang masih perjaka atau yang sudah  punya istri ?,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;eemmm yang perjaka saja gimanacaranya ? bagi  cintamu kepada orang tua dan keluarganya maka dia akan  membagikancintanya padamu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang sudah punya istri ?serius  nih mau dipoligami ? ya tapi gimana triknya ? sama gampangnya,  bagicintamu kepada istri dan anak-anaknya dengan penuh ketulusan maka  suaminya akandengan mudah menerima cintamu begitu juga dengan anak dan  istrinya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata mencari jodoh itu mudah, cukup dengan membagi  cinta yang benar bukan ngegombal untuk merusak rumahtangga orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  jauh beda juga ketika kitamerasa sangat sukar meninggalkan maksiat dan  dosa, cukup dengan membiasakandiri berbuat kebaikan mulai dari yang  terkecil dan yang temudah, sepertimembiasakan beristighfar dalam langkah  dan meraskannya dalam denyutan nafaskita.................&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: dari berbagai&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1865571406515059074?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1865571406515059074'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1865571406515059074'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/08/jangan-mempersulit-diri.html' title='JANGAN MEMPERSULIT DIRI'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5773036036159453550</id><published>2010-04-28T19:55:00.000-07:00</published><updated>2010-04-28T19:56:27.400-07:00</updated><title type='text'>Nice story : Skenario Allah di Balik Kegagalanku</title><content type='html'>Janganlah pernah  berburuk sangka pada Allah, karena bisa jadi, di balik  ketentuannya, Allah sedang merencanakan "kejutan" lain&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img src="http://hidayatullah.com/images/foto/sanok.jpg" mce_src="/images/foto/sanok.jpg" width="240" align="right" height="163" /&gt;&lt;b&gt;Hidayatullah.com--&lt;/b&gt;Seringkali  dalam berdo'a kepada Allah, kita meminta agar Ia mempersegerakan  apa-apa yang kita munajatkan. Minimal, kita memohon kepada-Nya,  agar  sudi mengabulkan permintaan-permintaan kita. Bagi mereka yang bergelut  di dunia bisnis, misalnya, mereka memohon kepada Allah agar bisnisnya  lancar, dan menghasilkan keuntungan melimpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun mereka yang  sedang menyelesaikan program studi, mereka pun berharap agar Allah  melancarkan studi mereka, kemudian menjadi orang yang sukses di kemudian  hari. Begitu seterusnya, dan begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena besarnya  harapan di balik lantunan-lantunan do'a itu, maka, tidak sedikit dari  mereka yang menghujat Allah, manakala  do'a  belum memberikan jawaban.  Padahal, belum tentu apa yang kita impi-impikan di balik do'a,  itu akan  membawa kebaikan bagi kita, begitu pula sebaliknya. Bahkan, bisa jadi,  ditahannya pengabulan do'a tersebut, karena Allah sedang menyusun  skenario yang jauh lebih besar, lagi lebih bermanfaat bagi kita, yang  tidak pernah disangka-sangka. Begitu pula yang aku alami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku  adalah anak paling bungsu dari tujuh bersaudara. Sedari kecil (berumur 3  bulan) aku telah ditinggal oleh ibu. Maka, jadilah ayah dan  saudara-saudaraku pengasuh, yang senantiasa merawat hingga aku dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari  tujuh bersaudara, cuma aku yang bisa melanjutkan studi di perguruan  tinggi. Adapun yang lain, paling banter lulus MTS (Madrasah Tsanawiyah),  bahkan dua kakakku, tidak lulus SD. Ini semua bukan atas kemauan kami,  tapi memang, penghasilan ayah, yang berprofesi sebagai petani biasa,  tidak mampu memenuhi biaya pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, faham akan kondisi  keluarga --yang secara matematik tidak akan mampu membiayai kuliah--   setelah menyelesaikan studi di salah satu pondok yang berbasis bahasa  asing --Arab dan Inggris-- di Jawa Timur (Jatim),  aku berinisiatif  untuk melanjutkan kuliah di institusi yang memberikan beasiswa bagi  para  mahasiswanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mencari informasi dan menjajaki  beberapa kampus,  dan melalui hasil musyawarah dengan keluarga, dari  sekian banyak kampus, dua kampuslah yang menjadi incaranku. Yang pertama  ada di daerah Jawa Barat  dan satu lagi berada di Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada  dasarnya seluruh keluarga, terutama diriku pribadi, berharap bisa masuk  di Jabar.  Alasannya, di sini, selain mendapat beasiswa, makan, tempat  tinggal, sangu, para mahasiswa juga mendapatkan kitab-kita pelajaran  secara gratis. Maka, praktislah kita hanya tinggal fokus belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  pun yang di Jatim, hanya menyediakan beasiswa kuliah dan makan.  Sedangkan buku dan tete-bengek lainnya, masih harus mengeluarkan kocek  pribadi. Dan masih ada satu lagi yang membuat saya kurang sreg di sini,  para mahasiswa diwajibkan mengambil progran bahasa Inggris, sekalipun  itu bukan jurusannya. Itu semua karena bahasa komunikasi keseharian di  kampus, yaitu bahasa asing, Arab, dan Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membantu  dalam proses melancarkan tes ujian di kampus pertama (Jabar), aku dan  keluargaku saling bergotong royong. Mereka membantuku dengan do'a,  puasa, dan shalat sunnah. Ada pun aku, berikhtiar dengan belajar yang  giat, dan pastinya sambil berdo'a.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mulanya, aku &lt;i&gt;ngotot &lt;/i&gt;meminta  kepada Allah, agar ia memberi aku kelulusan. Namun, melihat banyaknya  jumlah peserta (ribuan, sedangkan yang diterima hanya seratus dua  puluh), aku merasa dzalim kalau aku 'memaksa' Nya untuk mengabulkan  permintaanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini kan penilaian saya pribadi, kalau tempat ini  terbaik untukku. Namun belum tentu  bagi Allah,  begitu  bisikku dalam.   Inilah yang kemudian mengubah  do'a menjadi, "Ya Allah, berilah aku  tempat terbaik menurutmu. Kalau memang tempat ini membawa manfaat bagiku  keesokan hari, maka luluskanlah aku, tapi, sekiranya tempat ini justru  menjerumuskanku kepada kesukaran di dunia dan akhirat, maka, jauhkanlah  aku darinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa inilah yang kemudian senantiasa aku panjatkan  kepada Allah, hingga tiba waktu pengumuman kelulusan seleksi mahasiswa  baru, Rabu, Juli 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya cek namaku pada abjad "Z" ,  ternyata namaku tidak ada. Terus terang aku sedih, sempat berderai air  mataku. Aku bukan hanya bersedih atas kegagalanku, namun, aku juga  merasa bersedih membayangkan reaksi keluargaku perihal kegagalanku.  Setelah aku beri tahu mereka, ternyata sungguh di luar dugaanku  sebelumnya. Mereka justru memotivasi aku untuk tetap semangat, jangan  patah arang, â€Nggak usah terlalu sedih, dan jangan malu. Mungkin ini  yang terbaik menurut Allah,"  ujar mereka melalui telepon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat  'suntikan' motivasi, semangatku langsung kembali. Seketika juga aku  menelepon temanku, yang memang terlebih dahulu telah menjadi mahasiswa  di kampus yang di Jatim, dan menanyakan tentang peluang pendaftaran. Dan  ternyata, hari itu adalah hari terakhir pendaftaran mahasiswa baru, dan  lusanya akan langsung diadakan tes. Sebab itu, kuminta sahabatku itu  untuk mendaftarkanku. Alhamdulillah, ia menyanggupinya. Dan pada hari  itu juga, aku langsung menyiapkan diri untuk langsung menuju Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat  cerita, setelah melalui  berbagai tes (tulis dan lisan), aku diterima  di kampus ini. Dan  komunikasi adalah jurusan yang aku pilih. Puji  syukur senantiasa aku ucapkan atas karunia-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana telah  saya paparkan di atas, seluruh mahasiswa diwajibkan mengambil mata  kuliah Bahasa Inggris selama tiga semester, maka --meskipun terpaksa-  aku pun mengikuti program tersebut. Masih jelas di benakku, betapa  jujurnya saya ke pada dosen akan ketidakmengertian saya terhadap bahasa  ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan mahasiswa yang lain aku berujar, "maaf pak,  soal-soalnya tidak saya kerjakan, saya tidak bisa sama sekali bahasa  Inggris."  Melihat kejujuranku, si dosen hanya bisa diam menyaksikan  kertas jawabanku masih putih bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada jalan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lambat  laun, aku paksakan diri agar mampu --menjinakkan musuh-- ku ini. Aku  tidak ingin meninggalkan kesempatan yang kedua kalinya (sebelumnya di  pondok yang berbasis bahasa asing). Maka mulailah aku pasang  'kuda-kuda'untuk fokus belajar. Aku selalu menghafalkan sedikit-demi  sedikit tiap kosa-kata.  Dan yang pasti, do'a kepada Allah, tidak pernah  terputus aku utarakan, agar Ia mempermudah langkahku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Allahu  Qadir ala kulli Syaiin,&lt;/i&gt; sungguh aku tidak menyangka, sedari awal  aku berazam untuk belajar, aku merasa Allah sangat mempermudahku, untuk  menguasai bahasa ini. Maka tidak heran, hanya dalam waktu yang relatif  singkat (2-3 bulan), aku sudah mengalami perubahan pengetahuan yang  sangat signifikan tentang bahasa Internasional ini. Dan yang membuat  saya lebih terharu lagi, saya bukan hanya mampu secara teoritis, namun,  secara praktis, aku pun bisa. Maka, terkaget-kagetlah teman-temanku,  ketika ujian pertengahan semester (UTS), untuk seluruh macam mata kuliah  bahasa Inggris (Reading, Grammar, Conversation), nilaiku adalah yang  terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan kemampuan baruku itu, Allah menjadikannya  sebagai jembatan penghubung bagiku, untuk memperoleh rezeki-Nya  (fulus). Aku diamanahi oleh dosen untuk mengajar di sekolah binaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak  itu saja, aku pun membuka kursus untuk mereka yang berminat mendalami  bahasa Inggris. Alhamdulillah, meskipun tidak banyak, tapi ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini,  kebutuhan-kebutahanku secara ekonomis bisa terpenuhi, tanpa harus  membebani orangtua dan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup dari tulisan  ini, cukuplah firman Allah di surat Al-Baqarah ayat 216  di bawah ini,  kita jadikan pijakan, dalam merespon keputusan Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...  Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik  bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik  bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya,  janganlah pernah ber-&lt;i&gt;su'udzan &lt;/i&gt;(berburuk sangka) kepada Allah  terhadap ketentuan-Nya, yang --mungkin-- secara naluri, kita tidak  menghendakinya, karena bisa jadi, di balik itu, Allah sedang  merencanakan 'kejutan' lain untuk kita yang tidak pernah kita  sangka-sangka sebelumnya. [&lt;i&gt;kisah ini disampaikan ole&lt;/i&gt;h &lt;b&gt;Zaki  Arrosyidi&lt;/b&gt;, koresponden &lt;a href="http://www.hidayatullah.com/" mce_href="http://www.hidayatullah.com"&gt;hidayatullah.com&lt;/a&gt;]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber :http://hidayatullah.com/cermin-a-features/cermin/11492-skenario-allah-di-balik-kegagalanku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5773036036159453550?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5773036036159453550'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5773036036159453550'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/04/nice-story-skenario-allah-di-balik.html' title='Nice story : Skenario Allah di Balik Kegagalanku'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2585684709001042248</id><published>2010-03-22T18:33:00.000-07:00</published><updated>2010-03-22T18:44:52.760-07:00</updated><title type='text'>Kata-kata yang memotivasi</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;“Teruslah bergerak, hingga kelelahan itu lelah mengikutimu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt; Teruslah berlari, hingga kebosanan itu bosan mengejarmu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Teruslah berjalan, hingga keletihan itu letih bersamamu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Teruslah bertahan, hingga kefuturan itu futur menyertaimu.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;Tetaplah berjaga, hingga kelesuan itu lesu menyertaimu”&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-align: center;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;–Alm. Rahmat Abdullah–&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2585684709001042248?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2585684709001042248'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2585684709001042248'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/kata-kata-yang-memotivasi.html' title='Kata-kata yang memotivasi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8160876823440410852</id><published>2010-03-18T02:18:00.000-07:00</published><updated>2010-03-18T02:19:50.691-07:00</updated><title type='text'>Landasan Pengambilan Keputusan</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“Jika ada dua orang yang bersengketa duduk di hadapanmu  (meminta keputusan), janganlah engkau berbicara (memberi keputusan)  hingga engkau mendengarkan (keterangan) dari pihak lain sebagaimana  engkau telah mendengar dari pihak yang pertama” [HR Ahmad].&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8160876823440410852?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8160876823440410852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8160876823440410852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/landasan-pengambilan-keputusan.html' title='Landasan Pengambilan Keputusan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2721223344383423390</id><published>2010-03-17T23:46:00.000-07:00</published><updated>2010-03-17T23:47:25.297-07:00</updated><title type='text'>You are never alone</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Zain Bhikha – You are never alone&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;br /&gt;Sometimes, when the world’s not on your side,&lt;br /&gt;You don’t know where to run to,&lt;br /&gt;You don’t know where to hide.&lt;br /&gt;You gaze, at the stars in the sky,&lt;br /&gt;At the mountains so high,&lt;br /&gt;Through the tears in your eyes.&lt;br /&gt;Looking for a reason,&lt;br /&gt;to replace what is gone.&lt;br /&gt;Just remember, remember,&lt;br /&gt;That you are never alone.&lt;br /&gt;You are never alone,&lt;br /&gt;Just reach into your heart,&lt;br /&gt;And Allah is always there.&lt;br /&gt;You are never alone,&lt;br /&gt;Through sorrow and through grief,&lt;br /&gt;Through happiness and peace,&lt;br /&gt;You are never alone.&lt;br /&gt;So now as you long for your past,&lt;br /&gt;Prepare for your future,&lt;br /&gt;But knowing nothing’s going to last.&lt;br /&gt;You see this life is but a road,&lt;br /&gt;A straight and narrow path,&lt;br /&gt;To our final abode.&lt;br /&gt;So travel well O Muslim,&lt;br /&gt;And Paradise will be your home.&lt;br /&gt;And always remember,&lt;br /&gt;That you are never alone.&lt;br /&gt;You are never alone.&lt;br /&gt;Just reach into your heart,&lt;br /&gt;And Allah is always there.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2721223344383423390?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2721223344383423390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2721223344383423390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/you-are-never-alone.html' title='You are never alone'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-9177759448945085540</id><published>2010-03-11T01:46:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T01:47:14.278-08:00</updated><title type='text'>Ketika Mas Gagah Pergi</title><content type='html'>Mas gagah berubah! Ya, beberapa bulan belakangan ini masku, sekaligus saudara kandungku satu-satunya itu benar-benar berubah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah Perwira Pratama, masih kuliah di Tehnik Sipil UI semester tujuh. Ia seorang kakak yang sangat baik, cerdas, periang dan tentu saja…ganteng !Mas Gagah juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dari hasil mengajar privat untuk anak-anak SMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kecil aku sangat dekat dengannya. Tak ada rahasia di antara kami. Ia selalu mengajakku ke mana ia pergi. Ia yang menolong di saat aku butuh pertolongan. Ia menghibur dan membujuk di saat aku bersedih. Membawakan oleh-oleh sepulang sekolah dan mengajariku mengaji. Pendek kata, ia selalu melakukan hal-hal yang baik, menyenangkan dan berarti banyak bagiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memasuki usia dewasa, kami jadi semakin dekat.Kalau ada saja sedikit waktu kosong, maka kami akan menghabiskannya bersama. Jalan-jalan, nonton film atau konser musik atau sekedar bercanda dengan teman-teman. Mas Gagah yang humoris itu akan membuat lelucon-lelocon santai hingga aku dan teman-temanku tertawa terbahak. Dengan sedan putihnya ia berkeliling mengantar teman-temanku pulang usai kami latihan teater. Kadang kami mampir dan makan-makan dulu di restoran, atau bergembira ria di Dufan Ancol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang tak menyukai Mas Gagah. Jangankan keluarga atau tetangga, nenek-kakek, orang tua dan adik kakak teman-temanku menyukai sosoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kakak kamu itu keren, cute, macho dan humoris. Masih kosong nggak sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Git, gara-gara kamu bawa Mas Gagah ke rumah, sekarang orang rumahku suka membanding-bandingkan teman cowokku sama Mas Gagah lho! Gila, berabe kan?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gimana ya Git, agar Mas Gagah suka padaku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan banyak lagi lontaran-lontaran senada yang mampir ke kupingku. Aku Cuma mesem-mesem bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah kutanyakan pada Mas Gagah mengapa ia belum juga punya pacar. Apa jawabnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas belum minat tuh! Kan lagi konsentrasi kuliah. Lagian kalau Mas pacaran…, banyak anggaran. Banyak juga yang patah hati! He..he..he…”Kata Mas Gagah pura-pura serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah dalam pandanganku adalah cowok ideal. Ia serba segalanya. Ia punya rancangan masa depan, tetapi tak takut menikmati hidup. Ia moderat tetapi tidak pernah meninggalkan shalat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Mas Gagah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seperti yang telah kukatakan, entah mengapa beberapa bulan belakangan ini ia berubah! Drastis! Dan aku seolah tak mengenal dirinya lagi. Aku sedih. Aku kehilangan. Mas Gagah yang kubanggakan kini entah kemana…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gagah! Mas! Mas Gagaaaaaahhh!” teriakku kesal sambil mengetuk pintu kamar Mas Gagah keras-keras. Tak ada jawaban. Padahal kata Mama, Mas Gagah ada di kamarnya. Kulihat stiker metalik di depan pintu kamar Mas Gagah. Tulisan berbahasa Arab gundul. Tak bisa kubaca. Tetapi aku bisa membaca artinya: Jangan masuk sebelum memberi salam!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalaamu’alaikum!”seruku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu kamar terbuka dan kulihat senyum lembut Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa alaikummussalaam warohmatullahi wabarokatuh. Ada apa Gita? Kok teriak-teriak seperti itu?” tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matiin kasetnya!”kataku sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho memangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita kesel bin sebel dengerin kasetnya Mas Gagah! Memangnya kita orang Arab…, masangnya kok lagu-lagu Arab gitu!” aku cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini Nasyid. Bukan sekedar nyanyian Arab tapi dzikir, Gita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bodo!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho, kamar ini kan daerah kekuasaannya Mas. Boleh Mas melakukan hal-hal yang Mas sukai dan Mas anggap baik di kamar sendiri,” kata Mas Gagah sabar. “Kemarin waktu Mas pasang di ruang tamu, Gita ngambek.., Mama bingung. Jadinya ya dipasang di kamar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kuping Gita terganggu Mas! Lagi asyik dengerin kaset Air Supply yang baru…,eh tiba-tiba terdengar suara aneh dari kamar Mas!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas kan pasang kasetnya pelan-pelan…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya kedengaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, wis. Kalau begitu Mas ganti aja dengan nasyid yang bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Bagus lho!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ndak, pokoknya Gita nggak mau denger!” Aku ngeloyor pergi sambil membanting pintu kamar Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heran. Aku benar-benar tak habis pikir mengapa selera musik Mas Gagah jadi begitu. Ke mana kaset-kaset Scorpion, Wham, Elton John, Queen, Eric Claptonnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah, ini nggak seperti itu Gita! Dengerin Scorpion atau Eric Clapton belum tentu mendatangkan manfaat, apalagi pahala. Lainlah ya dengan nasyid senandung islami. Gita mau denger? Ambil aja di kamar. Mas punya banyak kok!” begitu kata Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya perubahan Mas Gagah nggak Cuma itu. Banyak. Terlalu banyak malah! Meski aku cuma adik kecilnya yang baru kelas dua SMA, aku cukup jeli mengamati perubahan-perubahan itu. Walau bingung untuk mencernanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi kuakui Mas Gagah tambah alim. Shalat tepat waktu berjamaah di Mesjid, ngomongnya soal agama terus. Kalau aku iseng mengintip dari lubang kunci, ia pasti lagi ngaji atau membaca buku Islam. Dan kalau aku mampir ke kamarnya, ia dengan senang hati menguraikan isi buku yang dibacanya, atau malah menceramahiku. Ujung-ujungnya “Ayo dong Gita, lebih feminim. Kalau kamu mau pakai rok, Mas rela deh pecahin celengan buat beliin kamu rok atau baju panjang. Muslimah kan harus anggun. Coba adik manis, ngapain sih rambut ditrondolin begitu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uh. Padahal dulu Mas Gagah oke-oke saja melihat penampilanku yang tomboy. Dia tahu aku cuma punya dua rok! Ya rok seragam sekolah itu saja! Mas Gagah juga tidak pernah keberatan kalau aku meminjam baju kaos atau kemejanya. Ia sendiri dulu selalu memanggilku Gito, bukan Gita! Eh sekarang pakai panggil adik manis segala!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang nyebelin, penampilan Mas Gagah jadi aneh. Sering juga Mama menegurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Penampilanmu kok sekarang lain Gah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lain gimana Ma?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya nggak semodis dulu. Nggak dendy lagi. Biasanya kamu kan paling sibuk sama penampilan kamu yang kayak cover boy itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah cuma senyum. “Suka begini Ma. Bersih, rapi meski sederhana. Kelihatannya juga lebih santun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, dalam pandanganku Mas Gagah kelihatan menjadi lebih kuno, dengan kemeja lengan panjang atau baju koko yang dipadu dengan celana panjang semi baggy-nya. “Jadi mirip Pak Gino.” Komentarku menyamakannya dengan supir kami. “Untung aja masih lebih ganteng.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah cuma tertawa. Mengacak-acak rambutku dan berlalu. Mas Gagah lebih pendiam? Itu juga kurasakan. Sekarang Mas Gagah nggak kocak seperti dulu. Kayaknya dia juga males banget ngobrol lama dan bercanda sama perempuan. Teman-temanku bertanya-tanya. Thera, peragawati sebelah rumah kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan..yang paling gawat, Mas Gagah emoh salaman sama perempuan! Kupikir apa sih maunya Mas Gagah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sok kece banget sih Mas? Masak nggak mau jabatan tangan sama Tresye? Dia tuh cewek paling beken di sanggar Gita tahu?” tegurku suatu hari. “Jangan gitu dong. Sama aja nggak menghargai orang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Justru karena Mas menghargai dia, makanya Mas begitu,” dalihnya, lagi-lagi dengan nada yang amat sabar. “Gita lihat kan gaya orang Sunda salaman? Santun tetapi nggak sentuhan. Itu yang lebih benar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh, nggak mau salaman. Ngomong nunduk melulu…, sekarang bawa-bawa orang Sunda. Apa hubungannya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah membuka sebuah buku dan menyorongkannya kepadaku.”Baca!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca keras-keras. “Dari Aisyah ra. Demi Allah, demi Allah, demi Allah, Rasulullah Saw tidak pernah berjabatan tangan dengan wanita kecuali dengan mahromnya. Hadits Bukhori Muslim.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi Kyai Anwar mau salaman sama Mama. Haji Kari, Haji Toto, Ustadz Ali…,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukankah Rasulullah qudwatun hasanah? Teladan terbaik?” Kata Mas Gagah sambil mengusap kepalaku. “Coba untuk mengerti ya dik manis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dik manis? Coba untuk mengerti? Huh! Dan seperti biasa aku ngeloyor pergi dari kamar Mas Gagah dengan mangkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutku Mas Gagah terlalu fanatik. Aku jadi khawatir, apa dia lagi nuntut ilmu putih? Ah, aku juga takut kalau dia terbawa orang-orang sok agamis tapi ngawur. Namun akhirnya aku tidak berani menduga demikian. Mas Gagah orangnya cerdas sekali. Jenius malah. Umurnya baru dua puluh satu tahun tetapi sudah tingkat empat di FT-UI. Dan aku yakin mata batinnya jernih dan tajam. Hanya…yaaa akhir-akhir ini dia berubah. Itu saja. Kutarik napas dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau kemana Gita?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nonton sama temen-temen.” Kataku sambil mengenakan sepatu.”Habis Mas Gagah kalau diajak nonton sekarang kebanyakan nolaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikut Mas aja yuk!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ke mana? Ke tempat yang waktu itu lagi? Ogah. Gita kayak orang bego di sana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingat jelas. Beberapa waktu lalu Mas Gagah mengajak aku ke rumah temannya. Ada pengajian. Terus pernah juga aku diajak menghadiri tablig akbar di suatu tempat. Bayangin, berapa kali aku diliatin sama cewek lain yang kebanyakan berjilbab itu. Pasalnya aku ke sana dengan memakai kemeja lengan pendek, jeans belel dan ransel kumalku. Belum lagi rambut trondol yang tidak bisa disembunyiin. Sebenarnya Mas Gagah menyuruhku memakai baju panjang dan kerudung yang biasa Mama pakai ngaji. Aku nolak sambil ngancam nggak mau ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalamualaikum!” terdengar suara beberapa lelaki.&lt;br /&gt;Mas Gagah menjawab salam itu. Tak lama kulihat Mas Gagah dan teman-temannya di ruang tamu. Aku sudah hafal dengan teman-teman Mas Gagah. Masuk, lewat, nunduk-nunduk, nggak ngelirik aku…, persis kelakuannya Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lewat aja nih, Gita nggak dikenalin?”tanyaku iseng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu nggak ada teman Mas Gagah yang tak akrab denganku. Tapi sekarang, Mas Gagah bahkan nggak memperkenalkan mereka padaku. Padahal teman-temannya lumayan handsome.&lt;br /&gt;Mas Gagah menempelkan telunjuknya di bibir. “Ssssttt.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa aku bisa menebak kegiatan mereka. Pasti ngomongin soal-soal keislaman, diskusi, belajar baca Quran atau bahasa Arab… yaa begitu deh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Subhanallah, berarti kakak kamu ihkwan dong!” Seru Tika setengah histeris mendengar ceritaku. Teman akrabku ini memang sudah hampir sebulan berjilbab rapi. Memusiumkan semua jeans dan baju-baju you can see-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ikhwan?’ ulangku. “Makanan apaan tuh? Saudaranya bakwan atau tekwan?” Suaraku yang keras membuat beberapa makhluk di kantin sekolah melirik kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Husy, untuk laki-laki ikhwan dan untuk perempuan akhwat. Artinya saudara. Biasa dipakai untuk menyapa saudara seiman kita.” Ujar Tika sambil menghirup es kelapa mudanya. “Kamu tahu Hendra atau Isa kan? Aktivis Rohis kita itu contoh ikhwan paling nyata di sekolah ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manggut-manggut. Lagak Isa dan Hendra memang mirip Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah deh Git. Nggak usah bingung. Banyak baca buku Islam. Ngaji. Insya Allah kamu akan tahu menyeluruh tentang agama kita ini. Orang-orang seperti Hendra, Isa atau Mas Gagah bukanlah orang-orang yang error. Mereka hanya berusaha mengamalkan Islam dengan baik dan benar. Kitanya aja yang belum ngerti dan sering salah paham.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam. Kulihat kesungguhan di wajah bening Tika, sobat dekatku yang dulu tukang ngocol ini. Tiba-tiba di mataku ia menjelma begitu dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh kapan kamu main ke rumahku? Mama udah kangen tuh! Aku ingin kita tetap dekat Gita…mesti kita mempunyai pandangan yang berbeda, ” ujar Tika tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tik, aku kehilangan kamu. Aku juga kehilangan Mas Gagah…” kataku jujur. “Selama ini aku pura-pura cuek tak peduli. Aku sedih…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tika menepuk pundakku. Jilbab putihnya bergerak ditiup angin.” Aku senang kamu mau membicarakan hal ini denganku. Nginap di rumah, yuk, biar kita bisa cerita banyak. Sekalian kukenalkan dengan Mbak Ana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mbak Ana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sepupuku yang kuliah di Amerika! Lucu deh, pulang dari Amerika malah pakai jilbab. Ajaib. Itulah hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidayah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nginap ya. Kita ngobrol sampai malam dengan Mbak Ana!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Assalaamualaikum, Mas ikhwan.. eh Mas Gagah!” tegurku ramah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Eh adik Mas Gagah! Dari mana aja? Bubar sekolah bukannya langsung pulang!” Kata Mas Gagah pura-pura marah, usai menjawab salamku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari rumah Tika, teman sekolah, “jawabku pendek. “Lagi ngapain, Mas?”tanyaku sambil mengitari kamarnya. Kuamati beberapa poster, kaligrafi, gambar-gambar pejuang Palestina, Kashmir dan Bosnia. Puisi-puisi sufistik yang tertempel rapi di dinding kamar. Lalu dua rak koleksi buku keislaman…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cuma lagi baca!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buku apa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tumben kamu pingin tahu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunjukkin dong, Mas…buku apa sih?”desakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eiit…eiitt Mas Gagah berusaha menyembunyikan bukunya.&lt;br /&gt;Kugelitik kakinya. Dia tertawa dan menyerah. “Nih!”serunya memperlihatkan buku yang tengah dibacanya dengan wajah yang setengah memerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Naah yaaaa!”aku tertawa. Mas Gagah juga. Akhirnya kami bersama-sama membaca buku “Memilih Jodoh dan Tata Cara Meminang dalam Islam” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maaas…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa Dik Manis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita akhwat bukan sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya kenapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita akhwat atau bukan? Ayo jawab…” tanyaku manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tertawa. Sore itu dengan sabar dan panjang lebar, ia berbicara padaku. Tentang Allah, Rasulullah. Tentang ajaran Islam yang diabaikan dan tak dipahami umatnya. Tentang kaum Muslimin di dunia yang selalu menjadi sasaran fitnah serta pembantaian dan tentang hal-hal-lainnya. Dan untuk pertamakalinya setelah sekian lama, aku kembali menemukan Mas Gagahku yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah dengan semangat terus bicara. Terkadang ia tersenyum, sesaat sambil menitikan air mata. Hal yang tak pernah kulihat sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas kok nangis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas sedih karena Allah, Rasul dan Islam kini sering dianggap remeh. Sedih karena umat banyak meninggalkan Quran dan sunnah, juga berpecah belah. Sedih karena saat Mas bersenang-senang dan bisa beribadah dengan tenang, saudara-saudara seiman di belahan bumi lainnya sedang digorok lehernya, mengais-ngais makanan di jalan dan tidur beratap langit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat kami terdiam. Ah Mas Gagah yang gagah dan tegar ini ternyata sangat perasa. Sangat peduli…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok tumben Gita mau dengerin Mas ngomong?” Tanya Mas Gagah tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita capek marahan sama Mas Gagah!” ujarku sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya Gita ngerti yang Mas katakan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tenang aja. Gita ngerti kok!” kataku jujur. Ya, Mbak Ana juga pernah menerangkan demikian. Aku ngerti deh meskipun tidak begitu mendalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu aku tidur ditemani buku-buku milik Mas Gagah. Kayaknya aku dapat hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari berlalu. Aku dan Mas Gagah mulai dekat lagi seperti dulu. Meski aktifitas yang kami lakukan bersama kini berbeda dengan yang dulu. Kini tiap Minggu kami ke Sunda Kelapa atau Wali Songo, mendengarkan ceramah umum, atau ke tempat-tempat di mana tablig akbar digelar. Kadang cuma aku dan Mas Gagah. Kadang-kadang, bila sedikit terpaksa, Mama dan Papa juga ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa nggak bosan, Pa…tiap Minggu rutin mengunjungi relasi ini itu. Kebutuhan rohaninya kapan?” tegurku.Biasanya Papa hanya mencubit pipiku sambil menyahut, “Iya deh, iya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga Mas Gagah mengajakku ke acara pernikahan temannya. Aku sempat bingung, soalnya pengantinnya nggak bersanding tetapi terpisah. Tempat acaranya juga begitu. Dipisah antara lelaki dan perempuan. Terus bersama souvenir, para tamu juga diberi risalah nikah. Di sana ada dalil-dalil mengapa walimah mereka dilaksanakan seperti itu. Dalam perjalanan pulang, baru Mas Gagah memberi tahu bagaimana hakikat acara pernikahan dalam Islam. Acara itu tidak boleh menjadi ajang kemaksiatan dan kemubaziran. Harus Islami dan semacamnya. Ia juga mewanti-wanti agar aku tidak mengulangi ulah mengintip tempat cowok dari tempat cewek.&lt;br /&gt;Aku nyengir kuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Mas Gagah mulai senang pergi denganku, soalnya aku mulai bisa diatur. Pakai baju yang sopan, pakai rok panjang, ketawa nggak cekakaan.&lt;br /&gt;“Nyoba pakai jilbab. Git!” pinta Mas Gagah suatu ketika.&lt;br /&gt;“Lho, rambut Gita kan udah nggak trondol. Lagian belum mau deh jreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tersenyum. “Gita lebih anggun jika pakai jilbab dan lebih dicintai Allah kayak Mama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sudah beberapa hari ini Mama berjilbab, gara-garanya dinasihati terus sama Mas Gagah, dibeliin buku-buku tentang wanita, juga dikomporin oleh teman-teman pengajian beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita mau tapi nggak sekarang,” kataku. Aku memikirkan bagaimana dengan seabreg aktivitasku, prospek masa depan dan semacamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu bukan halangan.” Ujar Mas Gagah seolah mengerti jalan pikiranku.&lt;br /&gt;Aku menggelengkan kepala. Heran, Mama yang wanita karier itu cepat sekali terpengaruh dengan Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini hidayah, Gita.” Kata Mama. Papa yang duduk di samping beliau senyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hidayah? Perasaan Gita duluan yang dapat hidayah, baru Mama. Gita pakai rok aja udah hidayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho! ” Mas Gagah bengong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan penuh kebanggaan kutatap lekat wajah Mas Gagah. Gimana nggak bangga? Dalam acara studi tentang Islam yang diadakan FTUI untuk umum ini, Mas Gagah menjadi salah satu pembicaranya. Aku yang berada di antara ratusan peserta rasanya ingin berteriak, “Hei itu kan Mas Gagah-ku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah tampil tenang. Gaya penyampaiannya bagus, materi yang dibawakannya menarik dan retorikanya luar biasa. Semua hening mendengar ia bicara. Aku juga. Mas Gagah fasih mengeluarkan ayat-ayat Quran dan hadits. Menjawab semua pertanyaan dengan baik dan tuntas. Aku sempat bingung, “Lho Mas Gagah kok bisa sih?” Bahkan materi yang disampaikannya jauh lebih bagus daripada yang dibawakan oleh kyai-kyai kondang atau ustadz tenar yang biasa kudengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan itu Mas Gagah berbicara tentang Muslimah masa kini dan tantangannya dalam era globalisasi. “Betapa Islam yang jelas-jelas mengangkat harkat dan martabat wanita, dituduh mengekang wanita hanya karena mensyariatkan jilbab. Jilbab sebagai busana takwa, sebagai identitas Muslimah, diragukan bahkan oleh para muslimah kita, oleh orang Islam itu sendiri, ” kata Mas Gagah.&lt;br /&gt;Mas Gagah terus bicara. Kini tiap katanya kucatat di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lusa ulang tahunku. Dan hari ini sepulang sekolah, aku mampir ke rumah Tika. Minta diajarkan cara memakai jilbab yang rapi. Tuh anak sempat histeris juga. Mbak Ana senang dan berulang kali mengucap hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau kasih kejutan kepada Mas Gagah. Mama bisa dikompakin. Nanti sore aku akan mengejutkan Mas Gagah. Aku akan datang ke kamarnya memakai jilbab putihku. Kemudian mengajaknya jalan-jalan untuk persiapkan tasyakuran ulang tahun ketujuh belasku.&lt;br /&gt;Kubayangkan ia akan terkejut gembira. Memelukku. Apalagi aku ingin Mas Gagah yang memberi ceramah pada acara syukuran yang insya Allah akan mengundang teman-teman dan anak-anak yatim piatu dekat rumah kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas ikhwan! Mas Gagah! Maasss! Assalaamualaikum! Kuketuk pintu Mas Gagah dengan riang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gagah belum pulang. “kata Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yaaaaa, kemana sih, Ma??” keluhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kan diundang ceramah di Bogor. Katanya langsung berangkat dari kampus…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan-jangan nginep, Ma. Biasanya malam Minggu kan suka nginep di rumah temannya, atau di Mesjid. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Insya Allah nggak. Kan Mas Gagah ingat ada janji sama Gita hari ini.” Hibur Mama menepis gelisahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kugaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Entah mengapa aku kangen sekali sama Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Eh, jilbab Gita mencong-mencong tuh!” Mama tertawa.&lt;br /&gt;Tanganku sibuk merapikan jilbab yang kupakai. Tersenyum pada Mama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lepas Isya’ Mas Gagah belum pulang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin dalam perjalanan. Bogor kan lumayan jauh..” hibur Mama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi detik demi detik menit demi menit berlalu sampai jam sepuluh malam, Mas Gagah belum pulang juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nginap barangkali, Ma.” Duga Papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama menggeleng. “Kalau mau nginap Gagah selalu bilang, Pa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menghela napas panjang. Menguap. Ngantuk. Jilbab putih itu belum juga kulepaskan. Aku berharap Mas Gagah segera pulang dan melihatku memakainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kriiiinggg!” telpon berdering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa mengangkat telpon,”Hallo. Ya betul. Apa? Gagah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada apa, Pa.” Tanya Mama cemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gagah…kecelakaan…Rumah Sakit Islam…” suara Papa lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gagaaaaahhhh” Air mataku tumpah. Tubuhku lemas.&lt;br /&gt;Tak lama kami sudah dalam perjalanan menuju Cempaka Putih. Aku dan Mama menangis berangkulan. Jilbab kami basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari luar kamar kaca, kulihat tubuh Mas Gagah terbaring lemah. Kaki, tangan dan kepalanya penuh perban. Informasi yang kudengar sebuah truk menghantam mobil yang dikendarai Mas Gagah. Dua teman Mas Gagah tewas seketika sedang Mas Gagah kritis.&lt;br /&gt;Dokter melarang kami masuk ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tetapi saya Gita adiknya, Dok! Mas Gagah pasti mau melihat saya pakai jilbab ini.” Kataku emosi pada dokter dan suster di depanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama dengan lebih tenang merangkulku. “Sabar sayang, sabar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pojok ruangan Papa dengan serius berbicara dengan dokter yang khusus menangani Mas Gagah. Wajah mereka suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suster, Mas Gagah akan hidup terus kan, suster? Dokter? Ma?” tanyaku. “Papa, Mas Gagah bisa ceramah pada acara syukuran Gita kan?” Air mataku terus mengalir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada yang menjawab pertanyaanku kecuali kebisuan dinding-dinding putih rumah sakit. Dan dari kaca kamar, tubuh yang biasanya gagah dan enerjik itu bahkan tak bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas Gagah, sembuh ya, Mas…Mas..Gagah, Gita udah menjadi adik Mas yang manis. Mas..Gagah…” bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga jam kemudian kami masih berada di rumah sakit. Sekitar ruang ICU kini telah sepi. Tinggal kami dan seorang bapak paruh baya yang menunggui anaknya yang juga dalam kondisi kritis. Aku berdoa dan terus berdoa. Ya Allah, selamatkan Mas Gagah…Gita, Mama, Papa butuh Mas Gagah…umat juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama Dokter Joko yang menangani Mas Gagah menghampiri kami. “Ia sudah sadar dan memanggil nama Papa, Mama dan Gi..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita…” suaraku serak menahan tangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergunakan waktu yang ada untuk mendampinginya sesuai permintaannya. Sukar baginya untuk bertahan. Maafkan saya…lukanya terlalu parah.” Perkataan terakhir dokter Joko mengguncang perasaan, menghempaskan harapanku!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas…ini Gita Mas..” sapaku berbisik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mas Gagah bergerak sedikit. Bibirnya seolah ingin mengucapkan sesuatu.&lt;br /&gt;Kudekatkan wajahku kepadanya. “Gita sudah pakai jilbab, kataku lirih. Ujung jilbabku yang basah kusentuhkan pada tangannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Mas Gagah bergerak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dzikir…Mas.” Suaraku bergetar. Kupandang lekat-lekat tubuh Mas Gagah yang separuhnya memakai perban. Wajah itu begitu tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gi..ta…”&lt;br /&gt;Kudengar suara Mas Gagah! Ya Allah, pelan sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gita di sini, Mas…”&lt;br /&gt;Perlahan kelopak matanya terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tersenyum.”Gita…udah pakai…jilbab…” kutahan isakku.&lt;br /&gt;Memandangku lembut Mas Gagah tersenyum. Bibirnya seolah mengucapkan sesuatu seperti hamdallah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ngomong apa-apa dulu, Mas…” ujarku pelan ketika kulihat ia berusaha lagi untuk mengatakan sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mama dan Papa memberi isyarat untuk gantian. Ruang ICU memang tidak bisa dimasuki beramai-ramai. Dengan sedih aku keluar. Ya Allah…sesaat kulihat Mas Gagah tersenyum. Tulus sekali. Tak lama aku bisa menemui Mas Gagah lagi. Dokter mengatakan tampaknya Mas Gagah menginginkan kami semua berkumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kian lama kurasakan tubuh Mas gagah semakin pucat, tetapi sebentar-sebentar masih tampak bergerak. Tampaknya ia masih bisa mendengar apa yang kami katakan, meski hanya bisa membalasnya dengan senyuman dan isyarat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuusap setitik lagi air mata yang jatuh. “Sebut nama Allah banyak-banyak…Mas,” kataku sambil menggenggam tangannya. Aku sudah pasrah pada Allah. Aku sangat menginginkan Mas Gagah terus hidup, tetapi sebagai insan beriman sebagaimana yang juga diajarkan Mas Gagah, aku pasrah pada ketentuan Allah. Allah tentu tahu apa yang terbaik bagi Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laa…ilaaha…illa..llah…Muham…mad Ra..sul …Allah… suara Mas Gagah pelan, namun tak terlalu pelan untuk bisa kami dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Gagah telah kembali kepada Allah. Tenang sekali. Seulas senyum menghiasi wajahnya. Aku memeluk tubuh yang terbujur kaku dan dingin itu kuat-kuat. Mama dan Papa juga. Isak kami bersahutan walau kami rela dia pergi. Selamat jalan Mas Gagah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epilog:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubaca berulang kali kartu ucapan Mas Gagah. Keharuan memenuhi rongga-rongga dadaku. Gamis dan jilbab hijau muda, manis sekali. Akh, ternyata Mas Gagah telah mempersiapkan kado untuk hari ulang tahunku. Aku tersenyum miris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kupandangi kamar Mas Gagah yang kini lengang. Aku rindu panggilan dik manis, aku rindu suara nasyid. Rindu diskusi-diskusi di kamar ini. Rindu suara merdu Mas Gagah melantunkan kalam Illahi yang selamanya tiada kan kudengar lagi. Hanya wajah para mujahid di dinding kamar yang menatapku. Puisi-puisi sufistik yang seolah bergema d iruangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setitik air mataku jatuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, Gita akhwat bukan sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, insya Allah akhwat!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang bener?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, dik manis!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau ikhwan itu harus ada janggutnya, ya?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok nanya gitu sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lha, Mas Gagah kan ada janggutnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ganteng kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uuuuu! Eh, Mas, kita kudu jihad ya?” Jihad itu apa sih?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya always dong, jihad itu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setetes, dua tetes air mataku kian menganak sungai. Kumatikan lampu. Kututup pintu kamarnya pelan-pelan. Selamat jalan Mas Ikhwan!Selamat jalan Mas Gagah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat ukhti manis Gita Ayu Pratiwi, Semoga memperoleh umur yang berkah,&lt;br /&gt;Dan jadilah muslimah sejati&lt;br /&gt;Agar Allah selalu besertamu.&lt;br /&gt;Sun sayang,&lt;br /&gt;Mas Ikhwan, eh Mas Gagah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by Helvi Tyana Rosa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-9177759448945085540?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/9177759448945085540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/9177759448945085540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/ketika-mas-gagah-pergi.html' title='Ketika Mas Gagah Pergi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-4514546609012695226</id><published>2010-03-11T01:22:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T01:29:26.318-08:00</updated><title type='text'>Ketahuilah OlehMu</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 12"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;link rel="themeData" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_themedata.thmx"&gt;&lt;link rel="colorSchemeMapping" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CUser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtmlclip1%5C01%5Cclip_colorschememapping.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="&amp;#45;-"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Cambria Math"; 	panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1107304683 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Calibri; 	panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:swiss; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} @font-face 	{font-family:Pristina; 	panose-1:3 6 4 2 4 4 6 8 2 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:script; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-unhide:no; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	margin-top:0in; 	margin-right:0in; 	margin-bottom:10.0pt; 	margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault 	{mso-style-type:export-only; 	mso-default-props:yes; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:Calibri; 	mso-fareast-theme-font:minor-latin; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault 	{mso-style-type:export-only; 	margin-bottom:10.0pt; 	line-height:115%;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-priority:99; 	mso-style-qformat:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin-top:0in; 	mso-para-margin-right:0in; 	mso-para-margin-bottom:10.0pt; 	mso-para-margin-left:0in; 	line-height:115%; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:11.0pt; 	font-family:"Calibri","sans-serif"; 	mso-ascii-font-family:Calibri; 	mso-ascii-theme-font:minor-latin; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-theme-font:minor-fareast; 	mso-hansi-font-family:Calibri; 	mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Jika kau merasa lelah dan tak berdaya dari usaha yang sepertinya sia-sia.. &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SW&lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% white;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;tahu betapa keras engkau sudah berusaha.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika kau sudah menangis sekian lama dan hatimu masih terasa pedih...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;sudah menghitung airmatamu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Jika kau pikir bahwa hidupmu sedang menunggu sesuatu dan waktu serasa berlalu begitu saja...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;color:red;"   lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;sedang menunggu bersama denganmu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;Ketika kau merasa sendirian dan teman-temanmu terlalu sibuk untuk menelepon...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;selalu berada disampingmu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika kau pikir bahwa kau sudah mencoba segalanya dan tidak tahu hendak berbuat apa lagi...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;color:red;"   lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;punya jawabannya.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika segala sesuatu menjadi tidak masuk akal dan kau merasa tertekan...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;color:maroon;"   &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  &gt;dapat menenangkanmu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  &gt;Jika tiba-tiba kau dapat melihat jejak-jejak harapan...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;sedang berbisik kepadamu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika segala sesuatu berjalan lancar dan kau merasa ingin mengucap syukur... &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;color:maroon;"   lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;telah memberkatimu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika sesuatu yang indah terjadi dan kau dipenuhi ketakjuban..&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;color:navy;"   lang="SV" &gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="SV" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;color:maroon;"   lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="SV" &gt;telah tersenyum padamu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="SV" &gt;Ketika kau memiliki tujuan untuk dipenuhi dan mimpi untuk digenapi...&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  lang="SV" &gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  lang="FI" &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  lang="FI" &gt; sudah membuka matamu dan memanggilmu dengan namamu.&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;color:navy;"   lang="FI" &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:10pt;"  lang="FI" &gt;Ingat bahwa dimanapun kau atau kemanapun kau menghadap... &lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal; text-align: left;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;"  &gt;Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:18pt;color:red;"   &gt; &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:13.5pt;"  &gt;TAHU .......&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-4514546609012695226?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4514546609012695226'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4514546609012695226'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/ketahuilah-olehmu.html' title='Ketahuilah OlehMu'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1551780141411148942</id><published>2010-03-10T21:09:00.000-08:00</published><updated>2010-03-11T01:22:40.528-08:00</updated><title type='text'>what friends are for</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;A Friend...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;A&lt;/strong&gt;ccepts You For Who You Are&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;B&lt;/strong&gt;elieves In You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;C&lt;/strong&gt;onfides In You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;D&lt;/strong&gt;oes Not Give Up On You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;E&lt;/strong&gt;nvisions The Best For You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;F&lt;/strong&gt;orgives You For Your Mistakes&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;G&lt;/strong&gt;ives Unconditionally&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;H&lt;/strong&gt;elps You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;I&lt;/strong&gt;nvites You Over&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;J&lt;/strong&gt;ust being There For You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;K&lt;/strong&gt;eeps You Close At Heart&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;L&lt;/strong&gt;oves You For Who You Are&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;M&lt;/strong&gt;akes a Difference in Your Life&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;N&lt;/strong&gt;ever Lies To You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;O&lt;/strong&gt;ffers an Ear&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;P&lt;/strong&gt;icks You Up When Your Down&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Q&lt;/strong&gt;uiets Your Fears&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;R&lt;/strong&gt;aises Your Spirits&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;S&lt;/strong&gt;ays Nothing But Good Things About You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;T&lt;/strong&gt;ells You The Truth When You Need To Hear It&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;U&lt;/strong&gt;nderstands You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;V&lt;/strong&gt;alues You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;W&lt;/strong&gt;alks Beside You&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;X&lt;/strong&gt;-plains Things You Don't Understand&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Y&lt;/strong&gt;ells When You Won't Listen And&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Z&lt;/strong&gt;aps You Back To Reality When You Need it Most!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : http://diyanatahir.multiply.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1551780141411148942?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1551780141411148942'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1551780141411148942'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/what-friends-are-for.html' title='what friends are for'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3589624736702659385</id><published>2010-03-10T01:19:00.000-08:00</published><updated>2010-03-18T02:23:41.698-07:00</updated><title type='text'>E-Book lagi ni</title><content type='html'>&lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;&lt;strong&gt;1). MP3 ESQ&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;-&lt;a href="http://ivandrio.wordpress.com/2009/07/20/download-esq-gratiss/" target="_blank"&gt;Download Disini&lt;/a&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2). EBOOK ARTIKEL MENARIK!&lt;/strong&gt; &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="color: rgb(128, 0, 0);"&gt;KEKUATAN SHOLAT MALAM-PART-1&lt;/span&gt;(&lt;a href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;amp;site=ivandrio.wordpress.com&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.ziddu.com%2Fdownload%2F4216718%2FKEKUATANSHOLATMALAM-PART1.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KEKUATAN SHOLAT MALAM-PART-2(&lt;a href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;amp;site=ivandrio.wordpress.com&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.ziddu.com%2Fdownload%2F4216719%2FKEKUATANSHOLATMALAM-PART2.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tersenyum Dalam Syukur (&lt;span style="color:blue;"&gt;&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4216720/TersenyumDalamSyukur.zip.html" target="_blank"&gt;Download di sin&lt;/a&gt;i&lt;/span&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Mengenal Teknik Kimia (&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4216716/MengenalTeknikKimia.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Definisi : Hakikat Niat dan Energi Niat-1(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4217597/HakikatNiat1.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Definisi : Hakikat Niat dan Energi Niat-2(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4217600/HakikatNiat2.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Risalah Doa(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4217599/RisalahDoa.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Do&lt;/span&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;wnload di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ternyata itu Sunnatullah…!.(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4217598/TernyataituSunnatullah....zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;        &lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;EBOOK ISLAMI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Laa_Tahzan(Untuk Ponsel (jar-file )(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4216643/Laa_Tahzan.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Cahaya_Keindahan_Islam(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205885/Sepercik20Cahaya20Keindahan20Islam.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;ENERGI_NIAT[Untuk Ponsel (jar-file )](&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4216642/ENERGI_NIAT.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bukti_kebenaran_alquran(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205881/Bukti_kebenaran_alquran.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KITABTAUHID(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205890/KITABTAUHID.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kisah_Mualaf(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205889/Kisah20Mualaf.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Artikel_Eramuslim(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205887/Artikel_Eramuslim.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;10_alasan(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4205891/10_alasan.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada_Apa_Dengan_NIAT( UNTUK PONSEL ) (&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4216644/Ada_Apa_Dengan_NIAT.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;                               &lt;p&gt;EBOOK MOTIVASI&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Mindset_Sukses (&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4218075/3.Mindset_Sukses.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari_Tidak_Bisa_Menjadi_Bisa(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4218078/8.Dari_Tidak_Bisa_Menjadi_Bisa.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kata_Kata_Inspiratif_Mario_Teguh (&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4218080/6.Kata_Kata_Inspiratif_Mario_Teguh.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;  &lt;p&gt;EBOOK KOMPUTER&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Trik_Seputar_Komputer(&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4218077/2.Trik_Seputar_Komputer.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Panduan_Membuat_Cover_Ebook (&lt;a href="http://www.ziddu.com/download/4218079/7.Panduan_Membuat_Cover_Ebook.zip.html" target="_blank"&gt;&lt;span style="color:blue;"&gt;Download di sini&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sumber : http://ivandrio.wordpress.com&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3589624736702659385?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3589624736702659385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3589624736702659385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/e-book-lagi-ni.html' title='E-Book lagi ni'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7825924701310681603</id><published>2010-03-09T20:10:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T20:14:00.500-08:00</updated><title type='text'>Materi Tarbiyah Digital</title><content type='html'>&lt;div class="wp-caption aligncenter" style="width: 350px;"&gt;&lt;img src="http://akhdian.files.wordpress.com/2009/08/image-158.jpg?w=340&amp;amp;h=249" alt="Image" width="340" height="249" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt; Materi ini disusun oleh Tim dari iLiy Press ; Junaidi Irsyadurahiim, Yaumi Kusuma  Dewi, Purwanto Abd Al-Ghaffar ini memiliki format .chm. Materi tarbiyah  dilengkapi pula dengan Alquran 30 juz, juga klasifikasi tema di dalam  Alquran plus kumpulan hadits yang diklasifikasikan berdasarkan banyak  tema, sehingga pengguna dapat mencari jawaban dengan cepat atas berbagai  persoalan yang muncul.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-2377"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berikut ini materi yang ada di e-book ini :&lt;/p&gt; &lt;p align="center"&gt;&lt;img src="http://akhdian.files.wordpress.com/2009/08/image-157.jpg?w=295&amp;amp;h=527" alt="Image" width="295" height="527" /&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Link Download&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;ul&gt;&lt;li&gt; &lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;a href="http://go2.wordpress.com/?id=725X1342&amp;amp;site=akhdian.wordpress.com&amp;amp;url=http%3A%2F%2Fwww.mediafire.com%2F%3Fmzmznzdmmmj" target="_blank"&gt;Materi Tarbiyah&lt;/a&gt; (.rar, 31 MB)&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber : http://akhdian.net/&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7825924701310681603?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7825924701310681603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7825924701310681603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/materi-tarbiyah-materi-ini-disusun-oleh.html' title='Materi Tarbiyah Digital'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8476061143210015258</id><published>2010-03-09T19:52:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T20:00:48.665-08:00</updated><title type='text'>Download Campursari</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;soal cpns - kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/soal_cpns_-_kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud.htm" title="soal cpns -  kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud"&gt;soal cpns -  kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Materi Pelatihan  Pengusahaan Bisnis Catering&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/materi_pelatihan_pengusahaan_bisnis_catering.htm" title="Materi Pelatihan Pengusahaan Bisnis Catering"&gt;materi pelatihan  pengusahaan bisnis catering .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Test  Bakat Skolastik 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_test_bakat_skolastik_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Test Bakat Skolastik 20 pdf"&gt;kumpulan soal test  bakat skolastik 20 pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Tata Negara 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_tata_negara_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Tata Negara 20 pdf"&gt;kumpulan soal tata negara 20  pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Pengetahuan Umum 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_pengetahuan_umum_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Pengetahuan Umum 20 pdf"&gt;kumpulan soal pengetahuan  umum 20 pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Pancasila 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_pancasila_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Pancasila 20 pdf"&gt;kumpulan soal pancasila 20 pdf  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KUMPULAN SOAL LATIHAN UJIAN PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_latihan_ujian_penerimaan_calon_pegawai_negeri_sipil.htm" title="KUMPULAN SOAL LATIHAN UJIAN PENERIMAAN CALON PEGAWAI NEGERI  SIPIL"&gt;kumpulan soal latihan ujian penerimaan calon pegawai negeri sipil  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan soal kemampuan dasar um-ugm 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_kemampuan_dasar_um-ugm_20_pdf.htm" title="kumpulan soal kemampuan dasar um-ugm 20 pdf"&gt;kumpulan soal  kemampuan dasar um-ugm 20 pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Kebijakan  Pemerintah 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_kebijakan_pemerintah_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Kebijakan Pemerintah 20 pdf"&gt;kumpulan soal  kebijakan pemerintah 20 pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal dan  Penyelesaian&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_dan_penyelesaian.htm" title="Kumpulan Soal dan Penyelesaian"&gt;kumpulan soal dan penyelesaian  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal CPNS 2&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_cpns_2.htm" title="Kumpulan Soal CPNS 2"&gt;kumpulan soal cpns 2 .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan  soal cpns&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_cpns.htm" title="kumpulan soal cpns"&gt;kumpulan soal cpns .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan metode pembelajaran pendampingan&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_metode_pembelajaran_pendampingan.htm" title="kumpulan metode pembelajaran pendampingan"&gt;kumpulan metode  pembelajaran pendampingan .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Bisnis&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_bisnis.htm" title="Kumpulan Bisnis"&gt;kumpulan bisnis .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud.htm" title="kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud"&gt;kumpulan-soal-tata-negara-falsafah-ideologi-sejarah-uud   .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan-soal-jawab-teori-sim&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan-soal-jawab-teori-sim.htm" title="kumpulan-soal-jawab-teori-sim"&gt;kumpulan-soal-jawab-teori-sim  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan-bisnis&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan-bisnis.htm" title="kumpulan-bisnis"&gt;kumpulan-bisnis .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan-peluang-bisnis-online&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan-peluang-bisnis-online.htm" title="kumpulan-peluang-bisnis-online"&gt;kumpulan-peluang-bisnis-online  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan  Soal B Indonesia - pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_b_indonesia_-_pdf.htm" title="Kumpulan Soal B Indonesia - pdf"&gt;kumpulan soal b indonesia - pdf  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan Soal Bahasa Indonesia 20 pdf&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_soal_bahasa_indonesia_20_pdf.htm" title="Kumpulan Soal Bahasa Indonesia 20 pdf"&gt;kumpulan soal bahasa  indonesia 20 pdf .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;KUMPULAN SITUS CPNS&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_situs_cpns.htm" title="KUMPULAN SITUS CPNS"&gt;kumpulan situs cpns .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber : http://blog.re.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8476061143210015258?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8476061143210015258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8476061143210015258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/download-campursari.html' title='Download Campursari'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-54846279203715092</id><published>2010-03-09T19:51:00.000-08:00</published><updated>2010-03-09T20:01:08.166-08:00</updated><title type='text'>Download Kumpulan Doa</title><content type='html'>&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Kumpulan doa munajat reflektif&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa_munajat_reflektif.htm" title="Kumpulan Doa Munajat Reflektif"&gt;kumpulan doa munajat reflektif  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kumpulan doa harian&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa_harian.htm" title="kumpulan doa harian"&gt;kumpulan doa harian .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan doa dalam al-quran dan sunnah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa_dalam_al-quran_dan_sunnah.htm" title="kumpulan doa dalam al-quran dan sunnah"&gt;kumpulan doa dalam  al-quran dan sunnah .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan doa &amp;amp; dzikir nabawi&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa_&amp;amp;_dzikir_nabawi.htm" title="kumpulan doa &amp;amp; dzikir nabawi"&gt;kumpulan doa &amp;amp; dzikir  nabawi .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan doa&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa.htm" title="kumpulan doa"&gt;kumpulan doa .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;kumpulan-doa-dalam-al-quran-dan-sunnah&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan-doa-dalam-al-quran-dan-sunnah.htm" title="kumpulan-doa-dalam-al-quran-dan-sunnah"&gt;kumpulan-doa-dalam-al-quran-dan-sunnah  .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;hadits arbain dan kumpulan doa lengkap&lt;br /&gt;&lt;a href="http://blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/hadits_arbain_dan_kumpulan_doa_lengkap.htm" title="hadits arbain dan kumpulan doa lengkap"&gt;hadits arbain dan  kumpulan doa lengkap .pdf&lt;/a&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Sumber : http://blog.re.or.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-54846279203715092?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/54846279203715092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/54846279203715092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/download-kumpulan-doa.html' title='Download Kumpulan Doa'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1187281343913398227</id><published>2010-03-05T00:22:00.000-08:00</published><updated>2010-03-05T00:35:35.064-08:00</updated><title type='text'>Open Your Eyes</title><content type='html'>&lt;div class="title"&gt;Waktu dengar radio online MqFM, ada lagu yang menarik pendengaran saya yaitu open your Eyes kemudian saya cari sama paman google dan liat di youtube ternyata lagu asik . Memang benar bahwa kita jarang sekali menyadari akan kebesaran Allah Sang Pemilik Alam Semesta. Kita selalu lupa untuk bersyukur. Saya malu kepada Allah krn Allah telah memberikan nikmat yang begitu banyak  bagi kehidupan saya. Segala Puji bagi Allah yang telah menciptakan alam semesta dan seluruh isinya. Mari kita sama bertanya pada diri kita, &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;"maka nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Open Your Eyes&lt;/div&gt;  &lt;div class="attr"&gt;(Maher Zain)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;Open Your Eyes&lt;br /&gt;&lt;div class="text"&gt; Look around yourselves&lt;br /&gt;Can't you see this wonder&lt;br /&gt;Spreaded in front of you&lt;br /&gt;The clouds floating by&lt;br /&gt;The skies are clear and blue&lt;br /&gt;Planets in the orbits&lt;br /&gt;The moon and the sun&lt;br /&gt;Such perfect harmony&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Let's start question in ourselves&lt;br /&gt;Isn't this proof enough for us&lt;br /&gt;Or are we so blind&lt;br /&gt;To push it all aside..&lt;br /&gt;No..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We just have to&lt;br /&gt;Open our eyes, our hearts, and minds&lt;br /&gt;If we just look bright to see the signs&lt;br /&gt;We can't keep hiding from the truth&lt;br /&gt;Let it take us by surprise&lt;br /&gt;Take us in the best way&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Guide us every single day..&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Keep us close to You&lt;br /&gt;Until the end of time..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Look inside yourselves&lt;br /&gt;Such a perfect order&lt;br /&gt;Hiding in yourselves&lt;br /&gt;Running in your veins&lt;br /&gt;What about anger love and pain&lt;br /&gt;And all the things you're feeling&lt;br /&gt;Can you touch them with your hand?&lt;br /&gt;So are they really there?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lets start question in ourselves&lt;br /&gt;Isn't this proof enough for us?&lt;br /&gt;Or are we so blind&lt;br /&gt;To push it all aside..?&lt;br /&gt;No..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We just have to&lt;br /&gt;Open our eyes, our hearts, and minds&lt;br /&gt;If we just look bright to see the signs&lt;br /&gt;We can't keep hiding from the truth&lt;br /&gt;Let it take us by surprise&lt;br /&gt;Take us in the best way&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Guide us every single day..&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Keep us close to You&lt;br /&gt;Until the end of time..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When a baby's born&lt;br /&gt;So helpless and weak&lt;br /&gt;And you're watching him growing..&lt;br /&gt;So why deny&lt;br /&gt;Whats in front of your eyes&lt;br /&gt;The biggest miracle of life..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;We just have to&lt;br /&gt;Open our eyes, our hearts, and minds&lt;br /&gt;If we just look quiet we'll see the signs&lt;br /&gt;We can't keep hiding from the truth&lt;br /&gt;Let it take us by surprise&lt;br /&gt;Take us in the best way&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Guide us every single day..&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Keep us close to You&lt;br /&gt;Until the end of time..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Open your eyes and hearts and minds&lt;br /&gt;If you just look bright to see the signs&lt;br /&gt;We can't keep hiding from the truth&lt;br /&gt;Let it take us by surprise&lt;br /&gt;Take us in the best way&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Guide us every single day..&lt;br /&gt;(Allah..)&lt;br /&gt;Keep us close to You&lt;br /&gt;Until the end of time..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah..&lt;br /&gt;You created everything&lt;br /&gt;We belong to You&lt;br /&gt;Ya Robb we raise our hands&lt;br /&gt;Forever we thank You..&lt;br /&gt;الحمد الله&lt;br /&gt;Alhamdulillah..   &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1187281343913398227?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1187281343913398227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1187281343913398227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/03/open-your-eyes.html' title='Open Your Eyes'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3755871233361493965</id><published>2010-01-20T01:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T01:50:50.301-08:00</updated><title type='text'>3 X 8 = 23</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui adalah murid kesayangan Confucius yang suka belajar, sifatnya baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat satu toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pembeli berteriak: "3 X 8 = 23, kenapa kamu bilang 24?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: "Sobat, 3 X 8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: "Siapa minta pendapatmu? Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui: "Baik, jika Confucius bilang kamu salah, bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pembeli kain: "Kalau Confucius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui: "Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi mencari Confucius. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Setelah Confucius tahu duduk persoalannya, Confucius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: "3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Berikan jabatanmu kepada dia."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Ketika mendengar Confucius berkata dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confucius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confucius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya. Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi cuti padanya. Sebelum berangkat, Yan Hui pamitan dan Confucius memintanya cepat kembali setelah urusannya  selesai, dan memberi Yan Hui dua nasihat : "Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui menjawab, "Baiklah," lalu berangkat pulang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Di dalam perjalanan tiba-tiba angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah mau turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba-tiba ingat nasihat Confucius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui terkejut, nasihat gurunya yang pertama sudah terbukti.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Apakah saya akan membunuh orang?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui tiba di rumahnya saat malam sudah larut dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia menggunakan pedangnya untuk membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan mau menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasihat Confucius, jangan membunuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur disamping istrinya adalah adik istrinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confucius, berlutut dan berkata: "Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Confucius berkata: "Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung dibawah pohon. Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh".&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui berkata: "Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Jawab Confucius : &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;"Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : "Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun. Murid benar2 malu."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size: 10pt;"&gt;Sejak itu, kemanapun Confucius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3755871233361493965?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3755871233361493965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3755871233361493965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/3-x-8-23.html' title='3 X 8 = 23'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7380088417381015561</id><published>2010-01-19T23:50:00.001-08:00</published><updated>2010-01-19T23:59:28.052-08:00</updated><title type='text'>Anak Yang Luar Biasa</title><content type='html'>Oleh Sherly Lim&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisanku kali ini berawal dari seorang teman yang bertanya mengenai kehidupan vegetarianku dan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Anakku Gracelyn merupakan sumber inspirasiku mengenai banyak hal dalam hidup ini...Percaya atau tidak, Aku belajar banyak dari putriku sedari dia berumur 3 tahun..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika Gracelyn berusia 3 tahun, kami baru saja menetap di kota New York ini..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu kami sedang jalan jalan pagi karena udara disini memang segar dan bersih..Saat berjalan diantara pertokoan, kami melewati banyak restoran... dan banyak restoran yang menjual dengan menggantung ayam, bebek, dan lain lainnya utuh di etalase restorannya...Putriku Gracelyn yang masih dalam stroller meminta aku berhenti sebentar karena dia ingin melihat dengan jelas..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What's that mommy ?", tanyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Its meat..." Daging kataku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What do you mean "MEAT" ?, tanyanya lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu daging ayam, bebek ... nak" jawabku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why ?" Why they hang them there ?" Mengapa digantung disana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Because people wanna buy them and eat them".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why people eat animal mommy ?" Mengapa manusia makan binatang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Because they like it..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putriku Gracelyn dengan matanya yang bundar berkaca kaca.... hampir menangis dia..&lt;br /&gt;"Why people have to eat them? How about the mother duck and all the chicken kids?? They must be very sad if they can't meet their family again. Did you have enough money in your bag now mommy?" us makan mereka? (Mengapa manusia harus makan mereka? Bagaimana nasib anak-anak bebek dan ayam-ayam tersebut? Mereka pasti sangat sedih jika tidak bisa bertemu keluarga mereka lagi. Apakah Mami punya uang yang cukup di saku mami sekarang?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why do you need money honey ?" tanyaku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Because I want you to buy all the meat there, so people can't eat them !" Saya mau membeli semuanya supaya orang tidak bisa memakannya lagi..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasa dadaku sesak karena melihat bulir2 air mata kristal penuh kasih dari anakku yang baru berusia 3 tahun...aku tidak pernah mengajarkan dia tentang hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mommy mungkin bisa membeli daging ditoko ini, tapi kamu lihat begitu banyak toko-toko lainnya....juga menjual daging daging itu sayang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari itu, aku benar benar sadar......Anakku memang cuma umur tiga tahun.... tapi Tuhan memberi hati cinta kasih tidak memandang umur ...betapa aku belajar darinya mengerti arti sesungguhnya KASIH.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang di usianya yang ke 10, dengan jelas dan CONFIRM dia selalu mengatakan.. "Animals also GOD creation like us "HUMAN"... but different name and shape" Binatang-binatang adalah juga ciptaan Tuhan sama dengan kita, cuma beda nama dan bentuk saja. Mengapa kita makan binatang dan binatang tidak makan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya binatang buas yang makan segala, dan apakah kita juga buas?"Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari pikirannya dikarenakan di dalam hatinya merasa ketidak mengertian mengenai hal yang ternyata sangatlah penting bagi kelangsungan hidup makhluk ciptaan Tuhan lainnya tetapi tidak bisa diterima oleh kita manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diusianya sekarang Grace sudah membuat beberapa sahabatnya berbagai bangsa menjadi vegetarian dan orang tua merekapun bertanya padaku mengenai menu apakah yang biasa saya berikan pada anak. Biarpun disekolah setiap siang disediakan menu makanan yang berbeda... Grace tidak pernah mau makan menu disekolah, bila ditanya Guru ataupun temannya, dengan tegas dia menjawab 'I AM VEGETARIAN !Bahkan dengan bangga dia makan Lunch yang kubuat dari rumah dan dia selalu bercerita setelah pulang sekolah bahwa teman temannya selalu sangatlah curious ingin tau apa yang dibawanya hari itu :) dan selalu menjadi rebutan untuk dicicipi.. hahhaha. Tetapi biasanya sekarang ini sudah banyak menu Vegetarian seperti Salad, Tomatto Rice with beans, dan lain lainnya karena ada juga anak anak yang vegetarian di sekolahya dan juga program pemerintah untuk membiasakan anak anak di sini untuk makan sayuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu Gurunya bertanya, bagaimana Gracelyn bisa bervegetarian sedangkan dia susah sekali untuk memulainya... dan Gurunya berjanji untuk hidup bervegetarian sejak saat itu.. hahhahaa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gracelyn tumbuh sehat, seperti bisa dilihat dari foto-foto yang ada di profile facebookku :)Dia juga menjadi favourite dari para guru di sekolahnya karena daya serapnya yang baik dan juga pribadinya yang ramah dan etika. Jadi tidak ada hubungan Vegetarian bisa membuat kita menjadi kurang gizi, kurus kering (hahaha), bodoh apalagi bo hoki (tak ada rejeki).... hahhahaha. Malahan bagi kami hidup bervegetarian membuat kami hidup lebih sehat, leluasa karena hati nurani kami tidak terbebani dengan perasaan bersalah dan sedih memakan binatang tersebut :) dan juga lebih fresh dan ringan bila makan banyak sayuran..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku selalu berdoa pada Tuhan, "Terima kasih Engkau telah percayakan aku seorang anak yang penuh dengan hati kasih.. Berilah aku kebijaksanaan menjadi seorang mama yang bisa membimbingnya menjadi manusia yang berguna bagi seluruh makhluk di muka bumi ini. Aku menghargai anakku sebagai SEORANG salah satu ciptaan Tuhan yang begitu indah... aku selalu berusaha menggunakan komunikasi, tukar pikiran dengannya... aku tidak mau mematahkan setiap ide ataupun tanggapannya... karena aku mau putriku belajar bahwa dia adalah seorang manusia yang maksud dan idenya juga dihargai dan didengar.... tetapi tentu saja keputusannya adalah yang benar, yang terbaik dan terbijaksana. Biar dia tahu menghargai keberadaannya sebagai seorang manusia sehingga juga menghargai keberhargaan orang lain dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup bervegetarian adalah GAYA HIDUP manusia zaman sekarang, (sorry, negara maju duluan ya, hihihi)terutama di United States New york, negara Eropa, kita bisa melihat kesadaran manusia disini terhadap hidup vegetarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GO GREEN, GO VEGE, EAT MORE VEGETABLES ON YOUR MEAL... itu adalah slogan2 dimana mana. Pemerintah saja sudah kelabakan karena banyaknya penduduk yang obesitas jadi sakit sakitan dan menggunakan banyak uang negara untuk membeli obat, jadi salah satu cara adalah mempropagandakan mengenai HIDUP SEHAT, kurangi makan daging, dairy food, perbanyak makan sayuran, biji-bijian gandum yang sangat terkenal dengan fibernya... dan juga olah raga yang rutin. Seperti Mc Donald, sekarang telah menyediakan menu chicken salad, seporsi salad yang besar dengan beberapa potong daging ayam saja dan lain lainnya. Belum lagi banyaknya penyakit-penyakit baru seperti flu burung, mad cow sapi gila, dan yang terakhir adalah flu babi yang menurut perkiraan akan banyak memakan nyawa di akhir tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa pada saat penyakit ini datang kita begitu takut? Sedangkan kita tidak pernah berpikir tentang ketakutan hewan hewan itu ketika ingin di sembelih? Mengapa penyakit-penyakit ini tidak ada dulunya ? Karena sekarang terlalu di 'EXPOSS" berlebihannya penyembelihan, pemotongan hewan-hewan ... yang kiranya bila Anda "BERANI" lihat bukalah salah satu website seperti PETA.. bagaimana dengan nyata melihat bagaimana proses datangnya sepotong daging yang di siapkan sampai meja makan kita. :(Kalau kita bilang kita adalah anak Tuhan yang penuh dengan kasih, lalu bagaimana dengan makhluk ciptaan lain yang juga adalah anak anak Tuhan yang kita sembelih? Apakah benar kita berharap Seluruh makhluk berbahagia sedangkan mereka tersiksa kesakitan dan ketakutan karena kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa temanku bilang, salahkan tukang ternak karena tanpa dia tukang jagal tidak akan menjual,ada yang bilang salahkan tukang jagal, salahkan tukang jual daging tanpa mereka kita tidak beli....kita memang paling pinter memutar balik fakta ya.. ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya bila kita tidak mengkonsumsi lagi daging daging hewan itu, maka tidak akan ada lagi peternak, penjagal ... :) Semua ini wujud dari CINTA KASIH yang terlepas dari unsur agama atau ajaran apa saja. dan Bumi kita ini akan penuh dengan keharmonisan :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tulisanku ini bisa menginspirasi mami mami lainnya tanpa ragu memberi anak anaknya menjadi vegetarian tentu saja dengan menu yang sesuai dengan gizi yang seimbang.. :) Dan yang terpenting adalah Semoga seluruh makhluk didunia ini berbahagia ...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7380088417381015561?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7380088417381015561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7380088417381015561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/anak-yang-luar-biasa.html' title='Anak Yang Luar Biasa'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1112099645488926043</id><published>2010-01-17T19:27:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T19:29:40.947-08:00</updated><title type='text'>Cerita tempayan rusak (sharing from kaskus)</title><content type='html'>Seorang tukang air di India memiliki dua tempayan besar, masing-masing&lt;br /&gt;bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawanya menyilang pada bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak.&lt;br /&gt;Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah&lt;br /&gt;perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan retak itu&lt;br /&gt;hanya dapat membawa air setengah penuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat&lt;br /&gt;membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si&lt;br /&gt;tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, karena dapat&lt;br /&gt;menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanny a dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya dapat diberikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu&lt;br /&gt;berkata kepada si tukang air,&lt;br /&gt;"Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu."&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya si tukang air.&lt;br /&gt;"Kenapa kamu merasa malu?"&lt;br /&gt;"Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa karena adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuatmu rugi," kata tempayan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas&lt;br /&gt;kasihannya, ia berkata, "Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin&lt;br /&gt;kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan."&lt;br /&gt;Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan. Itu&lt;br /&gt;membuatnya sedikit terhibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih karena separuh air yang&lt;br /&gt;dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si&lt;br /&gt;tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu,&lt;br /&gt;"Apakah kamu memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu? Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku&lt;br /&gt;memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu&lt;br /&gt;mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik&lt;br /&gt;bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita.&lt;br /&gt;Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias&lt;br /&gt;rumahnya seindah sekarang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua&lt;br /&gt;adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan&lt;br /&gt;kekurangan kita untuk menghias dunianya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak&lt;br /&gt;ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekuranganmu.&lt;br /&gt;Kenalilah kelemahanmu dan kamu pun dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.&lt;br /&gt;Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1112099645488926043?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1112099645488926043'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1112099645488926043'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/cerita-tempayan-rusak-sharing-from.html' title='Cerita tempayan rusak (sharing from kaskus)'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8809480044501452681</id><published>2010-01-17T19:23:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T19:24:26.615-08:00</updated><title type='text'>a short story with a beautiful message</title><content type='html'>Here is a short story with a beautiful message...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Little girl and her father were crossing a bridge.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The father was kind of scared so he asked his little daughter,&lt;br /&gt;'Sweetheart, please hold my hand so that you don't fall into the river.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The little girl said, 'No, Dad. You hold my hand.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'What's the difference?' Asked the puzzled father.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'There's a big difference,' replied the little girl.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'If I hold your hand and something happens to me, chances are that I may&lt;br /&gt;let your hand go. But if you hold my hand, I know for sure that no matter&lt;br /&gt;what happens, you will never let my hand go.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In any relationship, the essence of trust is not in its bind, but in its&lt;br /&gt;bond.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So hold the hand of the person who loves you rather than expecting them to&lt;br /&gt;hold yours...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8809480044501452681?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8809480044501452681'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8809480044501452681'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/short-story-with-beautiful-message.html' title='a short story with a beautiful message'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-234998464007597753</id><published>2010-01-17T18:58:00.000-08:00</published><updated>2010-01-17T19:05:02.504-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana kita memandang beban hidup</title><content type='html'>Stres muncul disebabkan beban berat , tetapi berapa lamanya kita memikul&lt;br /&gt;beban tersebut. Stephen Covey membuat simulasi pada saat dia memberikan mata kuliah manajemen stress sebagai berikut : dia mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut anda kira segelas air ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para siswa menjawab mulai dari 200gr sampai 500gr. "Ini bukanlah masalah&lt;br /&gt;berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama anda memegangnya. " kata Covey.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika saya memegangnya selama 1menit, tidak ada masalah. Jika saya&lt;br /&gt;memegangnya selama 1jam,lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya&lt;br /&gt;memegangnya selama 1hari penuh, mungkin anda harus memanggilkan ambulans&lt;br /&gt;untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya,&lt;br /&gt;maka bebannya akan semakin berat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kita membawa beban kita terus menerus, lambat laun kita &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1263783524_0"&gt;tidak akan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya." Lanjut Covey "Apa&lt;br /&gt;yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak&lt;br /&gt;sebelum mengakatnya lagi".&lt;br /&gt;Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih&lt;br /&gt;segar dan mampu membawanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1263783524_1"&gt;&lt;/span&gt; Jadi apapun beban yang ada di pundak kita &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1263783524_2"&gt;hari ini&lt;/span&gt;, coba tinggalkan sejenak jika bisa.&lt;br /&gt;Setelah beristirahat nanti dapat diambil lagi. Mudah-mudahan beban tersebut secara perlahan dapat diselesaikan dengan baik dan lebih jernih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-234998464007597753?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/234998464007597753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/234998464007597753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/bagaimana-kita-memandang-beban-hidup.html' title='Bagaimana kita memandang beban hidup'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8882430084962361473</id><published>2010-01-11T23:18:00.000-08:00</published><updated>2010-01-11T23:21:09.981-08:00</updated><title type='text'>2010: The Best of Times or the Worst?</title><content type='html'>&lt;div class="hd"&gt;   by &lt;a href="http://finance.yahoo.com/expert/archive/richricher/robert-kiyosaki/1" title="See more articles by Robert Kiyosaki"&gt;Robert Kiyosaki&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Posted on Tuesday, December 29, 2009, 12:00AM&lt;/div&gt;&lt;p&gt;&lt;em&gt;“It was the best of times. It was the worst of times.”  &lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;­ – Charles Dickens&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Is the recession over? Are happy days really here again? Paraphrasing Dickens, my answer is, “For people who are prepared, 2010 will be the best of times. For many, 2010 will be the worst of times.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The following are a few of my predictions and reasons behind them…&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Prediction #1&lt;/strong&gt;:  &lt;strong&gt;The real estate market will crash again.&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;img alt="chart5.gif" src="http://l.yimg.com/a/p/fi/26/61/38.gif" width="300" height="232" /&gt; &lt;p&gt;Pictured above is a graph of mortgage resets. In simple terms, a mortgage reset is when a mortgage comes due. In normal times, refinancing was a simple process…but these are not normal times. Some points of interest:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1.  In September 2008, the mortgage resets hit $35 billion that month. That was the exact time the financial crisis hit. When people could not afford to refinance and began to default, the stock market and banking industry crashed.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;2.  The eye of the storm: In the summer of 2009 mortgage resets were low -- around $15 billion a month. This is when optimists began to see “green shoots” in the economy. The green shoots were the eye of the storm.  In 2010, as I see it, the second half of the financial hurricane hits. By late 2011, the resets climb to nearly $40 billion a month. The storm will not end until 2012.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3.  The first half of the storm was primarily due to subprime defaults. The second half of the storm will hit more solid homeowners. The question is, can they weather the storm? Will Mac Mansion foreclosures be next?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4.  In America, there are over 40 million people who own more than two homes. Can they afford to carry and refinance two or more mortgages? &lt;/p&gt;&lt;p&gt;5.  Since home values have gone down, many homeowners will find they owe more than their home(s) are worth. Will the bank be kind to them?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;6.  The time for using your home as an ATM is over. This is crushing retailers and retail real estate. Shopping centers are in trouble. Strip malls are empyting as shopkeepers close -- permanently. This will lead to the crash of the office, warehouse, and other commercial properties.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;My prediction:  Obviously these are the best of times if you are a buyer of distressed properties and the worst of times if you are a seller.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Other things I am watching for in 2010: &lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. Will China crash? America’s crash has hit China in the gut. The Chinese are laying off millions of workers. Only massive government bailout is keeping the economy afloat. The Chinese boom will eventually go bust…but will it bust in 2010? Only time will tell. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;2.  When America stopped importing from China, China stopped importing from the rest of the world. This affects Asian countries as well as Australia, Brazil, and other suppliers of raw materials. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;3.  Fed Chairman Ben Bernanke is replacing toxic debt with new debt. By protecting his friends in the mega-banks, he is turning the U.S. into a zombie nation. The recession is over, but America is entering an era we will be calling The New Depression, a period when the rich become extremely rich but everyone else becomes poorer. Taxes will kill anyone working for a paycheck. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;4.  The U.S. dollar will grow weaker. If the dollar strengthens, we will have more unemployment because our goods become too expensive and we will export less.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;5.  The deficit will increase.  The bailouts for the rich are killing the economy. &lt;/p&gt;&lt;img alt="Chart6.gif" src="http://l.yimg.com/a/p/fi/26/61/39.gif" width="400" height="301" /&gt; &lt;p&gt;6.  Israel may attack Iran. Israel will not tolerate Iran developing nuclear power, even if Iran claims it is for peaceful purposes. If there is an attack, oil prices will go through the roof.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;7.  Dead cat bounce. The current stock market rally will probably turn into a dead cat bounce. If the Dow drops below 6500, 5,000 may be the next stop.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;The Best of Times&lt;/strong&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;I know I sound painfully pessimistic. I know my predictions are bad news for most people. Yet, for others, bad news is good news.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The following are the bright spots for people who are prepared.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Prediction #2: &lt;/strong&gt;Gold, silver, and oil will continue to be safe investments in 2010.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The following recaps the year-end prices of gold and silver:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;            &lt;u&gt;YEAR             GOLD                                    SILVER&lt;/u&gt;&lt;br /&gt;            2000               $  273                         $  4.57&lt;br /&gt;            2001               $  279                         $  4.57&lt;br /&gt;            2002               $  348                         $  4.78                       &lt;br /&gt;            2003               $  416                         $  5.92&lt;br /&gt;            2004               $  438                         $  6.79&lt;br /&gt;            2005               $  518                         $  8.80&lt;br /&gt;            2006               $  638                        $12.78&lt;br /&gt;            2007               $  838                        $14.77&lt;br /&gt;            2008               $  882                        $11.33&lt;br /&gt;            2009              $1100  (approx)     $17.50  (approx)&lt;/p&gt;&lt;p&gt;In 2009, the Dow rose approximately 18%. Gold rose approximately 25%. Silver rose approximately 50%.  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;By the end of 2010, I predict gold will be at $1,775 an ounce, silver at $24 an ounce, and oil at $85 a barrel. If Israel attacks Iran, these predictions will be blown away.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;Prediction #3: &lt;/strong&gt;The next market to crash will be commercial real estate. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Cash flow positive real estate will be even more affordable. 2010 through 2012 will be a real estate buffet for those with cash and access to credit. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;My Personal Investments&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;As I stated in 2002, “You have up to the year 2010 to become prepared.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;The following are things I have done to prepare myself:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;1. I started The Rich Dad Company in 1997 because I saw this crisis coming. For the past three years, I have tightened internal controls and prepared for global expansion via a franchise distribution system. The company is debt free with strong income. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;2.  2009 was my best real estate year to date. With the Fed handing out large sums of money and pension funds looking for projects to invest in, my real estate holding company has acquired tens of millions of dollars for acquisition of bankrupt properties and development projects.  Development projects are affordable again, as labor, material, and land costs are low and the government is generous with 40-year, low interest, non-recourse loans. People still need a roof over their heads.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;3.  My oil development projects have done well. We drilled three wells and hit oil on two of them. Government tax breaks for oil exploration remain generous, even for dry holes.  Even if the economy crashes, we will still burn oil.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;4.  I took 90% of my money out of the stock market in 2007. If the Fed raises interest rates, the stock market and real estate market will collapse.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;5.  I loaded up on gold and silver between 1996 and 2004. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;6.  With the Fed printing trillions of dollars, cash is trash and savers are losers. As soon as I have excess cash I invest in oil, real estate, gold, and silver.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;7.  In a zero-interest-rate environment, debtors are winners…but only if you have good debt…debt that’s paid by tenants.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;strong&gt;In Conclusion&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;A few years ago, Japan was ‘King of the Financial World.’ Japan’s economy was the world’s second largest economy -- till the bubble burst in 1990.  Japan’s budget went into deficit in 1993. Since then, the deficit has averaged 5.4 percent of GDP per year. As a result, Japanese government debt is now 200 percentof GDP today. The U.S. is following Japan, and China will follow the U.S.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;We will not see much inflation because the Fed is not able to print enough money to replace the losses from the burst of the credit bubble. Also, factories have too much excess capacity due to lack of demand, which means prices for consumer goods will remain low and unemployment will remain high. Instead, we will see inflation in gold, silver, oil, some stocks, some real estate sectors, and food -- not because values are going up but because the dollar is going down.&lt;/p&gt;Welcome to The New Depression. And may these times be the best of times for you.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8882430084962361473?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8882430084962361473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8882430084962361473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2010/01/2010-best-of-times-or-worst.html' title='2010: The Best of Times or the Worst?'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6447721174452903174</id><published>2009-08-23T00:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-23T00:07:24.098-07:00</updated><title type='text'>Lamaranmu KuTolak</title><content type='html'>Lamaranmu Kutolak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.&lt;br /&gt;Melalui ta'aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk&lt;br /&gt;melanjutkannya menuju khitbah (lamaran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain: ayah sang perempuan.&lt;br /&gt;Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru&lt;br /&gt;pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang&lt;br /&gt;sekarang amatlah berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka&lt;br /&gt;menggenapkan agamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang&lt;br /&gt;lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk 'merebut'&lt;br /&gt;sang perempuan muda, dari sisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?" tanya sang setengah baya.&lt;br /&gt;"Iya, Pak," jawab sang muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau telah mengenalnya dalam-dalam?" tanya sang setengah baya&lt;br /&gt;sambil menunjuk si perempuan.&lt;br /&gt;"Ya Pak, sangat mengenalnya," jawab sang muda, mencoba meyakinkan.&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya? Tidak&lt;br /&gt;bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model&lt;br /&gt;seperti itu!" balas sang setengah baya.&lt;br /&gt;Si pemuda tergagap, "Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal&lt;br /&gt;sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Itu serasa 'membeli kucing dalam karung' kan, aku&lt;br /&gt;takmau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya.&lt;br /&gt;Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?" balas sang setengah baya,&lt;br /&gt;keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang&lt;br /&gt;lelaki muda. Bisiknya, "Ayah, dia dulu aktivis lho."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu dulu aktivis ya?" tanya sang setengah baya.&lt;br /&gt;"Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di&lt;br /&gt;Kampus," jawab sang muda, percaya diri.&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama&lt;br /&gt;istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo&lt;br /&gt;rumahku ini kan?"&lt;br /&gt;"Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak&lt;br /&gt;yang nggak datang kalau saya suruh berangkat."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok&lt;br /&gt;mau ngatur keluargamu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang perempuan membisik lagi, membantu, "Ayah, dia pinter lho."&lt;br /&gt;"Kamu lulusan mana?"&lt;br /&gt;"Saya lulusan Teknik Elektro UGM Pak. UGM itu salah satu kampus&lt;br /&gt;terbaik di Indonesia lho Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM&lt;br /&gt;ini tho? Menganggap saya bodoh kan?"&lt;br /&gt;"Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya&lt;br /&gt;saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak."&lt;br /&gt;"Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik&lt;br /&gt;anak-anakmu kelak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan itu datang lagi, "Ayah dia sudah bekerja lho."&lt;br /&gt;"Jadi kamu sudah bekerja?"&lt;br /&gt;"Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera&lt;br /&gt;jualan produk saya Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu&lt;br /&gt;nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu."&lt;br /&gt;"Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak&lt;br /&gt;terlalu laku."&lt;br /&gt;"Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu,&lt;br /&gt;kalau kerja saja nggak becus begitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan kembali, "Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya."&lt;br /&gt;"Rencananya maharmu apa?"&lt;br /&gt;"Seperangkat alat shalat Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf."&lt;br /&gt;"Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan&lt;br /&gt;uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan, "Dia jago IT lho Pak"&lt;br /&gt;"Kamu bisa apa itu, internet?"&lt;br /&gt;"Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak&lt;br /&gt;saya nge-net."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan&lt;br /&gt;anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata."&lt;br /&gt;"Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Facebook, Blog, Twitter,&lt;br /&gt;Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan, "Tapi Ayah..."&lt;br /&gt;"Kamu kesini tadi naik apa?"&lt;br /&gt;"Mobil Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya&lt;br /&gt;Riya'. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik."&lt;br /&gt;"Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir"&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini&lt;br /&gt;namanya payah. Memangnya anakku supir?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisikan, "Ayahh.."&lt;br /&gt;"Kamu merasa ganteng ya?"&lt;br /&gt;"Nggak Pak. Biasa saja kok"&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang&lt;br /&gt;cantik ini."&lt;br /&gt;"Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak."&lt;br /&gt;"Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang perempuan kini berkaca-kaca, "Ayah, tak bisakah engkau tanyakan&lt;br /&gt;soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?"&lt;br /&gt;Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang&lt;br /&gt;muda yang sudah menyerah pasrah.&lt;br /&gt;"Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur'an dan Hadits?"&lt;br /&gt;Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.&lt;br /&gt;Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, "Pak, dari tiga puluh&lt;br /&gt;juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja.&lt;br /&gt;Hadits-pun cuma dari Arba'in yang terpendek pula."&lt;br /&gt;Sang setengah baya tersenyum, "Lamaranmu kuterima anak muda. Itu&lt;br /&gt;cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja&lt;br /&gt;pun, aku masih tertatih."&lt;br /&gt;Mata sang muda ikut berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source : Anynomous (From My Fren Via Email)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6447721174452903174?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6447721174452903174'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6447721174452903174'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2009/08/lamaranmu-kutolak.html' title='Lamaranmu KuTolak'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-804989809314447909</id><published>2009-03-27T02:52:00.000-07:00</published><updated>2009-03-27T02:54:05.550-07:00</updated><title type='text'>"Cukup Itu Berapa?"</title><content type='html'>Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya dan membuat si petani menjadi kaya raya berapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani telah mengucapkan kata "cukup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya, diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubuk mungilnya untuk disimpan disana. Namun kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata "cukup". Kapankah kita bisa berkata cukup?Seringkali para pegawai merasa gajinya belum bisa dianggap cukup bila dibandingkan dengan kerja-kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih di bawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapankah kita bisa berkata cukup? Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya....Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya.."Cukup" jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg atau berpuas diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Janganlah membiarkan kerakusan manusia membuat kita menjadi sulit untuk berkata cukup.Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia. Karena itu.....belajarlah untuk berkata "cukup"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-804989809314447909?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/804989809314447909'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/804989809314447909'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2009/03/cukup-itu-berapa.html' title='&quot;Cukup Itu Berapa?&quot;'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5789574930855934572</id><published>2009-02-15T23:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T23:18:04.907-08:00</updated><title type='text'>Membantu Itu Membahagiakan</title><content type='html'>Oprah angel’s network $1000 holiday to giveaway – alot more happier&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oprah pernah melakukan sebuah eksperimen dengan para pemirsanya. Dia meminta permisanya tersebut untuk  menggunakan uang sebesar $1000 yang seharusnya merekaakan  gunakan untuk liburan, untuk digunakan untuk meringankan beban orang lain, apapun itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bisa untuk menyekolahkan anak yang tidak mampu, membelikan obat, memberi makan, apapun dan dilakukan selama masa liburan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masa liburan berakhir, Oprah mengundang mereka untuk tampil pada acaranya dan menceritakan apa pengalaman yang mereka peroleh pada masa liburannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ternyata semua mengatakan bahwa mereka belum pernah merasa lebih bahagia, lebih bermakna, dan apa yang diperloleh dengan $1000 yang mereka berikan pada orang lain itu jauh melebihi kebahagiaan yang mungkin akan diperoleh apabila mereka habisakan untuk berlibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada muncul dari hasil penelitian yang dilakukan di &lt;span class="yshortcuts" id="lw_1234767578_0"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1234768579_0"&gt;Universitas&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; Oregon. Peneliti dari Universitas Oregan baru-baru ini menggunakan mesin fMRI untuk mempelajari aktivitas otak laki-laki dan perempuan dan memonitor perubahan emosi dan pola dalam berpikir.&lt;br /&gt;Dalam eksperimen ini, peneliti memberikan seorang wanita uang sebanyak 100 dolar, dan seperti yang diduga, pusat kebahagiaan di otak menunjukkan peningkatan aktivitas.&lt;br /&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1234767578_1"&gt;&lt;span class="yshortcuts" id="lw_1234768579_1"&gt;&lt;br /&gt;Lalu&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; di bagian lain eksperimen ini, wanita tsb diberikan lagi uang dalam jumlah yang sama, namun kali ini wanita tsb diberikan kesempatan untuk mendonasikan uangnya.&lt;br /&gt; Hasilnya, terjadi peningkatan aktivitas otak yang jauh lebih besar dibanding ketika wanita tsb menggunakan uang itu untuk dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasanya lagi, ketika penelitian ini dikembangkan dengan cara mengukur aktivitas otak orang yg melihat orang lain menerima kebaikan, ternyata aktivitas yang otak yang sama juga muncul. Artinya, kita pun bisa merasa turut bahagia ketika kita melihat orang lain menerima kebaikan dari orang lain (bukan dari kita).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber : Komunitas Sukses Mulia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5789574930855934572?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5789574930855934572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5789574930855934572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2009/02/membantu-itu-membahagiakan.html' title='Membantu Itu Membahagiakan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3381730507864978950</id><published>2009-02-06T21:21:00.000-08:00</published><updated>2009-02-06T21:32:56.318-08:00</updated><title type='text'>3 Inspirasi dari Tiger Woods</title><content type='html'>Oleh Anthony Dio Martin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"To succeed, you need to find something to hold on to, something to&lt;br /&gt;motivate you, something to inspire you!"&lt;br /&gt;- Tony Dorsett&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu atlet dunia pujaan saya adalah Eldrick 'Tiger' Woods.&lt;br /&gt;Bukan saja secara skills, dia luar biasa di lapangan, tetapi dalam&lt;br /&gt;dirinya pun terdapat prinsip-prinsip yang membuatnya patut&lt;br /&gt;diteladani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan mengenai Tiger Woods, pemain basket terkenal Michael Jordan&lt;br /&gt;pernah berujar, "I really do believe Tiger Woods was put here for a&lt;br /&gt;bigger reason than just to play golf. I don't think that he is a god,&lt;br /&gt;but I do believe that he was sent by One."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan inilah saya ingin membagikan apa yang saya pelajari&lt;br /&gt;secara luar biasa dari pribadi Tiger Woods dalam suatu wawancaranya.&lt;br /&gt;Untuk sekadar info saja, Tiger Woods adalah pemain golf dunia yang&lt;br /&gt;legendaris. Pada usia 11 bulan, dia sudah belajar mengayunkan tongkat&lt;br /&gt;golf di garasi rumahnya. Pada saat umurnya baru mencapai 22 tahun,&lt;br /&gt;Tiger Woods sudah meraup pendapatan bersih lebih dari US$2.000.000.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hal yang luar biasa telah dicapai oleh Tiger Woods bahkan sejak&lt;br /&gt;pada usianya yang belia. Nah, pada kesempatan ini, mari kita belajar&lt;br /&gt;ada tiga kunci sukses dari Tiger Woods yang menjadikannya juara dunia&lt;br /&gt;sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I smile at obstacles&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama, kalimat inspiratif menarik yang diucapkan oleh Tiger&lt;br /&gt;Woods adalah "I smile at obstacles". Justru kalimat ini rasanya&lt;br /&gt;begitu cocok untuk kita semua di mana saat ini dunia sedang mengalami&lt;br /&gt;krisis global. Rasanya kita bisa belajar banyak dari Tiger Woods yang&lt;br /&gt;justru tersenyum saat menghadapi masalah, tantangan ataupun hambatan&lt;br /&gt;dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang sering saya ungkapkan dalam tulisan-tulisan saya, setiap&lt;br /&gt;masalah yang kita hadapi, semuanya bertujuan baik supaya kita dapat&lt;br /&gt;menjadi pribadi yang lebih kuat dan tangguh. Saya pun teringat dengan&lt;br /&gt;buku Adversity Quotient karya Paul G. Stoltz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut, Paul G. Stoltz mengatakan seorang yang akan&lt;br /&gt;sukses adalah yang dapat mengubah tantangan menjadi peluang untuk&lt;br /&gt;berhasil. Selalu ada peluang bagi kita untuk dapat sukses jika kita&lt;br /&gt;jeli melihat yang terjadi. Seperti sebuah kata bijaksana "You learn&lt;br /&gt;something every day if you pay attention." Jadi, selalu pakailah&lt;br /&gt;kacamata yang positif saat melihat segala sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama seperti Tiger Woods, saat mengalami tantangan dalam memenangi&lt;br /&gt;pertandingan golfnya, dia selalu belajar dari apa yang dialaminya.&lt;br /&gt;Filosofi ini dipelajari dari ibunya Kultida Woods yang sejak awal&lt;br /&gt;karirnya sering mengantarkan Tiger Woods ke berbagai turnamen dan&lt;br /&gt;memberikan motivasi kepadanya, tanpa mengeluh sedikit pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun ayahnya, seorang veteran perang yang selalu membisikkan&lt;br /&gt;kata-kata motivasi untuk membesarkan Tiger Woods sebelum dia&lt;br /&gt;tertidur. Inilah kunci yang membuat Tiger Woods menjadi juara dunia.&lt;br /&gt;Yang jelas, dari orang tuanya Tiger Woods belajar dan menasihati kita&lt;br /&gt;bahwa jika kita menghadapi hambatan hidup dengan tersenyum, sesuatu&lt;br /&gt;yang luar biasa akan pasti terjadi. Kita akan bisa lebih berpikir&lt;br /&gt;jernih, sehingga lebih berfokus pada solusi dan jalan keluar pun&lt;br /&gt;mungkin muncul di depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My will moves mountains&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini pun kita dapat banyak belajar kepada Tiger Woods.&lt;br /&gt;Seluruh keinginannya diarahkan untuk menjadikan dirinya menjadi&lt;br /&gt;seorang pegolf dunia. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Tiger&lt;br /&gt;Woods, "Dibutuhkan keputusan yang luar biasa untuk menjadi yang&lt;br /&gt;terbaik. Tetapi saya telah membuat keputusan itu!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiger Woods mengetahui apa yang mau dicapai dalam hidupnya sehingga&lt;br /&gt;dirinya terus berusaha sampai impiannya tercapai. Bahkan Tiger Woods&lt;br /&gt;mengatakan "My will moves mountains". Dalam hal ini, Tiger Woods&lt;br /&gt;mengajarkan kepada kita perlunya fokus, dedikasi, komitmen,&lt;br /&gt;keteguhan, dan kegigihan dalam mencapai tujuan, termasuk pula&lt;br /&gt;membayar ongkos berlatih siang dan malam sebelum dirinya menjadi&lt;br /&gt;begitu terkenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dalam kehidupan ini, jika kita punya kualitas yang sama&lt;br /&gt;seperti karakter yang dimiliki Tiger Woods, kesuksesan dapat kita&lt;br /&gt;raih selama kita memiliki keinginan yang kuat untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiger Woods jelas-jelas mengetahui apa yang dia inginkan, dia&lt;br /&gt;memiliki target dan goal yang jelas, membuat rencana untuk&lt;br /&gt;mencapainya dan kemudian merealisasikannya. Tiger Woods percaya bahwa&lt;br /&gt;bagi dirinya tidak ada gunung 'kesulitan' yang terlalu tinggi untuk&lt;br /&gt;ditaklukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan Anda? Apa yang menjadi impian, cita - cita dan&lt;br /&gt;hasrat Anda? Apa yang ingin Anda lakukan dalam hidup ini? Apakah Anda&lt;br /&gt;sudah meraihnya? Mari belajar dari Tiger Woods, miliki fokus dan&lt;br /&gt;komitmen untuk meraih hal - hal yang diinginkan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;Ingatlah, keinginan Anda yang begitu kuat bahkan bisa memindahkan&lt;br /&gt;gunung kesulitan Anda, setinggi apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I will do it with all my heart&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tiger Woods melakukan sesuatu, dia melakukannya dengan&lt;br /&gt;totalitas dan komitmen. Melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh,&lt;br /&gt;itulah kunci kemenangan Tiger Woods. Baginya, bahkan hanya dalam&lt;br /&gt;berlatih di lapangan saja, semuanya diperlakukan seperti pertandingan&lt;br /&gt;sungguhan. Tiger Woods melakoni semuanya dengan keinginan bukan&lt;br /&gt;menjadi baik (good), bukan juga menjadi lebih baik (better),&lt;br /&gt;melainkan dengan keinginannya menjadi yang terbaik (best).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah mengherankan jika diusianya yang ke-24, pada 2000 Tiger&lt;br /&gt;Woods sudah berhasil menjadi juara dunia hampir semua kejuaraan golf&lt;br /&gt;bergengsi di dunia, a.l. US Open, US Amateur, British Open serta&lt;br /&gt;British Amateur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehidupan Tiger Woods memberikan pelajaran penting kepada kita yakni&lt;br /&gt;jika kita mau meraih kesuksesan dan keberhasilan yang luar biasa,&lt;br /&gt;lakukanlah segala sesuatu dengan kerja keras, fokus, penuh dedikasi&lt;br /&gt;dan lakukan semuanya itu dengan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sebenarnya pelajaran yang diperoleh Tiger dari ayahnya, yang&lt;br /&gt;sekaligus menjadi pelatihnya. Untuk melatih Tiger Woods bermain&lt;br /&gt;dengan sepenuh hati, ayahnya sering kali membunyikan koin-koin dan&lt;br /&gt;berusaha mengacaukan konsentrasinya. Namun, latihan seperti inilah&lt;br /&gt;yang membuatnya semakin mantap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, pernah sekali ketika dia memukul bola dan pada saat itu ada&lt;br /&gt;suara walkie talkie yang mengganggu. Namun, Tiger Woods mengatakan&lt;br /&gt;dirinya tidak mendengarkan suara apa pun karena pelajaran hidupnya&lt;br /&gt;membuatnya betul-betul menaruh sepenuh hati pada bola yang akan&lt;br /&gt;dipukulnya. Dengan mantap, Tiger Woods mengajarkan bahwa kita&lt;br /&gt;berpelaung besar meraih hal - hal yang kita inginkan jika ada&lt;br /&gt;totalitas penuh di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, mari belajar dari tiga pelajaran inspiratif Tiger Woods&lt;br /&gt;ini: smile at obstacles, my will moves mountains, serta I will do it&lt;br /&gt;with all my heart - untuk menjadikan 2009 ini sebagai tahun yang&lt;br /&gt;spektakuler, di mana Anda akan mencapai hal - hal yang Anda impikan&lt;br /&gt;dan meraih kesuksesan serta keberhasilan yang luar biasa! Sukses&lt;br /&gt;serta antusiasme yang luar biasa akan selalu menyertai Anda pada&lt;br /&gt;tahun ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3381730507864978950?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3381730507864978950'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3381730507864978950'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2009/02/3-inspirasi-dari-tiger-woods.html' title='3 Inspirasi dari Tiger Woods'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7829450366275175238</id><published>2008-12-31T02:04:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T02:07:10.048-08:00</updated><title type='text'>Goal Seeker vs Goal Getter</title><content type='html'>"Goals are not only absolutely necessary to motivate us. They are essential to really keep us alive." -Robert H. Schuller&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penghujung 2008 ini, alangkah baiknya jika kita mulai menentukan kembali goal yang akan kita raih pada 2009 atau mungkin akan diwujudkan dalam kehidupan kita. Berbicara soal goal dan tujuan hidup, di sinilah kita bisa bedakan dua tipe orang. Orang yang pertama kita kategorikan sebagai goal seeker, dan kedua kita sebut goal getter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goal seeker, adalah tipe orang yang selalu terus-menerus mencari goal. Goal getter adalah tipe orang yang selalu berusaha mewujudkan goal yang telah dicanangkannya. Semuanya memang berawal dan dimulai dari sebuah proses yang namanya goal. Seorang yang belum memiliki goal yang jelas dan spesifik dalam hidupnya haruslah memulai langkah pertamanya dengan membuat suatu tujuan, yaitu menentukan apa yang sebenarnya mau diraih dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku inilah yang sebenarnya kita sebut sebagai goal seeker. Goal seeker biasanya memulai menemukan goal-nya baik dengan cara merenungkan goal hidupnya, ataupun dengan memodel orang-orang yang telah berhasil dalam pencapaian goal tersebut sehingga terinspirasi juga untuk mencapai goal yang sama bahkan lebih. Siapa pun yang sukses, akan setuju bagaimana goal memiliki peranan yang penting dalam kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan fisikawan Albert Einstein pun mengatakan, "If you want to live a happy life, tie it to a goal, not to people or things." Ya, untuk menghidupi kehidupan yang bahagia, tentunya harus mengikatkannya dengan sebuah goal yang jelas. Namun, kehidupan tidaklah boleh berhenti hanya pada tataran membuat goal saja. Itulah yang banyak dialami oleh orang yang hidupnya mandek. Setelah seorang goal seeker menemukan apa yang akan diraihnya, berikutnya dia harus bergerak menjadi goal getter. Dalam proses menuju goal getter, seorang goal seeker biasanya harus melewati banyak rintangan dan hambatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah godaannya. Sering terjadi, para goal seeker jadi frustrasi, menyerah bahkan akhirnya menyibukkan diri dengan terus-menerus mencari goal yang baru, dan mengganti goal lama yang sebenarnya belum pernah diusahakan sama sekali. Inilah titik kritis di mana kalau goal seeker tidak mengalami transformasi menjadi seorang goal getter, waktu hidupnya akan terus-menerus dipakai untuk mencari goal yang baru. Akibatnya, setelah beberapa lama, entah beberapa bulan bahkan beberapa tahun, goal seeker tidak menghasilkan apa-apa sama sekali. Mereka kelihatan sibuk, tetapi pada dasarnya tidak menghasilkan apa pun (busy but not productive!) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya kita perlu mengingat kata-kata bijak dari co-writer buku The Power of Focus, yakni Les Brown yang mengatakan "You must take action now that will move you towards your goals. Develop a sense of urgency in your life." Ya, diperlukan tindakan dan sesegera mungkin menjadi goal getter. Ambillah tindakan yang makin mengarahkan Anda menuju goal. Bangun terus sense of urgency dalam mencapai goal tersebut dengan melakukan transisi menjadi seorang goal getter, bukan hanya berhenti pada bermimpi saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi manusia langka Ada begitu banyak goal setter di dunia ini, tetapi sedikit sekali yang bisa berubah menjadi goal getter. Jadilah bagian dari manusia-manusia yang langka ini sehingga hidup Anda bukan hanya berisi ilusi semata, melainkan juga betul-betul menjadi sebuah realita yang bisa Anda nikmati, setelah Anda melewati berbagai rintangan di depan goal tersebut. Dalam hal ini kita perlu belajar dari William Clement Stone, salah satu orang terkaya di Amerika yang merajut hidupnya dari mimpi-mimpi yang direalisasikannya sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, dengan beraninya, untuk mewujudkan mimpinya, sejak kecil dia nekat menjual koran di restoran. Tahukah Anda, pada masa itu, menjual koran di restoran adalah hal yang tabu dan belum pernah terjadi sebelumnya. Namun, dengan sikapnya yang persisten, ramah serta persuasif, akhirnya diceritakan bagaimana William meluluhkan hati para pemilik restoran untuk pertama kalinya mengizinkan seorang anak gembel menjual koran di restoran mereka. Para pemilik restoran ini sama sekali tidak menyangka bahwa akhirnya, anak gembel yang gigih dengan semangatnya ini akan menjadi salah satu orang terkaya di Amerika yang memiliki bisnis asuransi terbesar pada masanya bahkan menjadi penulis berbagai buku tentang mental positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bukunya yang terkenal The Success System That Never Fails, dia berkata, "To solve a problem or to reach a goal, you don't need to know all the answers in advance. But you must have a clear idea of the problem or the goal you want to reach." Dengan kata lain, William mengingatkan para goal getter mereka perlu memiliki kejelasan yang sangat jelas, spesifik dan detail tentang goal yang mau diraihnya. Semakin spesifik dan semakin detail goal yang mau diraih bagi seorang goal getter, semakin jelas dan memudahkan bagi seorang goal getter untuk meraih goal yang telah ditentukannya saat mengalami transformasi dari goal seeker menjadi seorang goal getter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, Anda mungkin pernah mendengar ada pepatah yang mengatakan, "A goal properly set is halfway reached." Saat goal sudah ditentukan, perjalanan seorang goal seeker menjadi goal getter hanya tinggal setengah perjalanan lagi, tinggal membuat perencanaan-perencanaan dan tindakan-tindakan yang akhirnya akan mengarahkannya menjadi seorang goal getter. Berikutnya, untuk memulai realisasi goal yang telah ditentukan, hal terpenting bagi seorang goal getter adalah menciptakan momentum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Momentum, berarti mengambil sebuah tindakan, entah tindakan itu besar ataupun kecil, tapi mulai melakukan aksi yang intinya membawanya semakin dekat pada tujuannya. Tindakan itulah yang diperlukan agar mereka mulai termotivasi untuk segera mewujudkan goal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah sebuah kalimat bijak yang dikatakan oleh motivator nomor satu dunia, Anthony Robbins. "The most important thing you can do to achieve your goals is to make sure that as soon as you set them, you immediately begin to create momentum. " Dalam rangka menciptakan momentum ini, biasanya hambatan yang paling sering dialami oleh seorang goal seeker adalah dalih (excuse) bahwa mereka membutuhkan dan mencari 'timing' atau waktu yang tepat. Marilah kita percaya, waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Waktu yang paling tepat itu sebenarnya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marilah kita simak tip yang diberikan oleh Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich yang mengatakan, "Don't wait. The time will never be just right." Sekali lagi, waktu yang terbaik tentu saja sekarang. Janganlah bermimpi bahwa akan ada waktu yang pas. Mulailah berani mengambil langkah-langkah awal yang yang akan menuntun kita semakin dekat dengan goal kita. Yang jelas, penyebab seorang goal seeker gagal menjadi seorang goal getter adalah kurang atau tidak adanya tindakan untuk merealisasikan goal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal seorang sahabat saya yang punya rencana membangun bisnis media sejak 5 tahun yang lalu. Sampai sekarang pun dia masih terus mencita-citakannya. Itulah contoh goal seeker yang terus-menerus berada di penantiannya. Jangan menjadi pribadi yang demikian. Marilah, mulai saat ini jadilah seorang goal getter bukan sekadar goal seeker yang selalu terus-menerus membuat goal. Jadikan 2009 menjadi tahun yang spektakuler bagi Anda, bukan hanya karena banyaknya jumlah impian Anda melainkan juga karena banyak impian Anda yang bisa terwujud!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Anthony Dio Martin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7829450366275175238?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7829450366275175238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7829450366275175238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/goal-seeker-vs-goal-getter.html' title='Goal Seeker vs Goal Getter'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1647739769685341658</id><published>2008-12-31T01:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-31T01:59:09.504-08:00</updated><title type='text'>Prasangka</title><content type='html'>Dikisahkan, seorang janda miskin hidup berdua dengan putri kecilnya yang masih berusia sembilan tahun. Kemiskinan memaksanya untuk membuat sendiri kue-kue dan menjajakannya di pasar demi kelangsungan hidup mereka. Hidup penuh kekurangan membuat si kecil tidak pernah bermanja-manja kepada ibunya seperti anak-anak kecil lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari di musim dingin, saat selesai membuat kue, si ibu tersadar melihat keranjang penjaja kuenya sudah rusak berat. Dia pun keluar rumah untuk membeli keranjang baru dan berpesan kepada putrinya agar menunggu saja di rumah. Pulang dari membeli keranjang, si ibu menemukan pintu rumah tidak terkunci dan putrinya tidak ada di rumah. Spontan amarahnya memuncak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Putri betul-betul tidak tahu diri! Cuaca dingin seperti ini, disuruh diam di rumah sebentar saja malahan pergi bermain dengan teman-temannya! Setelah selesai menyusun kue di keranjang, si ibu segera pergi untuk menjajakan kuenya. Dinginnya salju yang memenuhi jalanan tidak menyurutkan tekadnya demi kehidupan mereka. Dan sebagai hukuman untuk si putri, pintu rumah di kuncinya dari luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kali ini Putri harus diberi pelajaran karena telah melanggar pesan," geram si ibu dalam hati. Sepulang dari menjajakan kue, mata si ibu mendadak nanar saat menemukan gadis kecilnya tergeletak di depan pintu. Dengan berteriak histeris segera dipeluknya tubuh putrinya yang telah kaku karena kedinginan. Dengan susah payah dipindahkannyalah tubuh putri ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Putri...Putri. ..Putri.. ., bangun, Nak! Ini ibu, Nak! Bangun, Nak! Ibu tidak marah kok. Bangun Putri anakku!" Serunya sambil menangis merung-raung dan berusaha sekuat tenaga membangunkan dengan menguncang-guncangk an tubuh si putri agar terbangun. Tetapi putri tidak bereaksi sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba terjatuh dari genggaman tangan si putri sebuah bungkusan kecil. Saat dibuka, ternyata di dalamnya berisi sebungkus kecil biskuit dan secarik kertas usang. Dengan tergesa-gesa dan tangan yang gemetar hebat, si ibu segera mengenali tulisan putrinya yang masih berantakan tetapi terbaca jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibuku tersayang, Ibu pasti lupa hari istimewa Ibu ya. Hi... hi... hi..., ini Putri belikan biskuit kesukaan ibu. Maaf Bu, uang putri tidak cukup untuk membeli yang besar dan maaf lagi Putri telah melanggar pesan Ibu karena meninggalkan rumah untuk membeli biskuit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat ulang tahun, Bu. Putri selalu sayang, Ibu!" Dan meledaklah tangis sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman,&lt;br /&gt;Prasangka sering mendatangkan petaka adalah kalimat yang cocok dengan kisah tadi dan penyesalan biasanya datang menyusul di belakang itu. Begitu banyak masalah dan problem di dunia ini muncul karena prasangka negatif maka butuh kedewasaan dalam mengendalikan pikiran agar kebiasaan berprasangka tidak kita layani begitu saja dan sedapat mungkin kita hilangkan. Kita ganti dengan berfikir positif sekaligus hati-hati dengan demikian memungkinkan hubungan kita dengan orang lain akan menjadi harmonis dan membahagiakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1647739769685341658?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1647739769685341658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1647739769685341658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/prasangka.html' title='Prasangka'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-595149939083468854</id><published>2008-12-19T01:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T01:36:20.281-08:00</updated><title type='text'>10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur</title><content type='html'>Sesungguhnya Allah mempunyai karunia terhadap manusia tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur. QS. Al Baqarah : 243&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang Ramadhan tahun ini ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan.Usai mereka membayar semua barang belanjaan. Tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, “Beri kami sedekah, Bu!”Istri Budiman kemudian membuka dompetnya lalu ia menyodorkan selembar uang kertas berjumlah 1000 rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wanita pengemis itu lalu menerimanya. Tatkala ia tahu jumlahnya dan ternyata itu tidak mencukup kebutuhannya, ia kemudian menguncupkan jari-jarinya dan ia arahkan kearah mulutnya, kemudian ia memegang kepala anaknya dan sekali lagi ia mengarahkan jari-jari yang terkuncup itu ke arah mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah ia berkata dengan bahasa isyarat, “Aku dan anakku ini sudah berhari-hari tidak makan, tolong beri kami tambahan sedekah untuk bisa membeli makanan.”Mendapati isyarat pengemis wanita itu, istri Budiman pun membalas isyarat dengan gerak tangannya seolah berkata, “Tidak... tidak, aku tidak akan menambahkan sedekah untukmu!”Ironisnya meski ia tidak menambahkan sedekahnya malah istri dan putrinya Budiman menuju ke sebuah gerobak gorengan untuk membeli cemilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang sama Budiman berjalan ke arah ATM center guna mengecek saldo rekeningnya. Saat itu memang adalah tanggal dimana ia menerima gajian dari perusahaannya, karenanya Budiman ingin mengecek saldo rekeningnya.Ia sudah berada di depan ATM. Ia masukkan kartu ke dalam mesin tersebut. Ia tekan langsung tombol INFORMASI SALDO. Sesaat kemudian muncullah beberapa digit angka yang membuat Budiman menyunggingkan senyum kecil dari mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, uang gajiannya sudah masuk ke dalam rekening.Budiman menarik sejumlah uang dalam bilangan jutaan rupiah dari ATM. Pecahan ratusan ribu berwarna merah kini sudah menyesaki dompetnya. Lalu ada satu lembar uang berwarna merah juga, namun kali ini bernilai 10 ribu yang ia tarik dari dompet. Kemudian uang itu ia lipat menjadi kecil dan ia berniat untuk berbagi dengan wanita pengemis yang tadi meminta tambahan sedekah.Budiman memberikan uang itu. Lalu saat sang wanita melihat nilai uang yang ia terima betapa girangnya dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berucap syukur kepada Allah dan berterima kasih kepada Budiman dengan kalimat-kalimat penuh kesungguhan:“Alhamdulillah. .. Alhamdulillah. .. Alhamdulillah. .. Terima kasih tuan! Semoga Allah memberikan rezeki berlipat untuk tuan dan keluarga. Semoga Allah memberi kebahagiaan lahir dan batin untuk tuan dan keluarga. Diberikan karunia keluarga sakinah, mawaddah wa rahmah. Rumah tangga harmonis dan anak-anak yang shaleh dan shalehah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga tuan dan keluarga juga diberi kedudukan yang terhormat kelak nanti di surga...!” Budiman tidak menyangka ia akan mendengar respon yang begitu mengharukan. Budiman mengira bahwa pengemis tadi hanya akan berucap terima kasih saja. Namun, apa yang diucapkan oleh wanita pengemis tadi sungguh membuat Budiman terpukau dan membisu. Apalagi tatkala sekali lagi ia dengar wanita itu berkata kepada putri kecilnya, “Dik, Alhamdulillah akhirnya kita bisa makan juga.....!” Deggg...!!! Hati Budiman tergedor dengan begitu kencang..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya wanita tadi sungguh berharap tambahan sedekah agar ia dan putrinya bisa makan. Sejurus kemudian mata Budiman membuntuti kepergian mereka berdua yang berlari menyeberang jalan, lalu masuk ke sebuah warung tegal untuk makan di sana.Budiman masih terdiam dan terpana di tempat itu. Hingga istri dan putrinya kembali lagi dan keduanya menyapa Budiman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Budiman kini mulai berkaca-kaca dan istrinya pun mengetahui itu. “Ada apa Pak?” Istrinya bertanya. Dengan suara yang agak berat dan terbata Budiman menjelaskan:“Aku baru saja menambahkan sedekah kepada wanita tadi sebanyak 10 ribu rupiah!”Awalnya istri Budiman hampir tidak setuju tatkala Budiman menyatakan bahwa ia memberi tambahan sedekah kepada wanita pengemis, namun Budiman melanjutkan kalimatnya:“Bu..., aku memberi sedekah kepadanya sebanyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menerimanya, ia berucap hamdalah berkali-kali seraya bersyukur kepada Allah. Tidak itu saja, ia mendoakan aku, mendoakan dirimu, anak-anak dan keluarga kita. Panjaaaang sekali ia berdoa!Dia hanya menerima karunia dari Allah Swt sebesar 10 ribu saja sudah sedemikian hebatnya bersyukur. Padahal aku sebelumnya melihat di ATM saat aku mengecek saldo dan ternyata di sana ada jumlah yang mungkin ratusan bahkan ribuan kali lipat dari 10 ribu rupiah. Saat melihat saldo itu, aku hanya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku terlupa bersyukur, dan aku lupa berucap hamdalah. Bu..., aku malu kepada Allah! Dia terima hanya 10 ribu begitu bersyukurnya dia kepada Allah dan berterimakasih kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang demikian, siapakah yang pantas masuk ke dalam surga Allah, apakah dia yang menerima 10 ribu dengan syukur yang luar biasa, ataukah aku yang menerima jumlah lebih banyak dari itu namun sedikitpun aku tak berucap hamdalah.” Budiman mengakhiri kalimatnya dengan suara yang terbata-bata dan beberapa bulir air mata yang menetes. Istrinya pun menjadi lemas setelah menyadari betapa selama ini kurang bersyukur sebagai hamba.Ya Allah, ampunilah kami para hamba-Mu yang suka lalai atas segala nikmat-Mu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-595149939083468854?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/595149939083468854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/595149939083468854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/10-ribu-rupiah-membuat-anda-mengerti.html' title='10 Ribu Rupiah Membuat Anda Mengerti Cara Bersyukur'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1403546351637294419</id><published>2008-12-19T01:30:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T01:33:17.992-08:00</updated><title type='text'>Integritas</title><content type='html'>”Anak-anak tidak pernah menjadi pendengar yang baik atas nasehat orangtuanya, tapi mereka tidak pernah gagal meniru.”-- Eleanor Farjeon, penulis cerita anak asal Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“AYAH janji ya besok minggu kita jalan-jalan,” demikian janji Radit terhadap kedua anaknya yang masih kecil, Siska dan Rani. Ketika hari Minggu datang, tiba-tiba saja rekan bisnis Radit mengajaknya bertemu untuk membicarakan prospek bisnis yang akan coba mereka rintis. Melihat peluang bisnis di depan mata, Radit pun tergiur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Radit menyepakati bertemu dengan temannya dan mengorbankan hari Minggu yang telah dijanjikan kepada anaknya. Radit mencoba berkilah dihadapan anak-anaknya, dengan mengatakan bahwa ia mendadak dipanggil bosnya. Siska dan Rani pun menjadi kecewa.Masalahnya adalah Radit beberapa kali berjanji kepada anaknya untuk mengajaknya jalan-jalan di hari raya, pergi berlibur atau membelikan mainan, tetapi seringkali ia malah menciderai janjinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasannya pun beragam, mulai dari pekerjaan kantor yang tak bisa ditinggalkan, urusan bisnis, hingga pertemuan dengan teman lama. Untuk menjelaskan janji yang tidak ditepatinya, kadang Radit harus berbohong, demi menentramkan anak-anaknya agar tidak ngambek.Apa yang dilakukan Radit jelas membuat kecewa anak-anaknya. Akhirnya, alasan apapun yang diberikan oleh Radit, tidak dapat diterima dengan baik oleh sang anak. Karena memang Radit lebih sering tidak menepatinya. Dalam beberapa kali janji yang tidak dipenuhi, Radit tidak hanya berbohong, tapi juga tidak konsisten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen Radit pun patut dipertanyakan. Radit jelas telah mengorbankan integritas dirinya sendiri sebagai seorang ayah di depan anak-anaknya. Integritas? Betul, sekarang kita bicara mengenai integritas.Integritas berasal dari bahasa Inggris, integrity, yang diartikan sebagai ‘the state of being honest, up right and sincere’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, integritas diartikan sebagai keterpaduan, kebulatan, keutuhan, jujur, dan dapat dipercaya. Makna yang lebih luas, integritas dapat pula berarti bersikap jujur, menjaga komitmen dan berperilaku konsisten. Bicara integritas, umumnya terkait dengan kepemimpinan. Integritas memang mutlak diperlukan dalam kepemimpinan. Penelitian yang dilakukan oleh James M. Kouzes dan Barry Z. Posner membuktikan hal itu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa integritas merupakan modal utama seorang pemimpin. Penelitian yang dilakukan Kouzes dan Posner melibatkan ribuan orang dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sebagian besar responden menjawab, integritas diidentifikasi sebagai karakter yang mutlak harus dimiliki oleh seorang pemimpin.Integritas sejatinya tak hanya dimiliki oleh seorang pemimpin formal, seorang pemimpin dalam pemerintahan dan juga perusahaan. Integritas dalam lingkup yang lebih kecil, sangat dibutuhkan dalam kehidupan berkeluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keluarga, seorang ayah sejatinya juga merupakan seorang pemimpin. Begitupula peran penting sang ibu, ketika sang ayah tidak berada di rumah. Ya, orangtua adalah pemimpin untuk anak-anaknya.Lantas, bagaimana menanamkan integritas pada anak sehingga mereka dapat bersikap jujur, menjaga komitmen dan berperilaku konsisten? Kuncinya tentu saja ada pada orangtua.Menurut Ayah Edy, penulis buku ’Mengapa Anak Saya Suka Melawan dan Susah Diatur, 37 Kebiasaan Orangtua yang Menghasilkan Perilaku Buruk pada Anak’, anak memiliki ingatan yang tajam terhadap suatu janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak akan sangat menghormati orang yang menepati janji, baik janji untuk memberi hadiah atau janji untuk memberi sanksi. Oleh karena itu, berlaku konsisten mutlak diperlukan dalam mendidik anak. Konsisten merupakan kesesuaian antara yang dinyatakan dan tindakan. Demikian dituturkan oleh Ayah Edy dalam bukunya, yang menempatkan satu poin kebiasaan buruk orangtua dalam mendidik anak ialah ucapan dan tindakan yang tidak sesuai.Keteladanan orangtua, baik ayah dan ibu, yang paling dibutuhkan seorang anak adalah integritasnya. Dalam arti, bersikap jujur terhadap anak dan melaksanakan apa yang diucapkan sama dengan apa yang dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua yang memiliki integritas tentu akan dihormati oleh anak-anaknya. Hal itu akan membekas terus hingga sang anak tumbuh dewasa. Sebaliknya, orangtua yang kurang atau tidak memiliki integritas, akan sulit untuk mendidik anaknya dengan baik. Jika sang orangtua malah menggunakan kekerasan dalam mendidik anak, hal ini akan berdampak buruk bagi anak. Anak akan meniru tindakan orangtua yang suka melakukan kekerasan.Nah terlihat, bahwa integritas orangtua memegang peranan penting dalam mendidik anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orangtua yang baik memahami bahwa integritas dalam bentuk keteladanan merupakan sebuah alat yang ampuh dan efektif dalam mendidik anak. Orangtua yang baik tentu menyadari bahwa anak-anak mereka memperhatikan betul ucapan dan tindakannya. Dan bahwa integritas dalam bentuk keteladanan yang diberikan, berdaya pengaruh jauh lebih hebat dibandingkan bila sang orangtua hanya mengkhotbahkannya.Berilah teladan yang baik kepada anak. Bila ingin berjanji, pikir-pikirlah dahulu. Harus dilihat, apakah kita nantinya sanggup menepatinya atau tidak. Jangan terlalu mudah pula mengumbar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila akhirnya kita tidak dapat menepati janji tersebut, mintalah maaf dan berikan alasan yang jujur kenapa kita tidak dapat menepatinya. Tanyakanlah apa yang dapat dilakukan untuk mengganti janji itu. Dan berlakulah konsisten. Bila janji yang tidak ditepati diganti dengan janji lain, segera tunaikan janji tersebut. Bila integritas yang baik tidak dapat dicontohkan oleh orangtua kepada anak-anaknya, hal ini akan berakibat fatal. Anak-anak memang tidak pernah menjadi pendengar yang baik atas nasehat orangtuanya, tapi percayalah, mereka tidak pernah gagal meniru. (081208)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh :  Sonny Wibisono&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1403546351637294419?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1403546351637294419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1403546351637294419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/integritas.html' title='Integritas'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5619764726412265342</id><published>2008-12-19T01:28:00.000-08:00</published><updated>2008-12-19T01:30:23.901-08:00</updated><title type='text'>Hidup Begitu Berharga</title><content type='html'>"It's your choice, make it great day! – Itu pilihan Anda, jadikan hari Anda menyenangkan. "Greg Gorman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini sebenarnya sangat singkat, karena kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di depan nanti. Kata sang Buddha, hidup ini hanya 2 tarikan nafas. Jika kita berhasil menghirup udara, belum tentu kita berhasil mengeluarkannya. Sekedar ilustrasi, jika Anda ingin hidup 70 tahun, berarti waktu yang Anda miliki 25.500 hari atau 613.200 jam. Itupun sebagian besar digunakan pada masa kanak-kanak dan kita belum mengerti bagaimana menjalani kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi waktu yang benar-benar kita miliki hanya sepertiga bagian atau bahkan seperempat bagian saja. Apa yang Anda rasakan ketika Anda mendengar kesaksian dari orang-orang yang selamat dari bencana? Begitu berat perjuangan mereka untuk dapat bertahan hidup, sehingga mereka dapat berbagi cerita dengan Anda. Saya tidak bermaksud menakut-nakuti, tetapi sekedar mengingatkan begitu singkat dan berharganya hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali jika waktu dan kesempatan yang masih kita miliki tersia-sia karena kita tidak mampu menghargai kesempatan `emas' dari Tuhan YME. Sepantasnya kita bersyukur, karena kita tak harus menjalani masa-masa kritis dimana kemungkinan hidup dan mati sangat tipis akibat sakit, tertimpa bencana alam, kecelakaan dan lain sebagainya. Pasti Anda termasuk orang yang beruntung jika sampai pada bagian ini Anda tergerak hati untuk menggunakan sisa waktu yang masih Anda miliki untuk melakukan banyak hal yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hal di bawah ini mungkin dapat membantu Anda semakin menghargai kehidupan sehingga Anda dapat lebih menikmatinya. Pertama ciptakanlah visi atau impian. Definisikan dengan jelas bagaimana Anda ingin memberi arti bagi kehidupan ini. Javan, penemu gas laser kelahiran Iran mengatakan, "Saya tidak berharap menjadi segalanya bagi setiap orang. Saya hanya ingin menjadi sesuatu untuk seseorang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti Anda mempunya pendapat lain bagaimana memberi arti terhadap kehidupan Anda sendiri. Setelah itu lakukanlah introspeksi diri. Jika Anda menemukan hal-hal yang membuat hidup Anda tidak nyaman, maka rencanakan untuk membuat beberapa perubahan yang dibutuhkan. Pastikan bahwa rencana perubahan-perubahan tersebut dapat mendekatkan Anda pada visi tersebut dan membuat Anda semakin menghargai apa yang Anda miliki. Langkah terpenting selanjutnya adalah melaksanakan perubahan seperti yang sudah Anda rencanakan sebelumnya. Pada proses ini Anda akan menemukan semakin banyak nilai-nilai yang pada akhirnya ikut mempengaruhi pikiran, keputusan, tindakan dan pengalaman hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Anda juga harus pandai memanajemen waktu agar waktu Anda benar-benar termanfaatkan dengan baik. "Decide upon your major definite purpose in life and then organize all activities around it. – Putuskan target hidup Anda secara garis besar, lalu rencanakan tindakan-tindakan untuk mencapainya, " kata Brian Tracy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin keras Anda bekerja, semakin besar hasil yang akan Anda dapatkan. Bukan berarti saya anjurkan kerja keras mengejar materi semata, melainkan mengejar pemenuhan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial. Pemenuhan semua kebutuhan hidup tersebut harus pula seimbangUntuk itu berilah tubuh Anda dengan asupan gizi yang cukup sebagai modal untuk bekerja keras. Dengan fisik yang sehat sangat mungkin Anda dapat melakukan banyak hal yang positif dan menjadikan kehidupan Anda lebih baik dan berarti bagi diri sendiri dan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sia-siakan tubuh Anda dengan melakukan tindakan-tindakan konyol yang membahayakan jiwa atau mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat merusak kesehatan. Jadwalkan secara rutin olah raga atau yoga agar tubuh lebih segar dan berstamina. Gunakan juga kesempatan yang masih tersisa untuk memperluas wawasan. Bacalah buku atau ikuti seminar atau dengarkan radio yang dapat menginsiprasi ide-ide, keterampilan, maupun semangat baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Anda dapat bertindak dan bertutur kata lebih baik sehingga kualitas hidup Anda lebih baik, lebih kreatif, tidak mudah stres atau putus asa. Hubungan sosial sangat penting agar kehidupan Anda lebih menyenangkan. Sekali-kali luangkan waktu bersama-sama orang-orang di sekitar Anda. Jangan segan berbagi waktu atau hadiah-hadiah kecil, misalnya terlibat dalam kerja bakti di lingkungan sekitar rumah, memberi kado unik kepada pasangan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali yang bisa Anda lakukan untuk membangun hubungan baik dengan orang lain agar hidup Anda lebih menyenangkan. Beberapa contoh tindakan sederhana yang dapat Anda lakukan untuk menciptakan hubungan baik dengan orang lain adalah lebih mencintai, lebih banyak memberikan senyuman manis, lebih ramah dalam melayani, dan lain sebagainya. Sedangkan kekuatan spiritual adalah sumber kebajikan, sebagai kunci keseimbangan hidup Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh sebab itu dekatkanlah diri kepada Tuhan YME dengan beribadah dan melaksanakan juga nilai-nilai kebajikan sesuai dengan agama yang Anda anut. Kekuatan spiritual akan mencegah Anda dari kebiasaan- kebiasaan buruk misalnya mengeluh dan lain sebagainya. Sebaliknya Anda menjadi lebih pandai bersyukur dan menghargai kehidupan Anda. Langkah selanjutnya adalah menggunakan nilai-nilai kebaikan dalam agama, sosial, maupun ilmu pengetahuan ke dalam aktifitas kehidupan sehari-hari secara konsisten. Semakin banyak nilai-nilai kebaikan yang dapat Anda terapkan, kehidupan Anda akan terus lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Anda akan dapat menikmati kehidupan yang dulu mungkin Anda anggap jauh dari angan. Dalam melaksanakan beberapa langkah yang saya uraikan di atas tentu membutuhkan kemauan yang keras dan kedisiplinan. Meskipun masing-masing diantara kita memiliki keterbatasan, tetapi Tuhan YME menyediakan banyak sekali pilihan. Saya yakin Anda dapat melaksanakan langkah-langkah tersebut dengan baik, jika Anda betul-betul mencintai diri Anda dan memilih untuk menggunakan kesempatan 'emas' yang masih Anda miliki dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Andrew Ho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5619764726412265342?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5619764726412265342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5619764726412265342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/hidup-begitu-berharga.html' title='Hidup Begitu Berharga'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8620186734271175652</id><published>2008-12-11T19:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T19:49:58.865-08:00</updated><title type='text'>I Save My Love</title><content type='html'>Seorang anak lahir setelah 11 tahun pernikahan.Mereka adalah pasangan yg saling mencintai dan anakitu adalah buah hati mereka. Saat anak tersebutberumur dua tahun, suatu pagi si ayah melihat sebotol obat yg terbuka. Dia terlambat untuk kekantor maka dia meminta istrinya untuk menutupnya dan menyimpannya di lemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istrinya, karenakesibukannya di dapur sama sekali melupakan haltersebut.Anak itu melihat botol itu dan dengan riangmemainkannya. Karena tertarik dengan warna obat tersebut lalu si anak memakannya semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obat tersebut adalah obat yg keras yg bahkan untuk orangdewasa pun hanya dalam dosis kecil saja. Sang istrisegera membawa si anak ke rumah sakit. Tapi si anak tidak tertolong. Sang istri ngeri membayangkan bagaimana dia harus menghadapi suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si suami datang ke rumah sakit dan melihat anaknya yang telah meninggal, dia melihat kepada istrinya dan mengucapkan 3 kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Suami hanya mengatakan  "SAYA BERSAMAMU SAYANG"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reaksi sang suami yang sangat tidak disangka-sangka adalah sikap yang proaktif. Si anak sudah meninggal,tidak bisa dihidupkan kembali. Tidak ada gunanyamencari-cari kesalahan pada sang istri. lagi pula seandainya dia menyempatkan untuk menutup danmenyimpan botol tersebut maka hal ini tidak akan terjadi.Tidak ada yg perlu disalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si istri juga kehilangan anak semata wayangnya. Apa yg si istri perlu saat ini adalah penghiburan dari sang suami dan itulah yg diberikan suaminya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika semua orang dapat melihat hidup dengan cara pandang seperti ini maka akan terdapat jauh lebih sedikit permasalahan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perjalanan ribuan mil dimulai dengan satu langkah kecil"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buang rasa iri hati, cemburu, dendam, egois dan ketakutanmu. Kamu akan menemukan bahwa sesungguhnya banyak hal tidak sesulit yang kau bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;by : Sudjono Salim&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8620186734271175652?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8620186734271175652'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8620186734271175652'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/i-save-my-love.html' title='I Save My Love'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-4537576184336208113</id><published>2008-12-11T01:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-11T01:12:38.953-08:00</updated><title type='text'>Semut dan Lalat</title><content type='html'>&lt;p&gt;Beberapa ekor lalat nampak terbang berpesta di atas sebuah tongsampah di depan sebuah rumah. Suatu ketika, anak pemilik rumahkeluar dan tidak menutup kembali pintu rumah. Kemudian nampak seekorlalat bergegas terbang memasuki rumah itu. Si lalat langsung menujusebuah meja makan yang penuh dengan makanan lezat. "Saya bosandengan sampah-sampah itu, ini saatnya menikmati makanan segar,"katanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah kenyang, si lalat bergegas ingin keluar dan terbang menujupintu saat dia masuk, namun ternyata pintu kaca itu telah terutuprapat. Si lalat hinggap sesaat di kaca pintu memandangi kawan-kawannya yang melambai-lambaikan tangannya seolah meminta agar diabergabung kembali dengan mereka.Si lalat pun terbang di sekitar kaca, sesekali melompat danmenerjang kaca itu, dengan tak kenal menyerah si lalat mencobakeluar dari pintu kaca. Lalat itu merayap mengelilingi kaca dariatas ke bawah dan dari kiri ke kanan bolak-balik, demikian terus danterus berulang-ulang. Hari makin petang, si lalat itu nampakkelelahan dan kelaparan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Esok paginya, nampak lalat itu terkulailemas terkapar di lantai.Tak jauh dari tempat itu, nampak serombongan semut merah berjalanberiringan keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Dan ketikamenjumpai lalat yang tak berdaya itu, serentak mereka mengerumunidan beramai-ramai menggigit tubuh lalat itu hingga mati. Kawanansemut itu pun beramai-ramai mengangkut bangkai lalat yang malang itumenuju sarang mereka.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam perjalanan, seekor semut kecil bertanya kepada rekannya yanglebih tua, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ada apa dengan lalat ini, Pak? Mengapa dia sekarat?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Oh.., itu sering terjadi, ada saja lalat yang mati sia-sia seperti`ini. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya mereka ini telah berusaha, dia sungguh-sungguh telahberjuang keras berusaha keluar dari pintu kaca itu. Namun ketika takjuga menemukan jalan keluar, dia frustasi dan kelelahan hinggaakhirnya jatuh sekarat dan menjadi menu makan malam kita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Semut kecil itu nampak manggut-manggut, namun masih penasaran danbertanya lagi, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Aku masih tidak mengerti, bukannya lalat itu sudah berusaha keras? Kenapa tidak berhasil?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Masih sambil berjalan dan memanggul bangkai lalat, semut tua itu menjawab, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Lalat itu adalah seorang yang tak kenal menyerah dantelah mencoba berulang kali, hanya saja dia melakukannya dengan cara-cara yang sama."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Semut tua itu memerintahkan rekan-rekannya berhenti sejenak seraya melanjutkan perkataannya, namun kali ini dengan mimik dan nada lebih serius, &lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Ingat anak muda, jika kamu melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi mengharapkan hasil yang berbeda, maka nasib kamu akan seperti lalat ini."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Para pemenang tidak melakukan hal-hal yang berbeda, mereka hanya melakukannya dengan cara yang berbeda."&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anonymous&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-4537576184336208113?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4537576184336208113'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4537576184336208113'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/semut-dan-lalat.html' title='Semut dan Lalat'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6975420431605421750</id><published>2008-12-10T01:11:00.000-08:00</published><updated>2008-12-10T01:12:59.271-08:00</updated><title type='text'>Belajar Rendah Hati dari Nelayan</title><content type='html'>Pada suatu sore yang cerah, seorang cendekiawan ingin menikmati pemandangan laut dengan menyewa sebuah perahu nelayan dari tepi pantai. Setelah harga sewaper jam disepakati, keduanya melaut tidak jauh dari bibir pantai. Melihat nelayan terus bekerja keras mendayung perahu tanpa banyak bicara, sang cendekiawanbertanya: "Apa bapak pernah belajar ilmu fisika tentang energi angin dan matahari?""Tidak" jawab nelayan itu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat peluang kehidupan Bapak"Nelayan cuma mengangguk-angguk membisu."APa bapak pernah belajar sejarah filsafat?" tanya cendikiawan."Belum pernah" jawab nelayan itu singkat sambil menggeleng-gelengka n kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cendekiawan melanjutkan " Ah, jika demikian bapak telah kehilangan seperempat lagi peluang kehidupan Bapak". Si Nelayan kembali cuma mengangguk-angguk membisu."APa bapak pernah belajar dan bisa berkomunikasi dengan bahasa asing?" tanya cendikiawan."Tidak bisa" jawab nelayan itu singkat."Aduh, jika demikian bapak total telah kehilangan  tigaperempat peluang kehidupan Bapak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba... .. Angin kencang bertiup keras dari tengah laut. Perahu yang mereka tumpangi pun oleng hampir terguling. Dengan tenang Nelayan bertanya kepada cendekiawan" Apa bapak pernah belajar berenang?"Dengan suara gemetar dan muka pucat ketakutan, orang itu menjawab "Tidak pernah"Nelayanpun memberi komentar dengan percaya diri "Ah, jika demikian, bapak telah kehilangan semua pe luang hidup bapak"...... ......... ......... ......... .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah di atas:&lt;br /&gt;• Jangan meninggikan diri lebih hebat dari orang lain&lt;br /&gt;• Jangan sombong, sebab akan direndahkan Tuhan&lt;br /&gt;• Kita semua memiliki keterbatasan dan memerlukan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;By : Handoko&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6975420431605421750?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6975420431605421750'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6975420431605421750'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/belajar-rendah-hati-dari-nelayan.html' title='Belajar Rendah Hati dari Nelayan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7967739490930500285</id><published>2008-12-05T23:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T23:38:09.048-08:00</updated><title type='text'>Qurban Yang Terbaik</title><content type='html'>Kuhentikan mobil tepat di ujung kandang tempat berjualan hewan Qurban. Saat pintu mobil kubuka, bau tak sedap memenuhi rongga hidungku, dengan spontan aku menutupnya dengan saputangan. Suasana di tempat itu sangat ramai, dari para penjual yang hanya bersarung hingga ibu-ibu berkerudung Majelis Taklim, tidak terkecuali anak-anak yang ikut menemani orang tuanya melihat hewan yang akan di-Qurban-kan pada Idul Adha nanti, sebuah pembelajaran yang cukup baik bagi anak-anak sejak dini tentang pengorbanan Nabi Allah Ibrahim &amp;amp; Nabi Ismail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masuk dalam kerumunan orang-orang yang sedang bertransaksi memilih hewan yang akan di sembelih saat Qurban nanti. Mataku tertuju pada seekor kambing coklat bertanduk panjang, ukuran badannya besar melebihi kambing-kambing di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Berapa harga kambing yang itu pak ?” ujarku menunjuk kambing coklat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Yang coklat itu yang terbesar pak. Kambing Mega Super dua juta rupiah tidak kurang” kata si pedagang berpromosi matanya berkeliling sambil tetap melayani calon pembeli lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tidak bisa turun pak?” kataku mencoba bernegosiasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Tidak kurang tidak lebih, sekarang harga-harga serba mahal” si pedagang bertahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Satu juta lima ratus ribu ya?” aku melakukan penawaran pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Maaf pak, masih jauh.” ujarnya cuek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menimbang-nimbang, apakah akan terus melakukan penawaran terendah berharap si pedagang berubah pendirian dengan menurunkan harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Oke pak bagaimana kalau satu juta tujuh ratus lima puluh ribu?” kataku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Masih belum nutup pak ” ujarnya tetap cuek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Yang sedang mahal kan harga minyak pak. Kenapa kambing ikut naik?” ujarku berdalih mencoba melakukan penawaran termurah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Yah bapak, meskipun kambing gak minum minyak. Tapi dia gak bisa datang ke sini sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja harus di angkut mobil pak, dan mobil bahan bakarnya bukan rumput” kata si pedagang meledek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hati aku berkata, alot juga pedagang satu ini. Tidak menawarkan harga selain yang sudah di kemukakannya di awal tadi. Pandangan aku alihkan ke kambing lainnya yang lebih kecil dari si coklat. Lumayan bila ada perbedaan harga lima ratus ribu. Kebetulan dari tempat penjual kambing ini, aku berencana ke toko ban mobil. Mengganti ban belakang yang sudah mulai terlihat halus tusirannya. Kelebihan tersebut bisa untuk menambah budget ban yang harganya kini selangit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kalau yang belang hitam putih itu berapa bang?” kataku kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Nah yang itu Super biasa. Satu juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah” katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum sempat aku menawar, di sebelahku berdiri seorang kakek menanyakan harga kambing coklat Mega Super tadi. Meskipun pakaian “korpri” yang ia kenakan lusuh, tetapi wajahnya masih terlihat segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Gagah banget kambing itu. Berapa harganya mas?” katanya kagum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Dua juta tidak kurang tidak lebih kek.” kata si pedagang setengah malas menjawab setelah melihat penampilan si kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Weleh larang men regane (mahal benar harganya) ?” kata si kakek dalam bahasa Purwokertoan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” bisa di tawar-kan ya mas ?” lanjutnya mencoba negosiasi juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Cari kambing yang lain aja kek. ” si pedagang terlihat semakin malas meladeni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ora usah (tidak) mas. Aku arep sing apik lan gagah Qurban taun iki (Aku mau yang terbaik dan gagah untuk Qurban tahun ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duit-e (uangnya) cukup kanggo (untuk) mbayar koq mas.” katanya tetap bersemangat seraya mengeluarkan bungkusan dari saku celananya. Bungkusan dari kain perca yang juga sudah lusuh itu di bukanya, enam belas lembar uang seratus ribuan dan sembilan lembar uang lima puluh ribuan dikeluarkan dari dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Iki (ini) dua juta rupiah mas. Weduse (kambingnya) dianter ke rumah ya mas?” lanjutnya mantap tetapi tetap bersahaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pedagang kambing kaget, tidak terkecuali aku yang memperhatikannya sejak tadi. Dengan wajah masih ragu tidak percaya si pedagang menerima uang yang disodorkan si kakek, kemudian di hitungnya perlahan lembar demi lembar uang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Kek, ini ada lebih lima puluh ribu rupiah” si pedagang mengeluarkan selembar lima puluh ribuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Ora ono ongkos kirime tho…?” (Enggak ada ongkos kirimnya ya?) si kakek seakan tahu uang yang diberikannya berlebih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Dua juta sudah termasuk ongkos kirim” si pedagang yg cukup jujur memberikan lima puluh ribu ke kakek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” mau di antar ke mana mbah?” (tiba-tiba panggilan kakek berubah menjadi mbah)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” Alhamdulillah, lewih (lebih) lima puluh ribu iso di tabung neh (bisa ditabung lagi)” kata si kakek sambil menerimanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;” tulung anterke ning deso cedak kono yo (tolong antar ke desa dekat itu ya), sak sampene ning mburine (sesampainya di belakang) Masjid Baiturrohman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;takon ae umahe (tanya saja rumahnya) mbah Sutrimo pensiunan pegawe Pemda Pasir Mukti, InsyaAllah bocah-bocah podo ngerti (InsyaAllah anak-anak sudah tahu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai bertransaksi dan membayar apa yang telah di sepakatinya, si kakek berjalan ke arah sebuah sepeda tua yang di sandarkan pada sebatang pohon pisang, tidak jauh dari X-Trail milikku. Perlahan di angkat dari sandaran, kemudian dengan sigap di kayuhnya tetap dengan semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah perasaan apa lagi yang dapat kurasakan saat itu, semuanya berbalik ke arah berlawanan dalam pandanganku. Kakek tua pensiunan pegawai Pemda yang hanya berkendara sepeda engkol, sanggup membeli hewan Qurban yang terbaik untuk dirinya. Aku tidak tahu persis berapa uang pensiunan PNS yang diterima setiap bulan oleh si kakek. Yang aku tahu, di sekitar masjid Baiturrohman tidak ada rumah yang berdiri dengan mewah, rata-rata penduduk sekitar desa Pasir Mukti hanya petani dan para pensiunan pegawai rendahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti secara materi, sangatlah jauh di banding penghasilanku sebagai Manajer perusahaan swasta asing.Yang sanggup membeli rumah di kawasan cukup bergengsi.Yang sanggup membeli kendaraan roda empat yang harga ban-nya saja cukup membeli seekor kambing Mega Super&lt;br /&gt;Yang sanggup mempunyai hobby berkendara moge (motor gede) dan memilikinyaYang sanggup mengkoleksi “raket” hanya untuk olah-raga seminggu sekali. Yang sanggup juga membeli hewan Qurban dua ekor sapi sekaligus. Tapi apa yang aku pikirkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya hendak membeli hewan Qurban yang jauh di bawah kemampuanku yang harganya tidak lebih dari service rutin mobil X-Trail, kendaraanku di dunia fana. Sementara untuk kendaraanku di akhirat kelak, aku berpikir seribu kali saat membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, Engkau yang Maha Membolak-balikan hati manusia balikkan hati hambaMu yang tak pernah berSyukur ini ke arah orang yang pandai menSyukuri nikmatMu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : HRE Excelency&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7967739490930500285?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7967739490930500285'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7967739490930500285'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/qurban-yang-terbaik.html' title='Qurban Yang Terbaik'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3628870852946995297</id><published>2008-12-05T23:31:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T23:33:10.183-08:00</updated><title type='text'>Nilai Kesadaran</title><content type='html'>Dikisahkan, seorang direktur eksekutif di sebuah perusahaan multinasional berkisah tentang perjalanan kariernya. Saat masih muda, aku bangga pada diriku sendiri yang pintar, lulus sekolah dengan angka yang memuaskan dan bersikap angkuh pada orang-orang yang tidak sepandai aku. Aku dulu egois sekali, mengejar karier secepat mungkin tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang yang aku dahului. Yang penting cepat sampai ke tujuan tanpa pernah menyadari bahwa kepandaian dan caraku memenangkan perdebatan di meja rapat ternyata menyakiti teman-teman dan seniorku sendiri. Yang penting dewan direksi senang dan puas dengan hasil kerjaku, maka karierku pasti akan meningkat dengan pesat begitu pula dengan gaji dan fasilitas yang bakal ku terima. Yang lainnya aku tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikapku yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak merasa perlu bersosialisasi, menyebabkan aku dijauhi teman dan ketika sadar, tiba-tiba aku sendirian! Saat kelelahan karena pekerjaan yang menumpuk, tidak ada satu orang teman pun yang menyapaku apalagi membantu. Ketika sakit, tidak ada yang menanyakan keadaanku apalagi menjenguk. Hidupku begitu kering dan kesepian. Hanya ada satu orang yang menyapaku dengan senyum yang selalu merekah di bibirnya, yaitu si Udin, cleaning service merangkap office boy di kantorku. Sosok pemuda kampung yang ramah dan siap membantu. Sapanya yang khas setiap bertemu, "Selamat pagi, siang, atau sore, Pak." "Mau tambah minum apa?" atau "Apa yang bisa saya Bantu, Pak?" Meskipun pekerjaannya berat, menyiapkan segala properti untuk semua orang di kantor, dia selalu ringan tangan menolong orang lain yang bukan menjadi tugasnya sehingga dia sangat disukai oleh semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saat tidak masuk kerja karena sakit, beberapa orang kantor menyempatkan menengok dan mengumpulkan uang membantu Udin. Diam-diam aku iri kepada udin dan marah kepada diriku sendiri. Iri kepada Udin? Yang cuma cleaning service? Sungguh keterlaluan! Kenyataan itu serasa menamparku dengan keras. Selama berhari-hari aku merenung dan meneliti kembali tujuan hidupku. Apakah aku bahagia dengan perolehan yang telah aku capai selama ini? Apakah ini tujuan hidup yang aku inginkan? Dan banyak lagi pertanyaan yang menggantung di benak ini. Sejak itu, aku sadar dan segera membuat rencana untuk berusaha merubah diri menjadi lebih baik seperti yang aku inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi pribadi yang lebih menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain. Perubahan demi perubahan positif pun terjadi. Sungguh luar biasa. Kesadaranku muncul karena seorang Udin! Pembaca yang budiman, Pepatah bijak mengatakan "Setiap orang bisa menjadi guru bagi orang lain" dan yang sering saya sharingkan, "Sebuah prestasi tanpa dilandasi oleh kepribadian dan pikiran yang positif maka akan rapuh dan mudah runtuh" adalah sangat tepat untuk menggambarkan kisah tadi. Apalah artinya pintar jika hanya menyakiti orang lain, bahkan teman sendiri? Karena sesungguhnya, pintar adalah berkah dari yang Kuasa. Tetapi mampu mengelola kepintaran sehingga bermanfaat dan membahagiakan bagi diri sendiri dan orang lain itu baru lah kebijaksanaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mengevaluasi diri sendiri, untuk selalu menghargai berkah yang diberikan Tuhan kepada kita. Salam sukses luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Nilai Kesadaran oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3628870852946995297?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3628870852946995297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3628870852946995297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/nilai-kesadaran.html' title='Nilai Kesadaran'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-617944333207988675</id><published>2008-12-05T23:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-05T23:25:44.144-08:00</updated><title type='text'>Kisah Yu Yuan</title><content type='html'>Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang&lt;br /&gt; indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah "Saya pernah datang dan saya sangat penurut".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya. Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya. Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 Imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12. Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, "Saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan." Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada ASI dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa. Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papanya mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah. Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya. Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut, sehingga papanya membawa Yu Yuan ke sebuah Puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa. Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri di kursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar $300.000. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli. Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir di kala kata-kata belum sempat terlontar... "Papa saya ingin mati". Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, "Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati?". "Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini." Pada tanggal 18 Juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri. Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: "Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya, lihatlah  foto ini". Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudian memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin. Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang anak yang berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar ke seluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang. Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese di dunia saja telah terkumpul 560.000 dollar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang. Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati.. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: "Yu Yuan, anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan, anakku tercinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita di dalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan&lt;br /&gt; kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu Yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, "Anak yang baik". Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut.  Ia pernah mengalami pendarahan di pencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan. Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah. Pada tanggal 20 Agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: "Tante, kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, "Karena mereka semua adalah orang yang baik hati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Yuan kemudian berkata : "Tante, saya juga mau menjadi orang yang baik hati." Wartawan itupun menjawab, "Kamu memang orang yang baik... Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik". Yu Yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. "Tante ini adalah surat wasiat saya." Fu Yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan di atas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan. Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada Sembilan sebutan singkat tante wartawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang-orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. "Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya. "Saya pernah datang, saya sangat patuh," demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 Agustus, karena pendarahan di pencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instan dan memakannya.. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis. Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air sungguh telah pergi ke dunia lain.. Di kecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan "Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil di atas langit, kepakkanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………" demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan. Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, "Aku pernah datang dan aku sangat patuh" (30 Nov 1996- 22 Agustus  2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambangpun terlukis diraut wajah anak tersebut. "Saya telah menerima bantuan darikehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kamidiatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnyadengan kata-kata "Aku pernah datang dan aku sangat patuh".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-617944333207988675?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/617944333207988675'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/617944333207988675'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/12/kisah-yu-yuan.html' title='Kisah Yu Yuan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-741404848245941244</id><published>2008-11-13T19:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T19:16:04.987-08:00</updated><title type='text'>Kisah Pencuri Kue</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu, ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka. Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan.Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir Kalau aku bukan orang baik, sudah kutonjok dia! Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya, sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir Ya ampun orang ini berani sekali, dan ia juga kasar, malah ia tidak kelihatan berterima kasih. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Belum pernah rasanya ia begitu kesal.Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan. Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terima kasih!".Ia naik pesawat dan duduk di kursinya, lalu mencari bukunya, yang hampir selesai dibacanya. Saat ia merogoh tasnya, ia menahan napas dengan kaget. Di situ ada kantong kuenya, di depan matanya. Koq milikku ada di sini erangnya dengan patah hati, Jadi kue tadi adalah miliknya dan ia mencoba berbagi.Terlambat untuk minta maaf, ia tersandar sedih. Bahwa sesungguhnya dialah yang kasar, tak tahu terima kasih dan dialah pencuri kue itu.Dalam hidup ini kisah pencuri kue seperti tadi sering terjadi. &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kita sering berprasangka dan melihat orang lain dengan kacamata kita sendiri.Serta tak jarang kita berprasangka buruk. Orang lainlah yang kasar, orang lainlah yang tak tahu diri, orang lainlah yang berdosa, orang lainlah yang salah. Padahal kita sendiri yang mencuri kue tadi, padahal kita sendiri yang tidak tahu.Kita sering mengomentari, mencemooh pendapat atau gagasan orang lain sementara sebetulnya kita tidak tahu betul permasalahannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-741404848245941244?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/741404848245941244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/741404848245941244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/11/kisah-pencuri-kue.html' title='Kisah Pencuri Kue'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3331186959775890080</id><published>2008-11-13T18:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-13T19:03:51.876-08:00</updated><title type='text'>Positive Thinking, Negative Thinking, &amp; Right Thinking</title><content type='html'>"Knowing others is wisdom, knowing yourself is enlightenment. "~Lao Tzu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat memberikan in-house traning di perusahaan penghasil pulp and paper nomor dua terbesar di dunia, yang berbasis di Kerinci, Riau, baru-baru ini, ada peserta yang bertanya. "Pak, sebenarnya apa sih yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jujur, saya cukup kaget saat mendapat pertanyaan seperti ini. Bukan karena saya tidak tahu jawabannya. Namun baru kali ini saya harus berpikir secara mendalam mengenai esensi positive thinking dan negative thinking. Selama ini kita selalu yakin dan percaya bahwa positive thinking adalah pikiran yang "positif" dan "bermanfaat" bagi kita. Sedangkan negative thinking adalah pikiran yang negatif dan merugikan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengamini hal ini karena ini yang kita pelajari dari berbagai pembicara terkenal, buku-buku pengembangan diri, dan dari berbagai seminar atau workshop. Setelah diam sejenak untuk berpikir saya lalu menjawab seperti yang saya tulis pada paragraf di atas, "Pikiran positif adalah pikiran yang bermanfaat sedangkan pikiran negatif adalah pikiran yang merugikan diri kita". Jawaban saya tampaknya sudah benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya sadar bahwa jawaban yang saya berikan masih kurang lengkap. Ada dorongan dalam hati saya untuk memperdalam analisis saya terhadap jawaban yang saya berikan. Malam hari, saat sendirian di kamar hotel, saya duduk dan memikirkan dengan mendalam pertanyaan yang diajukan peserta tadi siang, "Sebenarnya apa yang menjadi dasar untuk menentukan yang mana masuk positive thinking dan mana yang masuk negative thinking?" Saat saya merenungkan pertanyaan ini saya langsung teringat dengan berbagai peristiwa yang telah saya alami dalam hidup saya. Saya juga telah mempraktekkan positive thinking. Teman-teman saya juga begitu. Saya teringat pada artikel yang saya tulis yang berjudul "Bahaya Berpikir Positif" yang sempat menjadi kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata positive thinking saja tidak cukup untuk bisa meraih sukses. Positive thinking dan negative thinking masih dipengaruhi oleh persepsi dan keterbatassan pola pikir kita sendiri. Apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang positif ternyata belum tentu positif. Bisa jadi, kita merasa atau yakin pikiran ini positif karena berdasar pada asumsi atau paradigma berpikir yang salah, yang masih dipengaruhi oleh belief system kita, yang kita yakini sebagai hal yang benar. Jadi kita merasa telah berpikir positif atau positive thinking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal belum tentu yang kita lakukan adalah positive thinking. Kita harus bergerak dari negative thinking ke positive thinking dan akhirnya mencapai right thinking. Mengapa right thinking? Right thinking adalah mengetahui siapa diri kita yang sesungguhnya, apa tujuan hidup kita yang tertinggi, apa misi hidup kita di dunia ini, dan menyelaraskan diri dengan hukum abadi yang mengatur alam semesta. Right thinking juga berarti kita berpikir dengan dasar Kebenaran dan menjadi dasar dari semua proses dan level berpikir lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Right thinking berasal dari kesadaran akan kebenaran atau dari realitas yang sesungguhnya dari setiap situasi yang kita hadapi. Right thinking membuat kita mampu melihat segala sesuatu apa adanya, tanpa terpengaruh emosi sehingga kita bersikap netral. Mungkin sampai di sini anda merasa bingung? Ok, saya beri contoh. Misalnya ada orang yang menghina kita. Apa yang kita lakukan? Kalau negative thinking maka kita pasti akan marah besar. Semakin berkobar emosi kita maka akan semakin negatif kita jadinya. Emosi yang dipicu oleh negative thinking ibarat bensin yang disiramkan ke kobaran api. Kita menyalahkan orang yang telah menghina kita. Pokoknya, orang ini yang salah, titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita, biasanya, akan berusaha mengatasi hal ini dengan menggunakan positive thinking. Apa yang kita lakukan? Kita berusaha berpikir positif, berusaha memaafkan, berusaha mengerti, melakukan reframing, berusaha mengendalikan emosi kita, berusaha mencari hal-hal positif dari kejadian ini. Bagaimana dengan right thinking? Dengan right thinking kita mencari kebenaran dari apa yang kita alami. Kita harus melampaui belief system kita untuk bisa menggunakan right thinking.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyakan kepada diri kita, "Kebenaran apa yang terkandung dalam kejadian ini?" Saat kita mendapat jawaban dari hati nurani kita dan kita melakukan tindakan berdasar jawaban yang kita peroleh maka pada saat itu kita telah menggunakan right thinking. Right thinking berarti kita menyadari sepenuhnya bahwa kita bukanlah pikiran kita. Kita adalah yang menggerakkan pikiran kita. Kita mencipta realita hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang kita alami, hal yang baik maupun yang buruk. Saat seseorang menghina kita, apakah benar bahwa "kita" yang dihina? Coba tanyakan pada diri kita secara jujur. "Sebenarnya siapa sih yang dihina? Apakah benar saya dihina? Bagian mana dari diri saya yang merasa dihina?" Kalau kita menggunakan right thinking maka kita sadar bahwa sebenarnya kita tidak dihina. Tidak ada seorang pun yang bisa menghina kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang sebenarnya terjadi adalah kita telah memberikan makna terhadap kejadian itu, berdasar pada asumsi, persepsi, pengalaman hidup di masa lalu, belief system, dan value kita, yang mengakibatkan munculnya emosi negatif. Eleanor Roosevelt dengan sangat bijak berkata, "No one can make you feel inferior without your consent." OK, anda mungkin berkata, "Lha, tapi kita kan tetap tersinggung karena dihina." Kalau anda tetap bersikeras dengan pendapat ini, baiklah, ijinkan saya mengajukan satu pertanyaan pada anda, "Siapakah yang tersinggung atau merasa terhina? Aku? Saya? Aku yang mana? Bagian mana dari diri saya yang tersinggung? " Kalau kita mau jujur maka yang sebenarnya "kena" adalah perasaan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan selanjutnya adalah, "Apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Apakah perasaan kita adalah diri kita?" Tentu tidak. Perasaan, sama dengan pikiran, akan selalu timbul dan tenggelam, tidak abadi, dan sudah tentu bukan diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Positive Thinking, Negative Thinking, &amp;amp; Right Thinking oleh Adi W. Gunawan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3331186959775890080?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3331186959775890080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3331186959775890080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/11/positive-thinking-negative-thinking.html' title='Positive Thinking, Negative Thinking, &amp; Right Thinking'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-950722307361178134</id><published>2008-10-24T19:10:00.000-07:00</published><updated>2008-10-24T19:11:04.306-07:00</updated><title type='text'>Keluarga Semut</title><content type='html'>Pukul 22.30 WIB, huh ... lelahnya aku seharian menyelesaikan pekerjaankantor yang tak habis-habisnya. Kurebahkan tubuhku di lantai depan televisi,sementara kubiarkan TV menyala untuk tetap menjaga agar aku tidak terlelap.Suhu yang sedikit panas memaksaku membuka kemeja dan membiarkan kulitkubersentuhan dengan sejuknya lantai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aaauww ... brengsek!" gumamku Segera kutepis sesuatu yang menggigit lengankuhingga ia terjatuh di lantai, ternyata seekor semut hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar! Apa ia tidak mengerti kepalaku begitu penat dan tubuhku iniseperti mau hancur? Apa ia juga tidak tahu kalau aku sedang beristirahat?"pikirku seraya kembali merebahkan tubuhku.  Tapi, belum sampai seluruh tubuh ini jatuh menempel lantai, "addduuhhh!" Lagi-lagi semut kecil itu menggigitku. Kali ini punggungku yang digigitnya dan gigitannya pun lebih sakit. "heeeh, berani sekali makhluk kecil ini," gerutuku kesal. Ingin rasanya kulayangkan tapak tangan ini untuk membuatnya mati tak berkutik'mejret' di lantai. Namun sebelum tanganku melayang, ia justru sudahmengacung-acungkan kepalan tangannya seperti menantangku bertinju. Kuturunkankembali tanganku yang sudah berancang-ancang dengan jurus 'tepokan maut',kuurungkan niatku untuk menghajarnya karena kulihat mulutnya yang komat-kamitseolah mengatakan sesuatu kepadaku. Awalnya aku tidak mengerti apa yangdiucapkannya, tapi lama kelamaan aku seperti memahami apa yang diucapkannya."Hey makhluk besar, anda menghalangi jalan saya! Apa anda tidak lihat sayasedang membawa makanan ini untuk keluarga saya di rumah ..." Rupanya ia begitu marah karena aku menghambat perjalanannya, lebih-lebih sewaktu punggungku menindihnya sehingga ia harus terpaksa menggigitku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kupersilahkan ia melanjutkan perjalanannya setelah sebelumnya akumeminta maaf kepadanya. Susah payah ia membawa sisa-sisa roti bekas sarapankupagi tadi yang belum sempat kubersihkan dari meja makan. Kadang oleng ke kanan kadang ke kiri, sesekali ia berhenti meletakkan barang bawaannya sekedar mengumpulkan tenaganya sembari membasuh peluhnya yang mulai membasahi tubuh hitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuikuti terus kemana ia pergi. Ingin tahu aku di pojok mana ia tinggal daribagian rumahku ini. Ingin kutawarkan bantuan untuk membantunya membawakanmakanan itu ke rumahnya, tapi aku yakin ia pasti menolaknya. Berhentilah ia di sebuah sudut di samping lemari es sebelah dapur. Di depan sebuah lubang kecil yang menganga, ia letakkan bawaannya itu dan kulihat seolah ia sedangmemanggil-manggil semut-semut di dalam lubang itu. Satu, dua, tiga .... empatdan .... lima semut-semut yang tubuhnya lebih kecil dari semut yang membawamakanan itu berlarian keluar rumah menyambut dengan sukaria makanan yang dibawa semut pertama itu. Dan, eh ... satu lagi semut yang besarnya sama dengan pembawa roti keluar dari lubang. Dengan senyumnya yang manis ia mendekati si pembawa roti, menciumnya, memeluknya dan membasuh keringat yang sudah membasahi seluruh tubuh semut pembawa makanan itu.&lt;br /&gt;Hmmm ... menurutku, si pembawa roti itu adalah kepala keluarga dari semut-semut yang berada di dalam lubang tersebut. Kelima semut-semut yang lebih kecil adalah anak-anaknya sementara satu semut lagi adalah istri si pembawa roti, itu terlihat dari perutnya yang agak buncit. "Mungkin ia sedang mengandung anak ke enamnya" pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut suami yang sabar, ikhlas berjuang, gigih mencari nafkah dan penuh kasihsayang. Semut istri tawadhu' dan qonaah menerima apa adanya dengan penuh senyum setiap rizki yang dibawa oleh sang suami, juga ibu yang selalu memberikan pengertian dan mengajarkan anak-anak mereka dalam mensyukuri nikmat Tuhannya. Dan, anak-anak semut itu, subhanallah ... mereka begitu pandai berterima kasih dan menghargai pemberian ayah mereka meski sedikit. Sungguh suami yang dibanggakan, sungguh istri yang membanggakan dan sungguh anak-anak yang membuat ayah ibunya bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaghfirullah ..., tiba-tiba tubuhku menggigil, lemas seperti tiada daya danbrukkk .... aku tersungkur. Kuciumi jalan-jalan yang pernah dilalui semut-semut itu hingga menetes beberapa titik air mataku. Teringat semua di mataku ribuan wajah semut-semut yang pernah aku hajar 'mejret' hingga mati berkalang lantai ketika mereka mencuri makananku. Padahal, mereka hanya mengambil sisa-sisa makanan, padahal yang mereka ambil juga merupakan hak mereka atas rizki yang aku terima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Air mataku makin deras mengalir membasahi pipi, semakin terbayangtangisan-tangisan anak-anak dan istri semut-semut itu yang tengah menanti ayah dan suami mereka, namun yang mereka dapatkan bukan makanan melainkan justru seonggok jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Allah ... keluarga semut itu telah mengajarkan kepadaku tentang perjuangan hidup, tentang kesabaran, tentang harga diri yang harus dipertahankan ketika terusik, tentang bagaimana mencintai keluarga dan dicintai mereka. Mereka ajari aku caranya mensyukuri nikmat Tuhan, tentang bagaimana perlunya ikhlas, sabar, tawadhu' dan qonaah dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya, ketika hendak merebahkan tubuh di lantai di bagianmanapun rumahku aku selalu memperhatikan apakah aku menghambat dan menghalangi langkah atau jalan makhluk lainnya untuk mendapatkan rizki. Ingin rasanya aku hantarkan sepotong makanan setiap tiga kali sehari ke lubang-lubang tempat tinggal semut-semut itu. Tapi kupikir, lebih baik aku memberinya jalan atau bahkan mempermudahnya agar ia dapat memperoleh dengan keringatnya sendiri rizki tersebut, karena itu jauh lebih baik bagi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Unknown&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-950722307361178134?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/950722307361178134'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/950722307361178134'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/keluarga-semut.html' title='Keluarga Semut'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8521341066862368034</id><published>2008-10-24T18:15:00.001-07:00</published><updated>2008-10-24T18:15:48.109-07:00</updated><title type='text'>Bocah Pembeli Ice Cream</title><content type='html'>Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim.  Karena pendek, Ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji.  Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi Dan indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak sundae cream harganya berapa?" is bocah bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lima ribu rupiah," yang ditanya menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya.&lt;br /&gt;Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara is pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar.&lt;br /&gt;Maklum, banyak pembeli yang lebih "berduit" ngantre di belakang pembeli ingusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau plain cream berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan suara ketus setengah melecehkan, is pramusaji menjawab, "Tiga ribu lima ratus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi is bocah menghitung recehannya, " Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak," kata is bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta.&lt;br /&gt;Is pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu kemudian, is pramusaji membersihkan meja Dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli.  Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, IA terperanjat.  Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi. Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan.  Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun , IA mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi is pramusaji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8521341066862368034?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8521341066862368034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8521341066862368034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/bocah-pembeli-ice-cream.html' title='Bocah Pembeli Ice Cream'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5221158251475624414</id><published>2008-10-17T19:15:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T19:30:42.558-07:00</updated><title type='text'>A Nice Lesson</title><content type='html'>One day, a boy went to a shop with his mother.The shopkeeper looked at the small cute child and showed him a bottle with sweets and said,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dear child, you can have some."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But, the child didn't take any.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The shopkeeper was surprised ... such a small child and he was not helping himself.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Again, he offered some to the boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Now, the mother also heard that and repeated what the shopkeeper had requested.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Once more, the boy didn't move his hand.The shopkeeper seeing this, himself gave some to the child. The boy was happy to get two hands-full of sweets.While returning home, the Mother asked the child,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why didn’t you help yourself to the sweets, when the shopkeeper let you take them?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Can you guess the response?The child replied,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mummy, my hands are very small and I could have only grasped a few sweets. But, you see, when the shopkeeper himself gave them to me with his big hands ... I got so many more!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Moral: When we take by ourselves, we may get just a little, but, when God gives ... He gives us more - beyond our expectations!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Anynomous&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5221158251475624414?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5221158251475624414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5221158251475624414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/nice-lesson.html' title='A Nice Lesson'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2110309857498231353</id><published>2008-10-17T19:03:00.000-07:00</published><updated>2008-10-17T19:12:27.094-07:00</updated><title type='text'>Bangkitkan Semangat Mencapai Kemakmuran dengan Visi</title><content type='html'>"Where there is no vision, the people perish/ die.– Ketiadaan visi membuat manusia mati."~ King Solomon&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terinspirasi begitu besarnya kekuatan visi ketika saya menyaksikan semangat bangsa China menyambut Olimpiade Beijing 2008 yang sangat luar biasa. Semangat dan kesatuan mereka membuat presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, berkomentar, "Ini (olimpiade) bagi rakyat China adalah acara yang sangat berarti." Dulu China adalah negara yang sangat konservatif terhadap budaya asing. Tetapi beberapa tahun belakangan negeri tersebut sudah mulai terbuka terhadap masuknya budaya asing. Ajang olahraga olimpiade menjadi salah satu bukti sikap terbuka bangsa tersebut menerima dunia luar dan menjadi bagian dari era globalisasi. Seluruh masyarakat dari anak-anak sampai lansia ingin menyukseskan agenda penting pemerintah China tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjelang olimpiade digelar sejumlah aturan sudah diterapkan di Beijing, ibu kota China. Aturan tersebut diantaranya adalah dilarang mengupil, menguap, menggaruk kepala saat berbicara dengan orang asing, selalu tersenyum, dan diminta selalu mengatakan `kamu sungguh luar biasa'. Bahkan beberapa kali sudah diselenggarakan kampanye mengubah kebiasaan buruk warga Beijing. Seluruh wargapun mendukung kampanye tersebut, karena dianggap sangat membantu terciptanya budaya berperilaku baik. Ketika saya baru tiba di kota tersebut, saya terkesan dari cara mereka menyambut tamu asing karena begitu banyak kemajuan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesungguhan pemerintah China menyukseskan olimpiade yang mulai digelar 8 Agustus mendatang diikuti keputusan pemerintah setempat menarik 1 juta mobil dari jalanan selama 4 hari, dari tanggal 17-20 Agustus 2008. Langkah tersebut merupakan upaya untuk memperbaiki kualitas udara di Beijing. Beberapa upaya lain juga dilakukan untuk mengatasi polusi sebelum dan selama olimpiade digelar. Tak heran jika jalan-jalan dan fasilitas-fasilitas umum di sana terlihat sangat bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini menunjukkan antusiasme warga menyambut penyelenggaran olimpiade tersebut. Alangkah besar kekuatan sebuah visi, sampai-sampai semua orang di China dengan suka rela menjalankan budaya yang lebih baik. Visi adalah sumber semangat untuk melakukan yang terbaik dan berusaha sekeras mungkin untuk lebih maju. Bill gates mengatakan, "If you have a clear vision, you'll even forget your breakfast. – Jika Anda mempunyai visi yang jelas, mungkin Anda akan lupa sarapan." Lantas saya berpikir mengapa kita tidak mencontoh bagaimana bangsa China begitu bersemangat melakukan banyak perubahan demi tercapainya sebuah visi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa tantangan hidup akhir-akhir ini semakin sulit. Kenaikan harga BBM diklaim sebagai biang atau penyebab kehidupan masyarakat lebih berat. Padahal sangat kecil kemungkinan BBM bakal turun harga. Lalu apakah artinya tak akan pernah ada harapan kehidupan kita lebih baik? Tentu saja semua orang tak ingin kehidupannya terus terpuruk. Bukankah hidup makmur adalah keinginan semua orang? Mengapa tidak kita manfaatkan keinginan tersebut sebagai visi untuk membangkitkan semangat juang kita? Visi mampu berfungsi sebagai sumber semangat jika kita memiliki keyakinan akan adanya harapan kehidupan yang lebih baik jika kelak berhasil mencapai visi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan adalah sumber semangat yang tidak akan pernah padam untuk terus melakukan sesuatu walaupun harus menghadapi banyak kesulitan. Di China semua orang antusias melakukan banyak program menjelang olimpiade misalnya fashions show olimpiade, pawai obor, dan lain sebagainya. Semangat mereka begitu besar, walaupun di negeri tersebut sebenarnya sempat terjadi konflik di Tibet, protes dari luar negri tentang penegakan HAM, bencana banjir, dan gempa bumi di Sichuan. Semangat mereka melaksanakan berbagai agenda kegiatan dikarenakan mereka begitu menginginkan olimpiade tersebut terselenggara dengan baik. Menciptakan kemakmuran hanya dapat dicapai dengan melakukan perubahan-perubahan positif, yaitu perubahan yang membuat kita cepat mengidentifikasi sekaligus menyelesaikan masalah yang menghalangi tujuan kita mencapai kemakmuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila visi itu sudah menjadi bagian dari emosi kita, maka kita akan bersemangat melakukan perubahan, misalnya melakukan peningkatan etos kerja, moralitas, kreativitas, integritas, spiritual, toleransi, keahlian atau intelektual, dan lain sebagainya. Itulah kesan tentang kedahsyatan sebuah visi yang saya rasakan di China, khususnya di Beijing menjelang penyelenggaraan olimpiade. Alangkah beruntungnya bila kita juga dapat memanfaatkan kekuatan visi untuk membangkitkan semangat juang dan melakukan perubahan. Karena semangat adalah satu diantara beberapa modal maya penting untuk meraih kemakmuran.[ aho]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber:   Andrew Ho&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2110309857498231353?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2110309857498231353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2110309857498231353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/bangkitkan-semangat-mencapai-kemakmuran.html' title='Bangkitkan Semangat Mencapai Kemakmuran dengan Visi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2429359353488437232</id><published>2008-10-06T19:12:00.000-07:00</published><updated>2008-10-06T19:13:51.428-07:00</updated><title type='text'>Hidup adalah Perjuangan</title><content type='html'>Suatu hari, seseorang mengamati pergerakan seekor (bakal) kupu-kupu yang berusaha keluar melewati lubang kecil dari sebuah kepompong Setelah sekian lama terus berjuang sampai  suatu saat terhenti dan tanpa ada kemajuan sedikitpun  Setelah sekian lama menunggu dan tidak ada perubahan yang berarti, orang tersebut berinisiatif membantunya dengan cara memperlebar jalan keluar bagi sang kupu-kupu. Sehingga kupu-kupu dapat keluar dengan mudahnya. Kupu-kupu keluar dengan badan yang menggembung,  pendek dan sayapnya kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik demi detik ia cermati dengan penuh  harap agar sayap kupu-kupu tadi bisa mekar dan mengembang untuk  kemudian segera terbang . Lama ditunggu, tidak terjadi juga apa yang ia harapkan. Sang kupu-kupu  hanya bisa merayap ke sana kemari dengan tubuh yang masih menggembung dan sayap yang kusut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sebenarnya terjadi ? Ternyata di balik keinginan baik orang tersebut, sebenarnya ia tidak tahu bahwa perjuangan sang kupu untuk melewati sempitnya lubang kepompong merupakan kehendak Allah SWT sebagai jalan untuk menyalurkan cairan dari tubuh kupu-kupu  ke dalam sayapnya, sehingga membentuk sayap yang siap untuk terbang. Perjuangan merupakan bagian dari kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Allah SWT membiarkan kita menjalani kehidupan tanpa adanya kesulitan, hal itu akan membuat kita kerdil dan lemah; tidak pernah bisa “terbang” . Kita minta kekuatan… Allah memberikan kesulitan untuk cari jalan keluarnya. Kita minta kearifan-Nya, maka Allah malah memberikan kita masalah untuk kita selesaikan. Ketika kita meminta kemakmuran, Allah telah memberikan akal dan kekuatan untuk bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita meminta keteguhan hati…..dan Allah memberikan rintangan dan hambatan untuk kita lalui. Kita berharap rasa cinta kasih dan Allah menghadapkan kita pada orang yang bermasalah yang butuh bantuan kita... Kita mengharap kemurahan-Nya, tapi Allah memberikan kita kesempatan. “Selama ini, kita menerima bukan apa yang kita minta...Allah telah memberikan apa yang kita perlukan” Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijak atas apa yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup mesti dipenuhi optimisme; tidak perlu “minder “menghadapi segala kesulitan dan rintangan. Tunjukkan bahwa kita mampu melewatinya ….. dengan do’a, usaha, ikhtiar dan tawakkal&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2429359353488437232?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2429359353488437232'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2429359353488437232'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/hidup-adalah-perjuangan.html' title='Hidup adalah Perjuangan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8190200584840511118</id><published>2008-10-02T20:35:00.000-07:00</published><updated>2008-10-02T20:59:07.141-07:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta</title><content type='html'>Keindahan hidup akan semakin terpancar ketika cinta hadir dalam jiwa. Melangkah semakin mantap dalam menelusuri jalan kehidupan. Penat lelah akan sirna diterpa oleh cinta. Beruntunglah orang-orang yang hatinya telah disentuh cintaNYA. Segala yang dirasa hanyalah DIA. Teruslah bersemangat dalam mencari cintaNYA. Hanya cintaNYA lah cinta yang sejati. Cinta yang dapat menghantarkan kita ke kehidupan yang nyata. Semoga Allah SWT selalu mendengar orang-orang yang mencari cintaNYA dan menyambut dengan cintaNYA yang begitu sahdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : zulham effendi (si pencari cintaNYA)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8190200584840511118?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8190200584840511118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8190200584840511118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/10/ketika-cinta.html' title='Ketika Cinta'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-183932271918595051</id><published>2008-09-29T01:58:00.000-07:00</published><updated>2008-09-29T02:07:46.859-07:00</updated><title type='text'>Cinta Setulus Jiwa By Opick</title><content type='html'>Syair Lagu " Cinta Setulus Jiwa" yang dilantunkan oleh Opick telah membuat mata ini tidak mampu membendung jatuhnya airmata membasahi pipi. Bapak dan Mamak maafkan aku yang tidak akan pernah mampu membalas kasih sayangmu dan seluruh kebaikanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia Syairnya :&lt;br /&gt;======================================================&lt;br /&gt;Dalam luka&lt;br /&gt;Dalam duka&lt;br /&gt;Engkau ada dan setia&lt;br /&gt;Temani jiwa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surya yang memerah&lt;br /&gt;Senja di langit dunia&lt;br /&gt;Sunyi hatiku&lt;br /&gt;Terbayang wajah mereka...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang memelukku&lt;br /&gt;Menjagaku&lt;br /&gt;Memberiku kasih dan sayang&lt;br /&gt;Mencintaiku&lt;br /&gt;Merawatku tanpa lelah&lt;br /&gt;Setulus jiwamu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sudah langkah hari&lt;br /&gt;Yang memanggil rindu&lt;br /&gt;Di dalam hatiku padamu&lt;br /&gt;Andai bisa ku mengulang waktu&lt;br /&gt;Hanya tuk mengerti akanmu menyentuhmu...&lt;br /&gt;=====================================================&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah Limpahkan Segala RahmatMu kepada Beliau, Ya Allah Ridhoilah Perjalanan Hidup Keduanya. Amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-183932271918595051?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/183932271918595051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/183932271918595051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/09/cinta-setulus-jiwa-by-opick.html' title='Cinta Setulus Jiwa By Opick'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6466279701131938265</id><published>2008-09-24T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-09-24T19:32:37.000-07:00</updated><title type='text'>Tersenyumlah dengan Hati</title><content type='html'>Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling." Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu setiap siswa diminta untuk mempresentasikan didepan kelas. Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir ? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya. Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu. Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya.Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah.Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untuk beristirahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya, dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya." Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian."  Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku! "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan menyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan.Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akan meninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami.Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami."Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami. Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas, ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya ."Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu."Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara  MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan bukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya!Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya! Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya.Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Millis HRExcellency&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6466279701131938265?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6466279701131938265'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6466279701131938265'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/09/tersenyumlah-dengan-hati.html' title='Tersenyumlah dengan Hati'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-253585647208872951</id><published>2008-09-23T23:00:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T23:03:09.161-07:00</updated><title type='text'>Mengakui Kegagalan</title><content type='html'>“Kita harus bersedia menerima kegagalan sebagai peluang untuk belajar, berkembang, memperbaiki diri, membuat permulaan baru, dan bahkan mengakhiri keterpurukan dan sikap menyerah kita.”-- Charles W. McCoy Jr., dalam bukunya 'Why Didn’t I Think of That'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIA sungguh seksi. Bening dan menggairahkan. Siapa pun yang melihatnya, pasti ingin menjamahnya. Jangan salah, dia bukanlah seorang gadis. Dia bernama Macintosh. Tak ada yang menyangkal dengan kecantikan dan kecanggihan komputer keluaran dari &lt;a href="http://www.apple.com/" target="_blank"&gt;Apple&lt;/a&gt; tersebut. Tapi, siapa dapat menduga, perusahaan ini tumbuh dari sebuah kegagalan. Tidak saja dalam menciptakan alat tersebut, tapi juga lika-liku laki-laki si pemiliknya, Steve Jobs.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang marilah kita kembali ke tahun 1976. Dan tengoklah ke dalam garasi milik keluarga Jobs. Di sana, dua anak muda yang kebetulan sama-sama bernama Steve, yaitu Jobs dan Wozniak, tengah asyik mengutak-atik komputer yang bernama Apple 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, perusahaan ini berkembang seperti pohon rambutan di musim panas. Cepat berbuah dan manis. Hasilnya, perusahaan ini tumbuh pesat menjadi a big company. Jobs pun merasa tidak kuasa lagi mengendalikannya. Pada 1983, dia merekrut John Sculley, dari perusahaan Pepsi-Cola, untuk memimpin Apple Computer.Sculey memang pemimpin jempolan. Dia sendiri kemudian menemukan ketidakcocokan dengan Jobs, yang mudah emosi dan berubah pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun kemudian, karena banyak ulah, dia pun memecat Jobs dari jabatannya dan mengusirnya dari Apple. Tragis nian. Orang yang mendirikan perusahaan ternyata harus hengkang dari rumahnya sendiri. Sedih? So pasti. Tak hanya menyesal seumur-umur, Jobs pun mengakui kegagalannya selama memimpin di Apple. Walau sudah begitu, keinginan untuk kembali ke Apple ditolak oleh para petingginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Jobs tak berlama-lama merenungi kegagalannya. Setelah keluar dari Apple, ia mendirikan sebuah perusahaan komputer lagi, NeXT Computer, yang juga tergolong maju dalam hal teknologi. Meski pun canggih, NeXT tidak pernah menjadi terkenal, kecuali di lingkup riset sains. Di tahun 1986, Jobs bersama Edwin Catmull mendirikan Pixar, sebuah studio animasi komputer di Emeryville, California. Satu dekade kemudian, Pixar berkembang menjadi terkenal dan berhasil dengan film terobosannya, Toy Story.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat itu Pixar telah menelurkan film-film yang memenangkan Academy Award, seperti Finding Nemo dan The Incredibles. Perusahaan itu kemudian membeli NeXT seharga US$429 juta di tahun 1996. Dan di tahun itu pula, Apple membawa Jobs kembali ke perusahaan yang ia dirikan. Kisah Jobs menjadi teramat manis. Dia merupakan sedikit orang yang gagal dalam pendidikan. Dia tak pernah tamat kuliah, namun berhasil menjadi satu CEO tersukses. Itulah sekelumit cerita mengenai kegigihan Steve Jobs, pendiri Apple.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika memberikan pidato di Stanford University, Juni 2005, Jobs berterus terang soal kegagalannya di Apple, katanya, ”Saya gagal mengambil kesempatan.” Lebih lanjut, Jobs mengatakan, ”Apa yang terjadi di Apple sedikit pun tak mengubah saya. Saya telah ditolak, namun saya tetap cinta. Maka, saya memutuskan untuk mulai lagi dari nol.” Dari cerita ini tergambar jelas, Jobs tak malu mengakui kegagalannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tak mau menyerah begitu saja. Kemudian Jobs memperbaiki dan mengevaluasi kegagalannya untuk kemudian meraih sukses di tahun-tahun berikutnya. Bagaimana dengan kita? Tentunya kita sering kali mendapatkan kegagalan. Dalam hal apa saja. Termasuk mungkin, gagal dalam cinta. Gagal dalam berbisnis. Gagal dalam pekerjaan. Gagal dalam mendidik anak. Atau bahkan, gagal dalam membina rumah tangga. Sejatinya, kegagalan merupakan suatu hal yang manusiawi. Kegagalan bukanlah sesuatu hal yang buruk. Jadi, mengapa harus malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, apakah kita berani untuk mengakui suatu kegagalan.Mengakui kegagalan memang bukanlah perkara yang mudah. Orang yang dengan tulus mengakui kegagalannya, sudah tentu memiliki jiwa besar. Karena tidak mudah untuk mengakui suatu kegagalan, maka diperlukan tingkat keberanian tersendiri dan kejujuran yang paling dalam.Mengakui kegagalan juga membuka peluang alternatif terbukanya jalan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita pun tak hanya terpaku pada satu jalan. Dan seperti yang dialami Jobs, mengakui kegagalan juga memberikan pelajaran yang lebih baik lagi untuk tidak mengulangi kesalahan pada hal yang sama.Ketika kita mengakui kegagalan, niscaya kita akan melihat seluruh perjalanan yang sudah kita lalui dengan jernih. Alhasil, langkah untuk memperbaikinya dan mengubahnya menjadi lebih ringan dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tentu saja, hal itu harus dibarengi dengan langkah-langkah untuk membuat perubahan. Setelah mengetahui letak kesalahannya, langkah selanjutnya yang ditempuh ialah mengatur kembali rencana berikutnya.Mengakui kegagalan, bukanlah ’gagal, titik sampai disini’. Bukan titik, melainkan koma. Mengakui kegagalan bukanlah suatu pemberhentian akhir, melainkan suatu terminal transit menuju perjalanan berikutnya yang lebih baik. (150908)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Mengakui Kegagalan oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-253585647208872951?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/253585647208872951'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/253585647208872951'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/09/mengakui-kegagalan.html' title='Mengakui Kegagalan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6190800017215983424</id><published>2008-09-23T22:55:00.000-07:00</published><updated>2008-09-23T23:00:09.707-07:00</updated><title type='text'>7 Teknik Mendinginkan Emosi</title><content type='html'>Dalam sebuah hubungan, pertengkaran memang tidak bisa dihindari. Jika tidak hati-hati, masalah kecil akan menjadi besar. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, simak tips mendinginkan suasana ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. TenangAmbil jeda waktu beberapa menit ketika muncul perasaan ingin 'meledak'.Anda bisa pergi ke ruangan lain dan lepaskan 'ledakan' itu di sana. Bila perlu, ambil waktu lebih panjang. Setelah tenang, temui kembali pasangan dan selesaikan masalah dengan kepala dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Hindari Kata 'Selalu' Dan 'Tidak Pernah'"Kamu selalu begitu" atau "Kamu tidak pernah mengerti perasaanku". Ucapan ini sering terlontar ketika kita marah pada pasangan. Padahal, penggunaan kata-kata ini akan semakin memperuncing pertengkaran. Hindari ucapan tersebut atau coba katakan lebih spesifik dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Stop BerultimatumApa pun masalahnya, pertengkaran bukan akhir sebuah hubungan. Jadi, jangan mengeluarkan ultimatum atau mendeklarasikan hubungan Anda telah berakhir.Fokuskan perhatian pada inti masalah. Jangan biarkan diri Anda terbawa suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Jangan Katakan "Aku benci Kamu"Apa pun yang Anda rasakan saat bertengkar, jangan pernah sekali pun mengeluarkan ungkapan benci. Apalagi jika sebenarnya Anda tidak bermaksud seperti yang Anda katakan. Ungkapan seperti, "Aku benci kalau kamu bersikap seperti itu", akan lebih enak didengar dibandingkan "Aku benci padamu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. ToleranTaktik bagus untuk menenangkan dan mendinginkan suasana adalah dengan berkata lembut dan halus pada pasangan yang sedang 'panas' hati.Bersikaplah lebih toleran, sabar dan tempatkan diri Anda di posisinya. Jika Anda tak pernah melakukan hal ini pada pasangan, jangan harap dia akan berbuat sama pada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Jangan Akhiri Pertengkaran Dengan Pertengkaran Maksudnya, jangan mengomentari pertengkaran yang telah lewat secara berlebihan. Tidak penting siapa yang mulai menyela atau berteriak, jika Anda dan dia telah setuju dan berdamai. Hentikan tindakan atau ucapan yang dapat menyulut pertengkaran baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. "Maaf"Kata ini memang memiliki kekuatan magis yang besar dan bekerja sangat baik dalam menyelesaikan pertengkaran. Mintalah maaf kalau pernah berlaku tidak baik selama pertengkaran, meski Anda merasa tidak bersalah dalam pertengkaran tersebut.Bagian terbaik dari sebuah pertengkaran adalah saat berbaikkan. Jadi, berbaikanlah. Nyatakan perasaan cinta Anda dan peluk dia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber : Dari teman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6190800017215983424?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6190800017215983424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6190800017215983424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/09/7-teknik-mendinginkan-emosi.html' title='7 Teknik Mendinginkan Emosi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-4716229596613737195</id><published>2008-08-31T21:17:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T21:21:34.898-07:00</updated><title type='text'>Daun Di Musim Gugur</title><content type='html'>Daun Di Musim GugurPada suatu pagi hari di sebuah musim gugur, tampak seorang anak bekerja menyapu halaman luar sebuah asrama. Pohon-pohon yang rindang di sekitar situ tampak berguguran daunnya. Walaupun bekerja dengan rajin dan teliti menyapu dedaunan yang rontok, tetap saja halaman dikotori dengan ranting dan daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh capek deh. Biarpun menyapu dengan giat setiap hari tetap saja besok kotor lagi. Bagaimana caranya ya supaya aku tidak harus bekerja terlalu keras setiap hari?" sambil masih memegang sapu, si anak sibuk memutar otak memikirkan cara yang jitu. Kepala asrama yang melintas di situ menghampiri dan menyapa, "Selamat pagi Anakku, kenapa kamu melamun? Apa gerangan yang sedang kamu pikirkan?""Eh, selamat pagi Paman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sedang berpikir mencari cara bagaimana supaya halaman ini tetap bersih tanpa harus menyapunya setiap hari. Dengan begitu kan saya bisa mengerjakan yang lain dan tidak harus melulu menyapu seperti sekarang ini."Sambil tersenyum si paman menjawab, "Bagaimana kalau kamu coba menggoyangkan setiap pohon agar daunnya jatuh lebih banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa tahu, dengan lebih banyak daun yang gugur, paling tidak besok daunnya tidak mengotori halaman dan kamu tidak perlu menyapu.""Wah ide Paman hebat sekali!" segera dia berlari mendekat ke batang pohon dan menggoyang-goyangka n sekuat tenaga. Semua pohon diperlakukan sama, dengan harapan, setidaknya besok dia tidak perlu menyapu lagi. "Lumayan bisa istirahat satu hari tidak bekerja," katanya dalam hati dengan gembira.Malam hari si anak pun tidur dengan nyenyak dan puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bangun keesokan harinya, cepat-cepat dia berlari keluar kamar. Seketika harapannya berubah kecewa saat melihat halaman yang kembali dipenuhi dengan rontokan daun-daun. Saat itu pula paman sedang ada di luar dan memperhatikan ulahnya sambil berkata, "Anakku, musim gugur adalah fenomena alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kamu hari ini bekerja keras menyapu daun-daun yang rontok, esok hari akan tetap ada daun-daun yang rontok untuk di bersihkan. Kita tidak bisa merubah kondisi alam sesuai dengan kemauan kita. Daun yang harus rontok, tidak bisa ditahan atau dipaksa rontok. Maka jangan kecewa karena harus bekerja setiap hari. Nikmati pekerjaanmu dengan hati yang senang, setuju?" kata si paman memberikan sebuah pelajaran hidup yang begitu berarti."Setuju paman. Terima kasih atas pelajarannya, " segera dia berlari menghampiri sapunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman,Kalau kita bekerja dengan suasana hati yang tidak gembira, maka semua pekerjaan yang kita lakukan akan terasa berat dan mudah timbul perasaaan bosan. Pepatah mandarin mengatakan:Jin tian de shi qing jin tian zuo, Ming tian hai you xin gong zuo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesaikan pekerjaaan hari ini dengan baik, besok masih ada pekerjaan baru yang harus diselesaikan.Kalau kita telah mampu menikmati setiap pekerjaan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab, maka setiap hari pasti menjadi hari kerja yang membahagiakan dan setiap besok menjadi harapan yang menggairahkan, sehingga kita boleh dengan bangga mengatakan bahwa bekerja adalah ibadah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Daun Di Musim Gugur oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-4716229596613737195?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4716229596613737195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4716229596613737195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/daun-di-musim-gugur.html' title='Daun Di Musim Gugur'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5356386344027691072</id><published>2008-08-31T20:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T21:14:10.024-07:00</updated><title type='text'>Cinta Tanpa Syarat</title><content type='html'>Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, "Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. "Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian," kata kakek. Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul `bagaimana memperkuat tali pernikahan'. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini," kata nenek sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu. Lalu nenek melanjutkan, "Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita." Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. "Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi.... kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek." Nenek segera menimpali, "Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca yang budiman,Sering kali di kehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah di sekeliling kita. Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian. Salam sukses luar biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Cinta Tanpa Syarat oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5356386344027691072?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5356386344027691072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5356386344027691072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/cinta-tanpa-syarat.html' title='Cinta Tanpa Syarat'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1754813454645047763</id><published>2008-08-31T20:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T20:49:44.609-07:00</updated><title type='text'>Memaknai Hari Ulang Tahun</title><content type='html'>"Dan kelak, yang paling penting, bukan berapa lama tahun yang kamu lewati. Tetapi, bagaimana kamu menjalani kehidupanmu sepanjang tahun-tahun tersebut."-- Abraham Lincoln, mantan Presiden Amerika Serikat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; APA yang akan Anda lakukan kalau tiba-tiba dokter memvonis hidup kita tak akan lama lagi? Biar pun si dokter itu bukan Tuhan yang bisa menentukan kapan saja hidup kita berakhir, tetap saja kita akan gemetar. Lutut mungkin langsung terasa copot. Hati menjadi ciut. Pikiran pun menjadi mengkeret. Dan, tak akan ada lagi, boro-boro tahun depan, bulan depan pun mungkin sudah tak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin boleh juga kita kupas cerita tentang Burt Simpson. Dia ini polisi asal Seattle, Amerika Serikat. Nah, menurut dokter setelah memeriksa hasil laboratorium yang rutin Simpson lakukan, hidup Simpson diramal tak lebih dari dua minggu lagi. Simpson tentu saja terkejut. Awalnya, dalam tugas sehari-hari, Simpson sangat takut bila tertembak penjahat. Tapi kemudian malah berubah menjadi berani, bahkan boleh dibilang nekat. Simpson malah mencari-cari risiko berhadapan dengan maut. Sebab dalam otaknya, dia akan mati kapan saja. Buat apa harus hati-hati lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ia harus mati dalam tugas, keluarganya akan dijamin dengan tunjangan oleh negara. Tapi kalau ia mati secara alami, negara tak bisa memberikan apa-apa selain lencana. Begitu pikirannya. Eh, ternyata semua itu palsu. Vonis dokter yang mengatakan gara-gara penyakit anehnya akan membuat dia mati, tak berbuah hasil. Peluru pun malah tak mau mampir di tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua minggu telah lewat, bukan hanya Simpson yang masih segar bugar, tapi juga koleksi para penjahat yang ia tangkap untuk dikirim ke hotel prodeo.Apa yang dialami Simpson memang hanya ada di film 'Short Time'. Film komedi keluaran tahun 1990 ini menampilkan aktor kawakan Dabney Coleman sebagai Detektif Burt Simpson. Kita memang tidak perlu bersikap dan bertindak seperti Simpson, nekat dan selalu siap dalam menantang maut. Pelajaran sederhana yang dapat diambil dalam film tersebut ialah bila kita selalu mengingat akan mati, bisa jadi kita akan selalu terus berbuat baik.Kita memang baru saja merayakan ulang tahun kemerdekaan bangsa ini. Tradisi memperingati hari ulang tahun, memang berlaku untuk siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya berlaku bagi setiap individu, tapi juga bagi suatu negara. Ulang tahun, merupakan contoh bagaimana kita memperingati suatu hari bersejarah dalam hidup kita. Oleh karena itu, setiap tahun pun biasanya kita selalu merayakannya. Mungkin secara sederhana, dengan mengajak makan bersama dengan keluarga atau kolega. Atau yang lebih wah, mengajak para teman dan handai taulan untuk pesta semalam suntuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyannya adalah makna apa yang sesungguhnya dapat diambil dalam setiap ulang tahun yang kita peringati? Yang pasti, dengan bertambahnya angka secara denominasi, tetapi justeru usia makin berkurang. Dengan usia yang makin berkurang, artinya kita malah makin mendekat kepada kematian itu sendiri.Dalam suatu acara seminar, salah seorang politisi Partai Golkar, Yusuf Sukardi, menjelaskan lima arti penting dalam memperingati hal yang bersejarah dalam kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, peringatan harus merupakan cermin atau neraca perjalanan kehidupan. Artinya, dengan peringatan itu, kita dapat mengambil hikmah atas segala hal yang kita perbuat di masa yang telah lalu. Kedua, sebagai pembangkit motivasi. Suatu peringatan harus dapat memotivasi agar berbuat lebih baik dan lebih baik lagi, serta tidak terjebak pada kesulitan yang terjadi di masa lampau. Ketiga, sebagai alat untuk melakukan introspeksi diri. Keempat, suatu peringatan harus dapat dijadikan titik awal penyusunan rencana selanjutnya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, yang paling penting, yaitu memaknai kehidupan hari esok yang lebih baik.Betul, seandainya kita dapat memaknai hidup ini dengan lebih baik, tentu saja kita akan merasa bahwa waktu yang diberikan kepada kita dirasakan pendek. Kita tentu akan berusaha untuk selalu terus berbuat baik.Itulah yang dialami oleh seorang Gitta Sessa Wanda Cantika. Walau ia harus mati di usia muda, tapi Gitta tahu, bagaimana ia memaknai hidup ini dengan penuh arti. Gitta Sessa Wanda Cantika, adalah mantan artis cilik di tahun 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia dinyatakan terkena penyakit kanker ganas yang hanya membutuhkan waktu lima hari untuk berkembang. Gitta pun pasrah melewatkan hidupnya dengan kanker ganas yang mengenai wajahnya, hingga akhirnya menyentuh paru parunya.Tapi dia tetap tegar dan tanpa mengeluh sedikitpun. Hebatnya dari gadis ini, ia tetap ingin menuntut ilmu walau dalam keadaan seperti itu. Ejekan dari orang yang melihatnya tidak ia hiraukan. Di saat ujian kenaikan kelas, tangannya tak mampu lagi bergerak, hingga hidungnya mengeluarkan darah mimisan. Tapi Gitta tetap terus bertahan hingga ujian berakhir, dan dinyatakan lulus naik kelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tekadnya yang membaja terdengar ke Ibu Presiden Megawati, hingga akhirnya Presiden memberikan penghargaaan khusus padanya sebagai siswa teladan. Umur Gitta mungkin dirasakan singkat baginya. Tapi sesungguhnya ia menjalani hidupnya dengan penuh makna. Kualitas hidup seseorang memang tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup. Tapi justeru yang lebih penting, bagaimana kita mengisi hari demi hari dalam kehidupan itu sendiri dengan penuh arti. That's right, Brother? (180808)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Memaknai Hari Ulang Tahun oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1754813454645047763?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1754813454645047763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1754813454645047763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/memaknai-hari-ulang-tahun.html' title='Memaknai Hari Ulang Tahun'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8022149994791678078</id><published>2008-08-31T20:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-31T20:30:26.501-07:00</updated><title type='text'>Ketika Etika Hilang Seketika</title><content type='html'>"Jadikan hidup Anda lebih bermakna, walau hanya sehari sekalipun, dengan mengedepankan etika, bukan hanya mengikuti peraturan belaka." -- Wayne Dyer, pembicara dan penulis asal Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;IBARAT pasar saja. Begitulah keadaan di zaman sekarang, saat pemilihan umum akan bergulir dalam jangka waktu yang tidak lama lagi. Partai-partai menata diri, lebih wangi, lebih kinclong, dan ehm, lebih glamor. Lihat saja para pemain sinetron yang biasa mewek di layar kaca, biasanya yang cakep kebagian peran protagonis yang kemudian bahagia di akhir cerita, tiba-tiba fasih berbicara tentang kemakmuran rakyat. Eh, penyanyi dangdut tanggung, yang nyaris tidak pernah punya hits, tiba-tiba maju menjadi calon wakil bupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga pemain sinetron yang berwajah tampan, selalu menjadi tokoh utama, maju pula menjadi calon legislatif. Alhasil, partai yang semula adem ayem mendadak riuh. Mereka, para politisi kader yang merangkak dari bawah, tiba-tiba kecewa karena posisi mereka didepak dengan kehadiran politisi wangi bau kencur itu.Siapa yang salah? Ah, politik sih di mana-mana selalu begitu. Coba telaah arti dari politik itu sendiri, yang berarti jalan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Nah, partai politik dimanapun, haruslah memiliki cita-cita menjadi partai penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bukan itu yang menjadi cita-cita mereka, yah, mendingan bubar jalan dan membentuk arisan saja.Hanya saja, masalahnya bagaimanakah soal menenggang pengorbanan, perjuangan, dan juga kerja keras yang sudah dilakukan para pekerja partai tersebut. Kesalahan memang tak melulu harus ditimpakan kepada para artis yang dituding menyerobot lahan para kader. Yang mengajak mereka juga perlu dipertanyakan. Kok ujug-ujug orang luar yang didahulukan, bukannya dari kader yang diutamakan. Pada akhirnya, ini menjadi persoalan etika alias menakar kepatutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara itu pula, etika pun hilang seketika.Lihat juga yang terjadi berikutnya. Aktivis partai yang semula berkoar-koar tentang kehebatan platform dan perjuangan partai tiba-tiba saja wuzzzz, pindah kantor, ganti jas seragam, dan juga berganti ideologi. Tak ada yang salah. Namun, isme atau ideologi bukan baju atau ponsel yang ketika kita sudah bosan bisa diganti semaunya. Ada ukurannya, dan yang paling gampang membaca mereka, para konstituennya. Akuntabilitas politiklah yang seharusnya dikedepankan. Janji mereka di awal kepada konstituen, seharusnya menjadi acuan dalam bertindak dan bersikap.Halah, kenapa jadi bicara politik? Basi banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, mari kita bicara dalam konteks pekerjaan misalnya. Dalam kasus yang berbeda, toh lompat pagar, bukan semata milik kaum politisi saja. Para karyawan suatu perusahaan pun dapat melakukan hal yang sama. Karyawan, karena satu dan lain hal, pindah kerja ke perusahaan lain, yang kadang merupakan perusahaan pesaing sebelumnya dimana ia bekerja. Apakah hal itu dapat dibenarkan?Untuk menjawab pertanyaan tersebut ada baiknya kita harus mengetahui dulu, mengapa para karyawan tersebut pindah kerja. Marcus Buckingham dan Curt Hoffman, penulis buku First Break All the Rules mengatakan, bahwa para pekerja sesungguhnya meninggalkan manajer atau direktur, bukan perusahaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan alasan apapun juga, para manajer dan direktur adalah alasan orang bertahan dan berkembang dalam suatu organisasi. Tapi pertanyaan berikutnya, apakah pindah ke perusahaan pesaing dapat dibenarkan? Walaupun para atasan mereka sebelumnya dijadikan alasan mengapa mereka berhenti, secara etika, hal itu tidak dibenarkan. Mengapa? Tentu saja para karyawan yang pindah tersebut membawa rahasia perusahaan, pengetahuan, pengalaman, dan relasi mereka ke perusahaan pesaing mereka. Seandainya mereka pindah ke perusahaan dengan posisi dan usaha yang berbeda, sangat mungkin tidak menjadi masalah.Jadi sekali lagi, masalah etikalah yang menjadi pokok persoalan disini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, etika menjadi bagian yang penting bagi setiap individu, terutama mereka para karyawan yang bekerja di perusahaan. Untuk mengatur etika para karyawannya, termasuk para petinggi mereka, pihak perusahaan menerbitkan kode etik atau biasa kita kenal sebagai code of conduct. Hal yang sama juga berlaku di partai politik, lembaga pemerintahan, organisasi, termasuk asosiasi profesi sekalipun.Bicara etika, sesungguhnya bukan bicara soal 'boleh' atau 'tidak boleh'. Karena soal 'boleh' atau 'tidak boleh', hal itu sudah diatur dalam peraturan. Bila Anda melanggar, Anda akan dikenakan sanksi. Tetapi bila bicara etika, maka kita bicara 'patut' atau 'tidak patut', 'pantas' atau 'tidak pantas'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, etika lebih tinggi dari peraturan. Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita bersinggungan dengan etika, walau kadang tidak menyadarinya. Misalnya saja, ketika kita berulang tahun dan berencana mengajak rekan kerja untuk makan bersama, ternyata pada saat yang bersamaan, sseorang rekan mengalami musibah kematian, ada keluarganya yang meninggal. Tentu saja dalam konteks ini, merayakan ulang tahun dengan makan bersama menjadi tidak tepat lagi. Akan lebih elok, bila uang yang tadinya direncanakan digunakan untuk mentraktir, diberikan kepada sang teman yang mengalami musibah tersebut untuk sedikit meringankan beban. Atau dalam suatu forum, ketika pada waktunya Anda mendengarkan, Anda malah keluar karena menerima panggilan telepon. Bisa juga dalam suatu jamuan makan bersama, karena sudah tak tahan, Anda malah bersendawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam lain kesempatan, ketika Anda sedang makan enak, datanglah pengemis yang kelaparan. Tak ada aturan dalam pasal manapun di undang-undang yang mengharuskan Anda menolongnya. Anda berhak untuk meninggalkan dan mengacuhkannya. Kualitas perilaku Anda, jelas ditentukan oleh bagaimana Anda bersikap dalam menghadapi kenyataan tersebut.Pada akhirnya, derajat kemanusiaan seseorang akan terlihat dari perilakunya dalam menjaga etika, lebih dari sekedar menaati aturan. (250808)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Ketika Etika Hilang Seketika oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8022149994791678078?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8022149994791678078'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8022149994791678078'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/ketika-etika-hilang-seketika.html' title='Ketika Etika Hilang Seketika'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-991849074419378724</id><published>2008-08-19T20:32:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T20:34:19.514-07:00</updated><title type='text'>The Art of Loving</title><content type='html'>"What a grand thing, to be loved. What a grander thing still, to love." Victor Hugo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ketika manusia diciptakan, Tuhan mempunyai rencana indah. Hati yang ditaruh dalam diri setiap manusia tidak lengkap. Ada yang hanya separuh, ada yang sepertiganya saja, tetapi ada juga yang nyaris penuh. Sisanya yang lain, justru sengaja dibuat berkeping-keping dan ditaruh dalam diri manusia yang lainnya. Baru setelah itulah, manusia dikirim ke muka bumi. Dan inilah yang kemudian menjadi tugas manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni mencari dan mendapatkan kembali kepingan hatinya justru melalui hubungan dan perhatiannya kepada orang lain. Mereka yang terobsesi mencari pada dirinya saja akan sia-sia. Namun, inilah permainan yang menarik, melalui cinta dan perhatian kita pada orang lainlah, maka hati kita menjadi utuh kembali. Menariknya pula, kita tidak pernah tahu siapa yang menyimpan kepingan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya bisa mencoba dan berusaha. Kita harus ingat bahwa kita pun menyimpan kepingan-kepingan hati orang lain yang harus kita berikan kepada orang yang layak mendapatkannya. Inilah bagian dari 'seni mencinta' bagi manusia di dunia. Pembaca, minggu ini adalah minggu di mana kita merefleksi akan pentingnya cinta sebagai salah satu motivasi besar untuk kehidupan kita. Minggu di mana kita merayakan Valentine Day, hari kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu penelitian soal cinta yang menarik dari majalah Psychology Today pada 2002 mengatakan bahwa jiwa kita membutuhkan cinta, sama seperti halnya tubuh kita membutuhkan oksigen. Mereka yang kekurangan cinta cenderung akan menjadi mudah depresi. Bahkan, dikatakan bahwa cinta adalah obat anti-depresant terbaik di dunia! Realita justru menemukan bahwa mereka yang gampang depresi tidak mudah untuk mencintai, baik diri mereka sendiri maupun orang lain. Mereka ini jadi sangat berpusat pada diri mereka sendiri. Namun, inilah yang justru menyebabkan mereka dijauhi orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta merupakan seni penting dalam kehidupan kita. Bukan pada manusia saja, bahkan bagi hewanpun, cinta merupakan kunci kehidupan penting. Beberapa penelitian dengan kucing menunjukkan bahwa kucing-kucing yang selama tiga bulan pertama tidak pernah bersentuhan dengan induknya atau manusia, akhirnya akan menjadi kucing liar. Beberapa penelitian lain dengan bayi manusia menunjukkan bahwa anak-anak yang jarang bersentuhan dengan ibunya menjadi lebih kurang merasa aman serta kurang terbuka dalam mengekspresikan perasaannya kepada orang lain. 4 Tip cinta Sayangnya, berbagai film dan cerita romantik membuat kita agak kacau memahami soal cinta. Karena itu ada beberapa landasan penting soal cinta, yang perlu kita bangun kembali. Pertama, mari bedakan antara cinta dan sensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta adalah sesuatu yang lama serta mendalam, sedangkan sensasi hanya sesaat. Banyak orang berusaha mencari ke sana ke mari untuk mendapatkan cinta yang spektakuler, yang menyebabkan hidupnya jadi bertualang dari satu orang ke orang lain. Pada dasarnya ini bukanlah cinta, tetapi sensasi. Hal ini sering jadi penyakit orang-orang terkenal yang ditampilkan dalam berita-berita seputar para selebritas. Saya masih ingat pernah terkagum-kagum dengan perkawinan spektakuler seorang artis dengan pria bule yang kaya dan tampan. Perkawinannya pun dibuat sangat romantis, pokoknya sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ditanya wartawanpun dia berkata, "Saya yakin telah menemukan cinta sejati saya. Saya merasa dialah soulmate saya". Namun, kenyataannya, beberapa tahun kemudian cinta si artis itu pun meluntur. Konon si artis ini menemukan pria tambatan cintanya yang lain. Mereka pun bercerai. Hal ini lantas memberikan kita pelajaran yang menarik. Karena itulah kita melihat cinta bukanlah sekadar pesta meriah, cinta juga bukanlah hanya hadiah luar biasa, atau peristiwa yang spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, jauh dari itu, cinta adalah sesuatu yang wajar, mendalam, menyentuh relung hati yang paling dalam, rasional serta membutuhkan komitmen panjang. Bandingkan dengan kisah cinta artis pop Celine Dion yang pada 2000 memutuskan mundur sementara dari panggung musik, karena suaminya Rene Angelil menderita kanker. Beberapa tahun, dia bahkan hanya menghabiskan waktu merawat suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, tentu saja Celine Dion bisa meneruskan karirnya atau bahkan mencari pria lain, sekalipun. Namun, inilah bukti cinta yang dia perjuangkan demi orang yang dicintainya. Maka, rasanya sangat pantaslah kalau Celine Dion melantunkan lagunya The Power of Love. Dia bukan hanya menyanyikan, tetapi juga membuktikannya. Kedua, cinta bukanlah proses yang pasif. Banyak film dan cerita novel yang seolah-olah mengajari bahwa cinta adalah sesuatu yang kebetulan dan orang hanya menunggu ketika momennya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbalikan dengan semua ini, majalah Psychology Today justru meneliti bahwa mereka yang sehat hubungannya dengan pasanggannya bukanlah yang pasif, tetapi yang justru aktif memberi dan membagikan kasih sayangnya. Sebaliknya, mereka yang depresi lebih sering menunggu dan pasif dalam hal mengekspresikan perasaan ataupun kasih sayangnya. Tidaklah mengherankan kalau dalam kesimpulan majalah Psychology Today tersebut dikatakan bahwa cinta adalah suatu keterampilan yang sangat penting untuk dipelajari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya kita belajar juga seni mencintai dan belajar secara aktif memberikan kasih kita kepada orang-orang sekeliling kita, maka kita pun akan mendapatkannya dalam bentuk balasan berkali-kali lipat. Ketiga, cinta bukanlah bisnis. Banyak orang mencintai dengan harapan akan mendapat balasan tertentu. Akibatnya, saat tidak mendapatkan apa yang diharapkan, orang menjadi mudah kecewa. Begitu pula, ada beberapa orang yang melakukan tuntutan atas nama cinta. "Kalau kamu mencintai, kamu pasti mau begini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah bentuk manipulasi cinta dan ini bukanlah cinta tetapi sebuah transaksi. Dalam cinta yang sesungguhnya kita tidak lagi hitung-hitungan. Bahkan ada banyak kisah di mana justru jika dihitung-hitung secara bisnis, cinta ini merugikan. Namun, ganjarannya adalah kebahagiaan dan inilah yang tak terukur dengan uang. Keempat, perasaan cinta pun menyehatkan secara fisiologis. Perasaan cinta ternyata menghasilkan suatu zat oksitoksin yang sangat berguna bagi tubuh kita. Zat inilah yang membuat kita merasa nyaman, hangat dan ceria terus. Beberapa obat-obatan terlarang juga menghasilkan zat-zat dengan efek yang mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa penelitian dengan pasangan tua yang banyak memberikan pelukan dan mengungkapkan rasa kasih sayangnya, menunjukkan jumlah zat oksitoksin yang lebih banyak dalam kandungan darah mereka. Begitu juga anak-anak yang sering mendapatkan pelukan dan ciuman dari orang tuanya, mempunyai kandung oksitoksin yang lebih tinggi. Yang membuat mereka lebih tidak mudah depresi, lebih ceria dan lebih bahagia dalam hidupnya. "Kata adalah senjata"(Subcomandante Marcos, pejuang Zapatista Brazil)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: The Art of Loving oleh Anthony Dio Martin, Director HR Excellency&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-991849074419378724?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/991849074419378724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/991849074419378724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/art-of-loving.html' title='The Art of Loving'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-5205486968399622184</id><published>2008-08-19T20:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-19T20:31:29.526-07:00</updated><title type='text'>Berpikir Positif Dalam Melayani</title><content type='html'>Berpikir positif! Berpikir positif! Kalimat itu sering sekali didengar di kantor. Berulang-ulang. Apa pun yang terjadi, selalu berpikir positif! Apalagi atasan Neni. Beliau paling suka mengucapkan kalimat tersebut. Neni sih senang-senang saja mendengar kalimat tersebut. Betul juga sih. Manusia harus selalu berpikir positif. Kalau berpikir negatif terus, bisa-bisa wajah jadi kusut dan cepat tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tadi pagi, ada suatu peristiwa yang membuat Neni merasa tidak bisa lagi berpikir positif. Seorang pelanggan setia datang ke kantor. Beliau memang sering berkunjung. Sebagai petugas customer service, Neni menyambutnya, mempersilakan duduk dan menawarkan bantuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti biasanya, pelanggan itu tidak bersikap santai dan gembira, tetapi dia datang dengan wajah kusut. Tanpa senyum lagi. Neni tetap tenang. Setelah duduk, dia menawarkan minuman yang dijawab dengan gelengan kepala. Lalu tiba-tiba dia marah-marah. Neni sendiri masih bingung dan belum mengerti permasalahannya. Neni masih belum mengerti mengapa pelanggan ini marah-marah. Namun, dia tidak diberi kesempatan bertanya. Jangankan bertanya, mau mulai berbicara saja sudah langsung dipotong. Orang itu tidak berhenti marah-marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perusahaan macam apa ini? Tidak profesional! .Tahu ga mbak, saya tidak suka bekerja sama atau berhubungan dengan orang yang tidak profesional. Di kantor saya, semua bekerja secara profesional! Padahal karyawan saya 200 orang mbak. Namun, tidak ada yang mempemalukan perusahaan.. ......."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neni masih belum mengerti juga. Mungkin ekspresi wajah Neni tampak masih bingung dan tidak menanggapi sesuai harapan pelanggan tadi, maka orang itu semakin marah. Bahkan, kini mulai tampak menyerang Neni. "Kok bengong sih mbak?" Neni terkejut mendengar perkataan orang itu dan tidak bisa menjawab apa-apa. "Wah, pantas perusahaannya tidak profesional. Karyawannya saja begini!", kata orang itu, lalu dia pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Neni masih bengong sambil memandangi tamunya pergi. Perlahan-lahan mulailah emosinya muncul. Rasanya sakit hati sekali. Kurang ajar! Memangnya siapa sih dia??? Neni sangat kesal. Betul-betul sakit hati. Kasar amat ngomongnya. Neni sampai tidak tahan, lalu dia masuk ke dalam. Di depan gudang belakang dia menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan atasan Neni mendengar kejadian tersebut. Beliau langsung mencari Neni dan akhirnya menemukannya di depan gudang. Beliau mendekat dan berkata:" Dia bukan marah ke kamu." Sambil menangis Neni menjawab: "Ke saya kok pak. Di sana tidak ada orang lain." "Ya. Tapi dia bukan marah ke kamu." "Jadi marah kepada siapa kalau bukan marah ke saya?" tanya Neni. "Mungkin dia marah kepada dirinya sendiri, mungkin marah kepada perusahaan tempatnya bekerja, mungkin juga marah kepada atasannya, atau mungkin dia ada masalah pribadi yang kita tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya dia patut dikasihani," kata atasannya. Neni diam saja. Huh! Tapi kemudian Neni menurut ketika disuruh cuci muka dan memakai bedak lagi lalu kembali ke mejanya. Tentu saja Neni tidak bisa kerja lagi seperti biasa. Masih kesal. Padahal hari masih pagi, baru pukul 8.30. Unek-unek Saat itulah saya datang ke kantor Neni. Saya kenal baik dengan semua karyawan di sana karena saya rutin memberikan pelatihan di perusahaan tersebut. Melihat wajahnya yang tidak biasa, saya bertanya. Karena masih kesal maka Neni menceritakan semua unek-uneknya. Saat itu saya teringat satu peristiwa yang pernah saya alami. Ketika anak saya baru berusia tiga tahun, seperti biasa kami pulang kampung naik pesawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pesawat, saya dan anak saya mendapat tempat duduk dekat gang, bukan dekat jendela. Padahal anak saya suka sekali duduk dekat jendela. Maklumlah anak kecil. Tapi di dekat jendela telah duduk seorang bapak. Karena anak saya merengek minta pindah, saya mencoba bertanya kepada bapak itu:"Selamat pagi pak. Maaf pak, apakah boleh tukar tempat duduk? Anak saya ingin duduk dekat jendela." Tapi bapak itu diam saja. Saya mengira dia tidak mendengar, maka saya ulangi lagi: "Pak, maaf. Apakah boleh bertukar tempat duduk?", dia masih diam saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar kemudian dia berkata dengan ketus dan singkat "Ga kelihatan apa-apa." Saya tersenyum sambil berkata: "Yah lumayan lah pak, bisa lihat awan. Atau kalau sedang lepas landas, kan bisa melihat keluar jendela." Tiba-tiba dia membentak:"Tidak kelihatan apa-apa! Saya kan sering terbang." Waktu itu saya juga terpancing sehingga saya berkata "Saya juga sering terbang." Lalu saya diam. Kemudian saya minta pindah ke kursi di belakang yang kebetulan kosong sehingga anak saya bisa duduk dekat jendela. Lalu pramugarinya bertanya "Kenapa pindah bu?". Saya jawab "Saya malas di sebelah bapak itu." Lalu pramugarinya bekata "Iya sih bu. Biasanya tidak ada orang yang mau duduk di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dia adalah pelanggan setia kami. Tiap minggu dia dua kali terbang ke Jakarta, dan selalu naik pesawat ini." Yang membuat saya kagum adalah sikap pramugari tadi kepada saya dan kepada bapak itu ternyata sama persis. Sama ramahnya. Saya ceritakan kepada Neni, lalu saya tambahkan "Pramugari tadi tidak membiarkan perasaan dan pelayanannya dipengaruhi oleh sikap orang lain. Dia selalu berpikir positif." What about you?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Berpikir Positif Dalam Melayani oleh Lisa Nuryanti, Managing Director Expands Consulting&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-5205486968399622184?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5205486968399622184'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/5205486968399622184'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/berpikir-positif-dalam-melayani.html' title='Berpikir Positif Dalam Melayani'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1513679922248055092</id><published>2008-08-14T21:14:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:00:16.794-07:00</updated><title type='text'>Mengelola Reputasi</title><content type='html'>"Diperlukan waktu 20 tahun untuk membangun reputasi dan 5 menit untuk menghancurkannya. " -- Warren Edward Buffett, investor dan pengusaha Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;REPUTASI mengalahkan segalanya. Citra dan kepercayaan pelanggan di atas segalanya, tak peduli berapa pun ongkos yang harus dikeluarkan. Tak percaya? Lihatlah apa yang dilakukan pabrikan mobil Jepang, Mazda, belum lama ini. Mazda mengambil keputusan besar untuk memusnahkan sebanyak 4.703 mobil yang masih tergolong keluaran terbaru, jenis Mazda3 dan CX-7. Mazda CX-7 sendiri dipersenjatai mesin MZR 2.3L Direct Injection Spark Ignition turbo. Dengan spesifikasi mesin tersebut, mobil ini punya tenaga maksimum 235Hp pada putaran 5.000rpm, dan torsi maksimum mencapai 350Nm/2.500rpm. Diperkirakan, mobil-mobil yang dimusnahkan tersebut bernilai sekitar US$ 100 juta. Lebih dari sekadar cukup untuk membeli kerupuk untuk dibuat hujan di atas negeri ini. Bukan main. How come? Berbagai pertanyaan pun muncul. Mengapa tidak dilelang saja atau hanya menjual suku cadangnya saja? Ada ceritanya. Hal ini bermula ketika The Cougar, sebuah kapal kargo yang mengangkut 4.703 unit mobil produksi Mazda tersebut mengalami kecelakaan dua tahun silam. The Cougar saat itu tengah menempuh perjalanan laut dari Jepang menuju Vancouver, British Colombia, Tacoma, Washington dan Port Hueneme, California. Namun pada kenyataannya, ribuan mobil itu tak mengalami kerusakan, karena sistem penyimpanan yang aman di dalam kapal. Seperti diungkapkan di awal, citra memang mengalahkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir tahun 2006, Mazda berjanji untuk tidak melempar mobil-mobil yang berada di dalam kapal the Cougar ke pasaran. Beberapa alternatif solusi pun bermunculan, misalnya mobil-mobil tersebut digunakan untuk penelitian di sekolah kejuruan otomotif, atau menggunakannya untuk film-film laga. Toh pada akhirnya, opsi pemusnahan total dinilai menjadi pilihan terbaik. Mazda benar-benar tak ingin bermain dengan risiko, karena tetap saja selalu ada kemungkinan produk-produk itu memiliki keluhan. Jika itu terjadi, cilaka dua belas namanya, bukan hanya divisi garansi Mazda yang mengalami kerepotan, tetapi lebih dari itu, citra dan reputasi Mazda sebagai salah satu produsen otomotif terdepan pun akan hancur. Reputasi bagi sebuah individu, lebih-lebih perusahaan merupakan hal yang penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2004, survey yang dilakukan Hill and Knowlton's Corporate Reputation Watch mendapatkan hasil: "93% of senior executives believe that customers consider corporate reputation important or extremely important." Tahun 2001, polling yang dilakukan Firma Asuransi AON terhadap 2000 perusahaan papan atas di Inggris menunjukkan bahwa kehilangan reputasi dilihat sebagai sebuah risiko terbesar.Kehilangan reputasi yang baik jauh lebih mudah dibanding usaha untuk membangunnya kembali. Dibutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun untuk membangun reputasi yang baik, tetapi diperlukan waktu lima menit saja untuk meruntuhkannya. Lihatlah apa yang dialami perusahaan-perusahaan semacam Enron, Merrill Lynch, General Electric dan WorldCom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan-perusahaan di Indonesia mengambil hikmah akan pentingnya mengelola reputasi perusahaanLantas, apa sesungguhnya yang dimaksud reputasi? Ada banyak teori. Professor Gary Davies dari Manchester Business School memberikan definisi semacam ini, "Reputation is a collective term referring to all stakeholders' views of corporate reputation, including identity and image." Atau dengan kata lain, reputasi merujuk pada semua pendapat orang lain tentang prestasi, mencakup pencitraan dan pengenalan konsepnya. Tentu yang dimaksud reputasi di sini adalah reputasi yang baik, harum, dan positif. Kalau yang buruk, jangan dipelihara, mendingan dihapus lalu diganti dengan yang baik. Nah, untuk itu juga tidak mudah, bahkan lebih berat. Sangat mungkin, dibutuhkan tenaga, pikiran, dan uang yang tidak sedikit. Hal ini bisa kita simak di berbagai media massa, apalagi menjelang pemilihan umum tahun depan. Harus diakui mengelola reputasi bukanlah pekerjaan yang mudah. Masih ingat Pak Raden? Itu loh, tokoh dalam film serial Si Unyil. Bapak tua dengan kumis lebat itu memiliki reputasi yang kurang oke di mata Unyil dan teman-temannya. Kalau Anda yang sempat menonton acara ini ketika ditayangkan di TVRI, tentu tahu sebabnya. Pak Raden memiliki reputasi sebagai orang tua yang kikir, malas kerja bakti, mau menang sendiri, dan suka menyombongkan diri dengan bahasa Belandanya. Lain lagi dengan Pak Ogah, si botak yang lebih suka nongkrong di pos ronda bersama karibnya Pak Ableh, yang juga sama-sama pemalas. Meski mereka pernah punya pabrik batako Ekspress Gembol, tapi karena malas, pabrik itu tak bertahan lama. Tentu bukan itu yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Sekarang, kita ambil lagi kisah lain. Tapi sori-sori stroberi, lagi-lagi dari serial yang pernah ngetop di tahun 1980-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di serial Rumah Masa Depan pernah ada tokoh anak pintar, namanya Sangaji. Anak dengan penampilan kaca mata John Lennon ini terkenal sebagai anak pintar. Dalam sebuah perlombaan adu cerdas, dia harus berhadapan dengan seorang murid yang tidak hanya pintar tapi juga gagah dan kaya. Namun Sangaji sama sekali tidak gugup. Kok bisa? Dia mencitrakan diri sebagai bukan anak orang kaya, tampangnya biasa-biasa saja, tapi berotak encer. Nah, diam-diam siswa lainnya, bahkan juga penonton, menaruh hormat yang luar biasa. Lawannya bisa pintar karena dia punya fasilitas yang luar biasa. Maklum bapaknya kaya raya, tapi justru Sangaji kebalikannya. Di balik kelemahannya, dia memiliki kemampuan lebih. Dengan demikian dia menjadi leluasa, cerdas, dan juga sigap dalam mengelola reputasinya tanpa kehilangan kesan kalah. Kalau mau contoh yang lebih terkini, mungkin bisa dilihat dari perlombaan bintang instan seperti AFI yang sempat booming beberapa tahun silam. Justru, kekurangan menjadi kelebihan. Seorang peserta yang hanya anak dari seorang tukang becak malah bisa menjadi pemenang. Citra yang terbangun itulah yang menggugah pemirsa untuk memilihnya menjadi pemenang. Jelas, di luar dugaan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi mulai saat ini, bila ingin mengelola reputasi, segera ingat-ingatlah reputasi yang melekat pada diri Anda. Hitung untung dan ruginya, pilih dan pilah semuanya. Nah, di kantor Anda dikenal sebagai karyawan yang lebih banyak mengobrol? Sering tidur di saat jam kerja? Atau pendiam tapi penuh dengan ide brilian? misalnya. Silakan pilah dan pilih lagi. Kalau sudah menemukan, bersyukurlah. Kalau ada yang buruk, segera tinggalkan, bisa bertahap atau langsung, just do it, dan tanpa perlu tebar pesona. Kalau ada yang baik, itu artinya tinggal mengelolanya. Bagaimana ketika suatu masalah mengancam reputasi diri Anda? Tentu saja ketika mulai goyah, Anda pun harus menyelamatkannya, tapi tak perlu dengan harus mengeluarkan uang hingga jutaan dolar seperti pabrikan mobil Mazda. Selain tidak punya duit sebanyak itu, untuk sekadar memelihara reputasi sebagai orang royal di kantor, cukuplah dengan mentraktir karyawan lainnya di tukang bakso sebelah. (050508)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Mengelola Reputasi oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1513679922248055092?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1513679922248055092'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1513679922248055092'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/mengelola-reputasi.html' title='Mengelola Reputasi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1935871847302805814</id><published>2008-08-14T21:13:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:02:48.494-07:00</updated><title type='text'>Sang Tunanetra Yang Luar Biasa</title><content type='html'>Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apa pun yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif. Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema "If Better is Possible, Good is Not Enough". Ketika acara, saya mendapat "pelajaran" yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra. Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan. Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, "Success is my right!" Ia adalah contoh nyata orang yang bisa "melihat" dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri. Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, "Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan. " Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat? Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian. Salam sukses Luar Biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Sang Tunanetra Yang Luar Biasa oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1935871847302805814?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1935871847302805814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1935871847302805814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/sang-tunanetra-yang-luar-biasa.html' title='Sang Tunanetra Yang Luar Biasa'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2760292565992627287</id><published>2008-08-14T21:12:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:04:15.380-07:00</updated><title type='text'>Sukses &amp; Arogansi</title><content type='html'>Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, "Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today's rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail." (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaca, itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya. Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat 'merakyat' hidupnya. Akan tetapi, itu dulu. Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, "Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda." Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para 'yes man' yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin 'megalomania' , pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi. Saya teringat dengan seorang klien saya. Sebagai seorang pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya. Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. "Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa," katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para 'penjilat' yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training. Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saat menjalani kursus panjang di Inggris, saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer yang begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku best seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi membuatnya 'dibuang' dari komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer menyalahkan para rekannya. Dia pun dikelilingi oleh mereka yang selalu berkata 'ya' padanya. Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan antipembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka. Terjebak retorika Namun, itulah yang terjadi apabila orang berhenti belajar dan merasa diri sudah selesai. Tanpa dia sadari, lingkungannya terus belajar, berinovasi, dan berkembang. Sementara, dia mandek di posisinya. Akibatnya, kue kesuksesan yang dia peroleh lama-kelamaan menjadi basi. Tanpa sadar, kompetitor mereka bergerak jauh meninggalkan dirinya di belakang. Mereka terjebak dalam retorika, kalimat, jurus yang itu-itu saja alias usang. Arogansi telah menutup hati dan pikirannya untuk kreatif menemukan jurus dan tip-tip baru mempertahankan sekaligus mengembangkan kesuksesannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah, arogansi berujung pada malapetaka dan kehancuran. Jadi, bagaimanakah tipnya agar kesuksesan kita tidak berubah menjadi arogansi? Saya menyebut tip ini dengan kata AWAS! Pertama, Aware (sadar) dengan sikap dan tingkah laku kita selalu. Meskipun sudah sukses, kita perlu memberi waktu untuk menyadari sikap dan perilaku kita di mata orang lain. Selalulah sadar apakah nada dan ucapan serta tindak tanduk kita sekarang semakin membuat banyak orang lain terluka? Apakah kita masih tetap menghargai orang lain? Apalagi orang-orang yang telah turut membawa Anda ke level sukses sekarang, apakah Anda hargai? Jangan sampai, tatkala masih bersusah payah, kita begitu respek, tetapi setelah sukses justru mencampakkan mereka. Kedua, Waspadai umpan balik yang hanya menghibur kita tetapi tidak membuat kita belajar lagi. Hati-hati dengan orang di sekeliling kita yang hanya mengatakan hal bagus, tetapi tidak berani memberikan masukan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, masukan negatif juga kita perlukan demi perkembangan, sesukses apa pun kita. Ketiga, Awasi dan peka dengan perubahan yang terjadi. Dalam buku Who Moved My Cheese disimpulkan bahwa kita harus selalu mencium keju kita, apakah sudah basi ataukah mulai diambil orang lain. Kita pun harus terus mencium dan peka bagaimana orang lain mengembangkan dirinya serta bisa jadi ancaman bagi kita. Jangan pula merasa diri paling hebat dan lupa belajar. Keempat, Sopan dan rendah hati untuk belajar dari orang lain. Ada banyak artis yang ketika belum terkenal sikapnya ramah dan baik. Namun, setelah sukses, ia menjadi sangat sombong, angkuh, ketus, dan bersikap antisosial. Nah pembaca, semoga tulisan ini menginspirasi Anda untuk meraih sukses sejati. Kesuksesan yang membuat Anda tidak arogan. Baiknya kita tutup tulisan ini dengan kalimat kuno yang seringkali sudah kita dengar. Saya hanya mengingatkan kita sekali lagi, "Di atas langit masih ada langit yang lain".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Sukses &amp;amp; Arogansi oleh Anthony Dio Martin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2760292565992627287?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2760292565992627287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2760292565992627287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/sukses-arogansi.html' title='Sukses &amp; Arogansi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-4555007713849332166</id><published>2008-08-14T21:11:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:05:56.651-07:00</updated><title type='text'>Ketika Kacang Lupa Pada Kulitnya</title><content type='html'>”Ingatlah akan asal-usulmu.”-- Donald Rumsfeld, Mantan Menteri Pertahanan Amerika&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEKARANG mari kita bicara soal kacang. Pernah merasakan es cincau dan es susu kacang sekaligus? Bila keduanya dicampur, bagaimana rasanya? Sudah jelas rasanya berubah. Rasanya tak beda dengan minum beraroma kola dicampur kopi tubruk. Pertempuran dalam mulut yang sama-sama kuat dan berakhir dengan musnahnya kedua rasa. Itu pengalaman seorang penggemar kuliner yang sempat merasakan dahsyatnya minuman yang dijual di sebuah kedai di Singapura. Setelah sempat kaget dengan rasa baru, eh, dia pun terkejut dengan nama minuman tersebut. Namanya, Es Michael Jackson. Lo, apa hubungannya? Jangan-jangan, Jaka Sembung naik ojek, gak nyambung jek.Tidak juga ternyata. Es Michael Jackson, mungkin aneh kedengarannya, tapi begitulah faktanya. Ia pun mencoba mencari tahu asal-usul nama es tersebut. Ia pun mereka-reka, pikirnya, hal itu diberikan untuk menyindir Michael Jackson yang aslinya hitam, tetapi kepingin menjadi putih dan malahan menjadi mirip topeng daripada manusia. Ketahuan sekarang rasanya susah dibedakan, bukan susu kacang, bukan juga es cincau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Michael Joseph Jackson adalah legenda penyanyi dari Amerika Serikat. King of Pop, dulu sebutannya begitu, dengan gerakan dansa ‘moonwalk’ yang telah menjadi ciri khasnya. Sayang, dibalik gemerlap kesuksesannya di panggung hiburan, seperti membuatnya kurang percaya diri. Ketenaran dan uang yang berlimpah di usia muda, membuat Jacko, begitu panggilan akrabnya, bisa melakukan apa saja, termasuk melakukan operasi kulit dan wajahnya. Dimulai dengan mengubah bentuk hidungnya yang tidak mancung, Jacko pun mulai ketagihan operasi di wajah dan kulitnya plus pemutihan kulit, yang telah dilakukannya sejak umur duapuluhan. Khalayak luas menganggap Jacko telah melupakan asal-usulnya sebagai ras orang kulit hitam. Jacko dinilai tidak puas atas apa yang telah dianugerahi kepadanya. Kacang lupa pada kulitnya. Persis seperti minuman yang dijual di Singapura, tak jelas lagi perbedaan antara hitam atau putih. Tapi Jacko punya dalih. Katanya, ia mempunyai kelainan pigmen atau memutihnya kulit. Sarung tangan yang menutupi tangan kanannya, katanya untuk menutupi pigmen asing yang mulai menjalar dari sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, mau berbual apa pun, tetap saja tudingan itu sudah melekat padanya. Kacang lupa pada kulitnya.Fenomena ini tidak melulu milik Jacko. Di Tanah Air bejibun contohnya. Para politisi adalah contoh yang paling pas dengan sebutan itu. Di masa kampanye, mereka ngerocos janji ini-itu. Tetapi setelah duduk nyaman di kursi yang diincarnya, eh, dia malah lupa akan janjinya. Janji pada rakyat yang menjadi konstituennya. Lagi-lagi hanya pemeo kacang lupa pada kulitnya diselempangkan pada mereka. Pemeo ini sungguh luar biasa. Para leluhur kita yang membuat sebaris kalimat ini sangat terampil dalam menggunakan kata-katanya. Kacang lupa pada kulitnya, sebuah perumpamaan yang sangat luar biasa. Sebiji kacang bisa melupakan asal usulnya. Pedas, mengena, dan juga menohok. Pepatah tersebut memberikan pesan moral yang sangat mendalam. Bahwa manusia sebagai sebuah individu yang mempunyai kelebihan atas anugerah yang telah diberikan, namun tetap saja membutuhkan bantuan, uluran tangan, dan pertolongan dari orang disekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kacang perlahan tumbuh, yang berawal dari biji, dengan perlindungan dari kulit, maka sang kacang terlindung dari cuaca, embusan angin, dan gangguan lainnya. Karena sang kacang begitu baik terlindung. Tetapi saat kacang berada di meja, ia tak lagi berteman dengan kulitnya, bahkan mencari kulit baru. Ketika kacang dimakan dan dinikmati, sang kulit pun dibuang ke tempat sampah. Saat kesuksesan telah diraih, saat puncak kekuasaan dalam genggaman, saat kehidupan telah membaik, mereka pun kemudian melupakan segala sesuatu yang telah membuat mereka menjadi seperti itu. Seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Dalam kehidupan sehari-hari, kata-kata itu akrab di telinga kita. Untuk seorang kawan lama yang sudah tak punya waktu lagi untuk bertemu atau beranjang sana saja, pemeo itu pun dilekatkan padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang disentil dengan kata-kata itu, sangat terasa menyakitkan di kuping. Jangan pernah sekali-kali meremehkan pentingnya komunikasi dengan kawan lama. Ketika kesuksesan telah menghampiri Anda, jangan lupakan orang-orang di sekitar Anda, atau orang-orang yang telah membesarkan Anda. Bila Anda terus melakukan komunikasi dengan kawan lama Anda, percayalah, bila suatu saat Anda mengalami kesulitan atau kesusahan, maka kawan lama Anda, minimal, akan memberikan perhatian kepada Anda. Syukur-syukur ia akan membantu persoalan yang Anda hadapi.Lantas bagaimana agar kita tidak seperti kacang yang lupa akan kulitnya? Beberapa saran berikut bisa Anda renungi dan lakukan.Jangan pernah melupakan jasa orang lainSaya yakin, Anda pasti pernah dibantu oleh orang lain, walau sekecil apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa balas budi Anda terhadap orang yang membantu Anda? Minimal tentu Anda mengucapkan terima kasih. Anda mungkin saja tidak sanggup membayar atau mengganti secara materi terhadap bantuan yang diberikan kepada Anda. Untuk tidak melupakannya, Anda dapat melakukan komunikasi secara berkala atau sewaktu-waktu kepada orang yang telah membantu Anda tersebut.Jangan lupa ketika suksesJika Anda berada di puncak keberhasilan, jangan lupa dengan sekeliling Anda. Karena mereka semua, Anda berhasil dan sukses. Bagaimana caranya? Anda bisa mengajaknya makan siang bersama, misalnya.Luangkan waktu untuk berkomunikasiAnda bisa juga meluangkan waktu untuk menelepon, atau sekadar mengirim sms kepada teman-teman lama Anda. Anda dapat juga mengirim kartu ucapan Selamat Hari Raya di saat Hari Raya, misalnya.Melakukan KunjunganBerkunjung ke kantor atau ke rumah teman, sahabat, kolega atau pun kawan lama Anda sesekali waktu, bahkan dengan surprise tanpa pemberitahuan, bisa jadi suatu hal yang sangat mulia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Ketika Kacang Lupa Pada Kulitnya oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-4555007713849332166?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4555007713849332166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4555007713849332166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/ketika-kacang-lupa-pada-kulitnya.html' title='Ketika Kacang Lupa Pada Kulitnya'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7647872329704447854</id><published>2008-08-14T21:08:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:07:06.232-07:00</updated><title type='text'>Manisan Keramahan</title><content type='html'>Di tengah kehidupan globalisasi yang semakin sarat dengan persaingan dan tantangan seperti sekarang tidak hanya dibutuhkan usaha keras tetapi juga cerdas untuk dapat bertahan atau meningkatkan prospek bisnis maupun kualitas kehidupan kita. Bersikap ramah merupakan alternatif yang cerdas untuk kita pergunakan mencapai kesuksesan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini beberapa manfaat dari keramahan diantara segudang manfaat lainnya.Mendapatkan kondisi jasmani sehat merupakan salah satu manfaat dari bersikap ramah. Karena tersenyum sebagai bentuk keramahan ternyata dapat merangsang produksi hormon serotonin dan memacu produksi sistem kekebalan tubuh. Hormon tersebut membantu menjadikan kita lebih sehat, segar, dan tenang sehingga memungkinkan kita melakukan banyak aktifitas produktif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, sikap cemberut dan ketus atau marah memicu produksi hormon-hormon yang bersifat meracuni tubuh sehingga mengurangi tingkat kesehatan kita.Keramahan berpengaruh terhadap peningkatan kualitas kesehatan juga dikarenakan keramahan tidak memerlukan banyak energi. Sebaliknya, bersikap tidak ramah atau ketus dan cemberut memerlukan gerak banyak otot, sehingga dapat menguras energi. Tubuh akan terasa lebih cepat letih dan sakit. Itulah mengapa bersikap tersenyum ramah sangat dianjurkan untuk menjaga kesehatan, karena terbukti efisien dan efektif.Sementara itu, senyum dan sapa yang ramah dapat mendorong keinginan orang lain untuk kembali bertemu atau terus berdekatan dengan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka melakukan hal itu karena merasa lebih nyaman dengan keramahan sikap Anda. Itulah mengapa keramahan dinyatakan sebagai langkah sikap yang dapat menimbulkan kesan mendalam dan tidak terlupakan, meskipun mungkin pertemuan yang terjadi cukup singkat atau sudah berlalu cukup lama.Keramahan juga sudah terbukti mampu meningkatkan daya tarik seseorang. Jadi, jangan berkecil hati memiliki penampilan yang biasa-biasa saja. Lengkapi penampilan Anda dengan senyum dan keramahan yang tulus dari dasar hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Niscaya keramahan menjadikan Anda memiliki daya tarik paling memikat bagi siapa pun. Sebagaimana diketahui bahwa kemampuan mengendalikan emosi mendatangkan banyak keuntungan dalam kehidupan kita. Bersikap ramah dengan bersikap santun dan hormat kepada siapa pun merupakan latihan yang sangat efektif untuk meningkatkan kecerdasan mengendalikan emosi. Semakin Anda sering berlatih mengendalikan emosi, maka Anda akan semakin mudah memetik keuntungan dalam berbagai situasi sesulit apa pun.Kelembutan dalam keramahan sikap laksana guyuran air es dingin mematikan panas api yang berkobar. Kekakuan atau kemarahan dapat luluh seketika oleh keramahan yang Anda berikan setulus hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keramahan yang tulus ikhlas tak jarang menumbuhkan kesetiaan untuk menjaga hubungan tetap terjalin indah dan saling memberikan manfaat.Keramahan juga berguna untuk meningkatkan prospek bisnis, meskipun di tengah situasi ekonomi global semakin lesu dan persaingan yang semakin kuat seperti saat ini. Keramahan dalam pelayanan mengistimewakan nilai dari produk yang Anda tawarkan. Dalam hal ini kita dapat belajar dari kesuksesan rumah makan Mamink Daeng Tata di Jakarta.Rumah makan yang didirikan H. Mamink sejak tahun 1993 itu tidak sekadar menyuguhkan makanan yang mengesankan di lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Hendri Adnan, Relationship Manager Resto Mamink Daeng Tata, keistimewaan rumah makan tersebut adalah layanan manis pemilik dan semua karyawanan. Mereka tidak segan-segan menyapa bahkan mengantarkan tamu sampai ke mobil.Demi memelihara keakraban dan kesetiaan para tamu, pihak rumah makan tersebut juga tidak segan mengirim SMS kepada para pelanggan yang sudah lama tidak berkunjung. Alhasil, rumah makan yang sederhana itu setiap hari selalu ramai pengunjung. Bahkan tak jarang para pengunjung harus rela bersabar untuk mendapat tempat.Berbagi dengan orang lain tidak harus selalu sama dengan pengorbanan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap ramah adalah cara yang paling mudah sekaligus murah untuk berbagi. Cobalah tersenyum manis sambil menyapa dengan sopan dan lembut, niscaya itu merupakan amal baik Anda yang disukai banyak orang tak mudah dilupakan.Keramahan tidak akan menyebabkan efek samping yang mematikan kecuali manfaat yang sangat besar untuk meningkatkan kualitas kesehatan, hubungan sosial, bisnis, spiritual, dan lain sebagainya. Nikmat manisnya keramahan tentu saja berbeda dengan manis gula yang dapat menyebabkan diabetes, kebutaan, dan penurunan fungsi organ dalam tubuh lainnya. Beberapa manfaat keramahan tersebut di atas terasa begitu manis seumpama manisan, jadi jangan buang waktu lagi untuk segera menikmatinya. [aho]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manisan Keramahan oleh Andrew Ho, seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku bestseller.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7647872329704447854?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7647872329704447854'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7647872329704447854'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/manisan-keramahan.html' title='Manisan Keramahan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6698904224723811033</id><published>2008-08-14T21:01:00.002-07:00</published><updated>2008-08-15T00:12:05.167-07:00</updated><title type='text'>Jiwa yang Sehat Dobrak Belenggu</title><content type='html'>Saat kita berkaca di cermin kamar dan memandang bayangan yang ada di dalam cermin itu setiap hari, mungkin kita tidak akan asing lagi mengenali wajah tersebut. Ya, memang karena pantulan yang ada di dalam cermin itu adalah wajah yang tidak lain adalah diri kita sendiri.Akan tetapi, sudahkah kita mengenali wajah itu sampai kedalamannya kejiwaan dan hati yang ada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah kita diam sejenak dan memutar pikiran kita, membuka hati kita untuk mencari apa yang harus saya ubah hari ini, apa yang saya lakukan sudah baik untuk diri saya maupun orang-orang di sekitar saya? Apakah saya masih merasa hidup ini sangatlah berarti untuk dijalani? Atau apakah saya memiliki belenggu yang ada di dalam hati saya dan saya belum menemukan kuncinya? Seperti sebuah gembok yang sulit dibuka, karena bukan telah rusak, tetapi hanya kuncinya tidak tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembok itu adalah sesuatu yang membelenggu, sesuatu yang menghambat dan kita sulit untuk melepaskannya.Gembok juga berarti sesuatu yang membuat kita menjadi tidak "produktif'' . Gembok pasti memiliki kunci yang tidak sembarangan untuk membukanya, dengan kunci-kunci yang luar biasa hebat juga barulah gembok tersebut dapat terbuka benar?Saya percaya, bahwa ada beberapa tipe-tipe gembok untuk dibuka, ada yang mudah ada pula yang sulit, bergantung pada tingkat keamanannya. Dan saya sangat percaya, kehidupan kita juga seperti sebuah gembok dan kunci, gembok yang membelenggu kehidupan kita, gembok yang membuat kita tidak dapat menjadi orang yang maksimal dalam arti, "orang sulit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita buka gembok itu. Bagaimana caranya? Tetapi, ingat hanya Andalah orang yang dapat menemukan bagaimana cara terbaik untuk membukanya, karena itu adalah gembok pribadi anda dan hanya Anda yang memiliki kuncinya.Tentu anda akan bertanya? Apakah saya masih memiliki sebuah gembok yang membelenggu? Apakah yang membelenggu saya? Dengan apakah lagi yang harus saya buka? Pertanyaan ini mungkin bisa saja dilontarkan, karena beberapa kondisi juga. Karena saya sudah cukup hidup baik dan jauh dari kata sulit, saya cukup enjoy, jauh dari perselisihan dengan orang lain. Mungkin Anda merasa sudah cukup baik bahkan sempurna dalam hal-hal emosional Anda, mungkin sudah memiliki intrapersonal yang baik dengan orang lain. Akan tetapi, arti kata "cukup" berarti masih ada sedikit yang tersisa benar? Temukan dan tuntaskan hal-hal sisa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah Anda merasa sulit untuk melupakan masa lalu, masihkah Anda kurang berani dalam membuat keputusan dan bertindak, masihkah Anda sulit untuk berkata jujur pada diri sendiri ataupun orang yang Anda sayangi, ataukah di dalam diri Anda sendiri, Anda justru merasa "saya sepertinya terlalu banyak kekurangan" dan sedikit saja kelebihan saya dibandingkan yang dimiliki orang lain.Kunci yang dimaksudkan adalah kunci bagaimana Anda meraih kebahagiaan sejati, kunci bagaimana Anda bangun pada pagi hari selalu bersemangat dan termotivasi untuk melakukan hal-hal yang sudah menjadi rutinitas hidup Anda, dan kunci untuk melepaskan segala kekhawatiran Anda dan melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan sekarang dan tidak menutup kemungkinan Anda dapat mengembangkan apa yang sedari dulu Anda ingin mencoba melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci-kunci Pertama, selalu melihat melalui kacamata yang berbeda, melihat jauh ke depan, melihat seperti Tuhan ingin melihat hidup Anda yang diberkati, bukan hanya sekadar materi atau kebebasan finansial. Lihatlah sekelilingmu dengan rasa semangat, dan selalu menempatkan posisi Anda di posisi orang lain dan coba rasakan perasaan mereka sejenak, dan lakukan yang terbaik yang dapat Anda lakukan untuk mereka. Bayangkan Anda adalah salah satu dari miliaran orang di dunia ini, memiliki hidup yang jauh lebih baik daripada kebanyakan orang yang saat ini tidak dapat berlangganan ataupun mampu membeli koran, tidak dapat membaca, karena buta dari lahir atau akibat kecelakaan. Sesungguhnya, Anda adalah orang yang sangat berbahagia di dunia ini. Nikmati hidup Anda sampai siapa pun yang mengenal Anda juga merasakan ledakan kebahagiaan yang dahsyat yang Anda berikan di setiap aktivitas Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, berhentilah memikirkan masa lalu yang kelam. Jadilah orang yang kuat! Percayakah Anda, bahwa Anda diciptakan sebagai pemenang, bahkan lebih dari seorang pemenang! Mari kita lihat hal indah yang mungkin sudah Anda lupakan di belakang Anda. Dari jutaan benih yang maju untuk membuahi sang telur di dalam rahim ibu Anda bertahun-tahun yang lalu, Andalah yang tidak mati dan memenangkan untuk hidup menjadi manusia pada hari ini.Tuhan ingin sekali Anda hidup di dunia ini, pastilah Ia tidak main-main terhadap hidup Anda! Jadi saya tidak dapat berkata-kata lagi, kalaupun dunia ini terlalu "parah" untuk dijalani, Andalah orang yang berhasil sampai garis akhir, karena Anda terlahir sebagai seorang pemenang di dalam hidup ini! Jadi, bukalah mata hati Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadikan kekuatan justru di saat Anda mengalami kesedihan, jadikan hal-hal pahit pada masa lalu, seperti dilecehkan, dicampakkan mantan kekasih, orangtua Anda yang arogan, orang-orang terdekat Anda, bahkan orang-orang yang baru Anda kenal, dikhianati sahabat sendiri yang Anda sudah menaruh kepercayaan tulus kepadanya. Dikecewakan, apa pun itu buanglah! Dan lupakanlah itu semua.Hal PositifMemang hidup itu keras, tapi tidak sekeras yang Anda bayangkan jika kita selalu mengucap syukur akan hal-hal yang terjadi baik itu buruk maupun menyenangkan. Pikirkanlah hal-hal yang menyenangkan, dan segera lupakan hal-hal yang membuat Anda sakit hati sendiri. Sulit memang, tetapi itulah kunci yang kedua bagi gembok Anda. Selanjutnya, Andalah yang tersulit untuk dilakukan, tetapi sangat mudah diucapkan, yaitu melakukan sesuatu yang positif pada saat hal-hal buruk datang! Sulit benar? Selalulah berhati mulia, bukan berarti memiliki hati yang selalu suci dan "muluk" tanpa dosa, tetapi berusahalah agar itu semua dapat Anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalulah berpikiran dan bertindak dengan positif. Kadang bertindak positif sama seperti tindakan orang gila, seperti legendaris penemu lampu yang pasti tidak asing lagi, Thomas Alfa Edison. Bagi kebanyakan orang pada masa itu, dia dianggap sebagai orang aneh, setengah tuli yang sering membuat hal-hal aneh yang menurut mereka adalah seseorang yang "edan". Mengapa? Karena ia melakukan hal-hal yang positif menurut hidupnya. Ia menemukan kunci yang membuat ia bahagia dengan melakukan eksperimen-eksperim en yang tidak banyak orang sadari akan membuat sejarah luar biasa hebat di dunia ini. Saya tidak bilang Anda harus menjadi "gila" yang tidak tahu juntrungannya (asal senang saja), tetapi saya menyarankan Anda untuk "mencoba gila" dalam arti Anda menjadikan diri Anda sebuah aset berharga yang tidak banyak orang miliki.Apakah Anda sudah menemukan hal-hal apa saja yang Anda cintai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba nyatakan itu dengan selalu tersenyum dalam kondisi apa pun, jangan menyerah!Telah diselidiki seekor rajawali gunung yang akan terbang tinggi dan semakin tinggi pada saat adanya angin badai, mengapa? Mengapa justru rajawali tersebut terbang pada saat sedang angin badai? Mengapa tidak menunggu saja? Dulu saya berpikir, karena rajawali tersebut sedang kehilangan arah, tetapi setelah saya mengetahui kebenarannya bahwa rajawali yang terbang pada saat badai tersebut tahu ia akan menguatkan sayap-sayapnya justru hanya pada saat angin badai yang kencang datang, pada saat itulah rajawali tersebut akan kuat dan semakin kuat! Jangan menunggu lagi, segera temukan kunci tersebut dan buka gemboknya! Dobrak belenggu yang menghambat itu sampai habis ke akarnya, segeralah secepat yang Anda bisa. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jiwa yang Sehat Dobrak Belenggu oleh Raymond Ganie, Counselor for Teens&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6698904224723811033?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6698904224723811033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6698904224723811033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/jiwa-yang-sehat-dobrak-belenggu.html' title='Jiwa yang Sehat Dobrak Belenggu'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-593403328960357971</id><published>2008-08-14T21:01:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:10:14.732-07:00</updated><title type='text'>Mental Buruk Membanding-bandingkan</title><content type='html'>Salah satu kebiasaan buruk masyarakat kita adalah penyakit membanding-bandingk an. Coba perhatikan saat orang sedang bergosip ria. Anda pasti akan mendengarkan orang yang doyan membangga-banggakan dan membanding-bandingk an satu sama lain. Selain itu, beberapa acara di TV juga kentara sekali memamerkan dan membanding-bandingkan satu selebritas dengan selebritas lainnya. Memang tidak selamanya buruk. Semangat membandingkan dengan orang lain, membuat kita sadar bahwa ada orang yang lebih baik dan lebih berhasil daripada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sikap membanding-bandingk an punya akibat yang buruk bagi perkembangan mental apabila tidak diimbangi dengan mentalitas yang konstruktif. Pertama, sikap membanding-bandingk an membuat kita seperti 'minum dari air laut'. Jadi tidak pernah ada puas-puasnya, malahan kita semakin kehausan hingga akhirnya kita kelelahan sendiri. Saya mengenal seorang pria yang selalu berkompetisi dengan kakak dan adiknya. Padahal, secara finansial hidupnya sebenarnya pas-pasan. Namun, demi menjaga gengsi di mata orang tua ataupun adik-adiknya, dia terus berusaha mengimbangi bahkan melebihi adik dan kakaknya secara material. Akhirnya, semua itu membawa dirinya menjadi berutang yang cukup banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sikap membanding-bandingk an membuat kita berada dalam sebuah herarki yang tidak ada putusnya. Saat Anda merasa iri dengan supervisor Anda, mungkin si supervisor Anda pun merasa iri dengan manajernya. Lalu si manajer iri dengan direkturnya. Si direktur ini pun iri dengan direktur yang lain. Demikianlah, semua ini tidak pernah ada putusnya. Ketiga, mentalitas membanding-bandingk an membuat energi emosi kita lebih banyak dihabiskan untuk hal-hal yang justru negatif. Misalkan saja, melihat rekan ataupun teman Anda yang lebih berhasil, Anda pun jadi merasa iri, sebel, cemburu, dan marah. Reaksi semacam ini membuat kebanyakan orang justru terjebak dalam energi yang negatif, seperti berusaha mencari-cari kekurangan orang tersebut. Bahkan, ada yang berusaha mengalahkan dengan cara yang tidak pantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah tipsnya agar kita tidak terjebak dalam sikap membanding-bandingkan yang negatif dan akhirnya justru membenamkan potensi diri kita sendiri? Standar sendiri Pertama, bangunlah standar Anda sendiri. Dalam pelatihan dan seminar, saya tidak bosan-bosannya mengatakan kalimat yang terinpsirasi dari kisah hidup banyak orang sukses, "Saya tidak membandingkan diri saya dengan orang lain. Namun, saya punya standar kesempurnaan yang saya kejar terus-menerus sepanjang saya masih punya napas". Itulah semangat yang dikatakan Donald Trump ataupun Andy Groove, orang yang berjasa sekali membesarkan Intel. Kedua, sadarilah saat Anda membanding-bandingk an diri dengan mereka, mereka pun membanding-bandingk an dengan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah mengalami pengalaman menarik tatkala masih pada awal karier saya sebagai pembicara dan penulis. Saya sangat mengagumi seorang penulis dan pembicara yang sangat produktif. Suatu ketika, saat ketemu, dia pun ternyata mengatakan dia merasa iri dengan beberapa aspek pencapaian dalam kehidupan saya. Saya pun akhirnya sadar, ini bagian dari permainan kehidupan yang mesti kita sadari. Kita akan selalu membanding-bandingk an. Kamu hebat di mana, kamu punya apa, dan seterusnya membentuk suatu daftar panjang yang tidak akan berhenti. Karena itulah, satu-satunya cara adalah tidak membanding-bandingk an dan tidak melihat orang lain dengan perasaan iri. Ingatlah, belajar dari kisah saya di atas, mungkin dia sendiri pun sedang melihat Anda saat ini dengan irinya. Ketiga, setop membanding-bandingk an dan belajar untuk bersyukur dengan apa yang kita capai saat ini. Selama kita sadar bahwa kita telah berusaha secara maksimal dan inilah yang mampu kita capai, belajarlah bersyukur atas apa yang boleh kita nikmati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu khawatir ataupun risau dengan apa yang mereka miliki. Sejauh kita tetap mengembangkan diri kita, tetap dengan rajin dan gigih mau berjuang, saya percaya kita akhirnya akan menikmati seperti yang orang lain nikmati. Namun, kita tidak boleh merasa iri. Memang, pada akhirnya setiap orang sudah punya path (jalannya) sendiri-sendiri. Ada yang jalannya lebih cepat, ada yang lebih perlahan. Namun, kita tak perlu iri apalagi marah dengan 'rumput tetangga yang tampaknya lebih hijau'. Belajar terima kondisi 'rumput' kita saat ini tetapi rajin-rajinlah merawat dan melihat serta mengembangkan kondisi rumput kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin suatu ketika, rumput kita pun akhirnya akan sehijau rumput tetangga. Bahkan, mungkin lebih bagus. Keempat, kalaupun ingin membanding-bandingk an, bandingkanlah dengan dirimu sendiri. Cobalah lihat apakah kehidupan Anda secara umum ada kemajuan dan perkembangan yang lebih baik? Secara spiritual, finansial, karier, emosional, mental (pengetahuan) atau hubungan sosial, bagaimana perkembangannya? Hal ini akan lebih positif dan lebih baik untuk memotivasi Anda menjalani grafik yang semakin menanjak dalam kehidupan Anda. Di sisi lain, energi yang dipakai juga energi positif. Akhirnya, kalaupun Anda masih terobsesi dengan orang lain, lihatlah bukan dengan kacamata perasaan iri, marah, ataupun sebel. Namun, dengan kacamata ingin tahu bagaimana caranya Anda bisa mencontoh apa yang mereka lakukan sehingga Anda pun bisa sesukses mereka-mereka ini. Dengan demikian, cara membandingkan Anda disertai dengan sikap dan emosi yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Mental Buruk Membanding-bandingkan oleh Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-593403328960357971?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/593403328960357971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/593403328960357971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/mental-buruk-membanding-bandingkan.html' title='Mental Buruk Membanding-bandingkan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-647030695553120742</id><published>2008-08-14T21:00:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:13:35.018-07:00</updated><title type='text'>Filosofi Pensil</title><content type='html'>"Setiap orang membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya" (Pepatah Jepang)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya. "Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal." "Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal". "Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia". "Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu" . "Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya. Pembaca, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan. Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna. Hilang arah Tidak mengherankan jika Victor Frankl yang memopulerkan Logoterapi, yang dia sendiri pernah disiksa oleh Nazi, mengemukakan "tujuan hidup yang jelas, membuat orang punya harapan serta tidak mengakhiri hidupnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya, tak mengherankan jika dikatakan bahwa salah satu penyebab terbesar dari angka bunuh diri adalah kehilangan arah ataupun tujuan hidup. Maka, dari filosofi pensil di atas kita belajar mengenai lima hal penting dalam kehidupan. Pertama, hidup harus punya tujuan yang pasti. Apapun kerja, profesi atau pun peran yang kita mainkan di dunia ini, kita harus berdaya guna. Jika tidak, maka sia-sialah tujuan diri kita diciptakan. Celakanya, kita lahir tanpa sebuah instruksi ataupun buku manual yang menjelaskan untuk apakah kita hadir di dunia ini. Pencarian akan tujuan dan panggilan kita, menjadi tema penting selama kita hidup di dunia. Yang jelas, kehidupan kita dimaknakan untuk menjadi berguna dan bermanfaat serta positif bagi orang-orang di sekitar kita, minimal untuk orang-orang terdekat. Jika tidak demikian, maka kita useless.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada gunanya. Sama seperti sebatang pensil yang tidak bisa dipakai menulis, maka ia tidaklah berguna sama sekali. Kedua, akan terjadi proses penajaman sehingga kita bisa berguna optimal, oleh karena itulah, sering terjadi kesulitan, hambatan ataupun tantangan. Semuanya berguna dan bermanfaat sehingga kita selalu belajar darinya untuk menjadi lebih baik. Ingat kembali soal Lee Iacocca, salah satu eksekutif yang justru menjadi besar dan terkenal, setelah dia didepak keluar dari mobil Ford. Pengalaman itu justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berhasil di Chrysler. Ingat pula, Donald Trump yang sempat diguncang masalah finansial dan nyaris bangkrut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kebangkrutannya itulah yang justru menjadi pelajaran dan motivasi baginya untuk sukses lebih langgeng. Kadang penajaman itu 'sakit'. Namun, itulah yang justru akan memberikan kesempatan kita mengeluarkan yang terbaik. Ketiga, bagian internal diri kitalah yang akan berperan. Saya sering menyaksikan banyak artis, ataupun bintang film yang terkenal, justru yang hebat bukanlah karena mereka paling cantik ataupun paling tampan. Tetapi, kemampuan dalam diri mereka, filosofi serta semangat merekalah yang membuat mereka menjadi luar biasa. Demikian pula pada diri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, apa yang ada di dalam diri kita seperti karakter, kemampuan, bakat, motivasi, semangat, pola pikir itulah yang akan lebih berdampak daripada tampilan luar diri kita. Keempat, pensil pun mengajarkan agar bisa berfungsi sempurna kita harus belajar bekerja sama dengan orang lain. Bayangkanlah seorang aktor atau aktris yang tidak mau diatur sutradaranya. Bayangkan seorang anak buah yang tidak mau diatur atasannya. Ataupun seorang service provider yang tidak mau diatur oleh pelanggannya. Mereka semua tidak akan berfungsi sempurna. Agar berhasil, kadang kita harus belajar dari pensil untuk 'tunduk' dan membiarkan diri kita berubah menjadi alat yang sempurna dengan belajar dan mendengar dari ahlinya. Itulah sebabnya, kemampuan untuk belajar bekerja sama dengan orang lain, mendengarkan orang lain, belajar dari 'guru' yang lebih tahu adalah sesuatu yang membuat kita menjadi lebih baik. Terakhir, pensil pun mengajarkan kita meninggalkan warisan yang berharga melalui karya-karya yang kita tinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas kita bukan kembali dalam kondisi utuh dan sempurna, melainkan menjadikan diri kita berarti dan berharga. Itulah filosofi 'memberi dan melayani' yang diajarkan oleh Tuhan kita. Itulah sebabnya Ibu Teresa dari Calcutta ataupun Albert Schweitzer yang melayani di Afrika lebih mengumpamakan diri mereka seperti sebatang pensil yang dipakai oleh Tuhan. Yang penting, hingga pada akhir kehidupan kita ada karya ataupun hasil berharga yang mampu kita tinggalkan. Tentu saja tidak perlu yang heboh dan spektakuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Filosofi Pensil oleh Anthony Dio Martin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-647030695553120742?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/647030695553120742'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/647030695553120742'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/filosofi-pensil.html' title='Filosofi Pensil'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7976951117889410642</id><published>2008-08-14T20:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:16:04.711-07:00</updated><title type='text'>Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta</title><content type='html'>Ausubel dalam artikelnya The Failure of Competition in the Credit Card Market (1991) mengelompokkan pengguna kartu kredit dalam tiga kelompok besar yaitu hampir tidak berisiko, berisiko kecil, dan berisiko besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan Ausubel, berdasarkan observasi saya, ada enam persepsi berbeda di masyarakat kita terhadap kartu kredit. Karena kekurangpahaman mengenai produk perbankan ini dan minimnya self control, tidak jarang persepsi salah yang justru berkembang. Berikut pengelompokan persepsi terhadap kartu kredit versi saya. Kelompok pertama adalah mereka yang melihat kartu kredit lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya. Di mata kelompok ini, tidak ada keuntungan nyata memiliki kartu kredit, sementara biaya tahunan tetap harus dibayarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besar biaya yang hanya beberapa ratus ribu rupiah itu dipandang tidak sesuai dengan manfaat yang diberikan. Kita dapat memaklumi sepenuhnya jika yang berpendapat seperti ini adalah mereka yang berpenghasilan bulanan sekitar Rp2 jutaan atau kurang. Sayangnya, ada juga kawan saya yang bergaji belasan juta rupiah berpikiran seperti ini. Bank tidak menyukai kelompok ini terutama yang mempunyai penghasilan cukup besar, tetapi masih belum dapat diyakinkan akan perlunya kartu kredit dalam kehidupannya. Kelompok kedua adalah mereka yang memahami adanya manfaat dari kartu kredit dan pernah memiliki kartu kredit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, karena kurang dapat mengendalikan diri (self control) saat memegangnya, mereka punya pengalaman buruk berhubungan dengan kartunya. Mereka pernah terlilit utang kartu kredit yang menjerumuskan karena tidak mampu menahan nafsu belanjanya. Karenanya, sama seperti kelompok pertama, persepsi mereka terhadap kartu kredit juga negatif. Bahwa kartu kredit itu bagaikan ranjau yang sangat menjebak atau bahkan racun yang cukup mematikan. ersepsi seperti ini memang sangat disayangkan tetapi terhadap orang yang tidak mempunyai self control, kita tidak mempunyai alternatif terbaik selain menganjurkannya untuk berhenti menggunakan kartu kredit. Ini lebih baik daripada kehidupannya diuber-uber tagihan kartu kreditnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bank tidak menyukai kedua kelompok pertama ini. Kelompok ketiga adalah yang menilai kartu kredit itu sangat bermanfaat karena mempermudah manajemen kas dan belanja barang yang dibutuhkan. Kartu kredit sangat diperlukan saat kita menginap di hotel berbintang, menjamu rekan bisnis bersantap di restoran berkelas, menunggu saat keberangkatan di bandar udara, atau saat kita berada di luar negeri. Kelompok ini akan menggunakan kartu kredit untuk menikmati semua kemudahan di atas. Saat tagihan jatuh tempo sekitar 2 - 6 minggu kemudian, mereka akan melunasi seluruh tagihannya. Inilah kelompok convenience users. Walaupun berisiko sangat rendah, kelompok ini bukan yang paling disukai bank. Dari convenience users ini, bank hanya akan memperoleh iuran tahunan yang tidak seberapa nilainya, selain merchant's fee tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah persepsi yang benar dan dilakukan mereka yang bijak dalam finansial. Yang disukai bank Kelompok keempat adalah yang memandang kartu kredit sebagai peningkatan batas belanja bulanan. Mereka tidak segan untuk membeli tidak saja barang yang dibutuhkan tetapi juga barang yang diinginkan. Saat tagihan datang, kelompok ini sebenarnya mempunyai kemampuan untuk melunasinya karena mempunyai akumulasi dana dan kekayaan yang cukup, tetapi mereka tidak melakukannya. Mereka lebih suka mengangsur tagihan minimum yang hanya sebesar 10% itu karena terasa sangat meringankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah kelompok berisiko rendah menurut Ausubel dan yang paling disukai bank. Kelompok inilah yang diincar dan diperebutkan bank penerbit kartu kredit. Bank tidak ragu untuk memberikan iuran keanggotaan gratis untuk satu atau dua tahun pertama dan memberikan limit kredit hingga puluhan juta rupiah untuk kelompok ini. Kelompok kelima adalah mereka yang cenderung high profile. Tidak hanya sebagai peningkatan kapasitas belanja, kartu kredit juga dipandang sebagai tambahan kas atau uang tunai di dompetnya. Jika diperlukan, kadang hanya untuk pamer diri, kelompok ini tidak ragu menggunakan kartu kreditnya untuk menarik ATM tunai. Ketika tagihan datang, kelompok ini hanya mampu untuk melunasi angsuran minimum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun mempunyai persepsi yang salah, kelompok ini tetap sanggup membayar angsuran minimum setiap bulannya. Selama kewajiban minimum ini dapat dipenuhinya, kelompok ini berisiko sedang dan juga disukai bank penerbit. Bank mulai khawatir terhadap kreditnya kepada kelompok ini saat mereka lupa atau mulai kesulitan melunasi angsuran minimum yang hanya 10% dari saldo utangnya. Kelompok keenam adalah mereka yang lebih besar pasak daripada tiang. Sama seperti persepsi sebelumnya, kelompok ini juga suka mengambil ATM tunai. Bedanya, kelompok ini mempunyai begitu banyak keinginan dan kurang menyadari kemampuan finansialnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelompok ini umumnya juga tidak mampu membatasi diri saat berbelanja. Akibatnya, tagihan bulanannya terus meningkat. Inilah kelompok pengguna kartu kredit yang berisiko tinggi yang paling tidak disukai dan sangat dihindari bank. Bukannya mendatangkan keuntungan, bank justru menderita kerugian menghadapi kelompok ini. Memahami enam persepsi di atas, di kelompok mana Anda berada? Harapan saya, Anda masuk kelompok ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta oleh Budi Frensidy, Staf pengajar FEUI dan penulis buku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7976951117889410642?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7976951117889410642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7976951117889410642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/kartu-kredit-dibenci-dan-dicinta.html' title='Kartu Kredit, Dibenci dan Dicinta'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-2368248792308156836</id><published>2008-08-14T20:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:17:43.607-07:00</updated><title type='text'>Menuju Titik Nol</title><content type='html'>"Jagalah hati, jangan kau nodai, jagalah hati lentera hidup ini. "-- KH. Abdullah Gymnastiar, pendakwah dan penyanyi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERITA ini sungguh mengejutkan. Seorang teman mengabarkan ayahnya terserang stroke. Mengejutkan, karena dia seorang dokter, yang tentunya paham dengan kesehatan. Pengalaman dan pengetahuan, dia ngelotok betul soal `do and don't' dalam segala hal yang terkait soal kesehatan. Lain dari itu, dia memiliki gaya hidup yang sederhana. Namun, apa mau dikata, Pak Dokter ini terserang stroke.Stroke adalah tersumbatnya aliran darah secara akut alias mendadak, biasanya disebabkan gumpalan darah. Stroke merupakan penyebab kematian nomor tiga, setelah penyakit jantung dan kanker, namun merupakan penyebab kecacatan nomor satu. Awalnya memang penderitanya kebanyakan kaum tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun belakangan ini, kita sering mendengar penderitanya pun datang dari kalangan muda. Intinya sih, mau tua atau masih muda, kalau sudah terjadi penyumbatan gumpalan darah yang menyebabkan pembuluh sobek atau terjadinya infeksi vaskuler, ya sok atuhlah, stroke pun datang menghampiri. Penyebab stroke antara lain karena kebiasaan merokok, tekanan darah tinggi, dan kegemukan. Satu pemicu utamanya adalah gaya hidup yang tidak sehat, umumnya penderita tidak mengontrol makanan yang masuk ke dalam tubuh. Lama-lama, makanan yang uenak tenan itu malah menjadi biang penyakit. Sret, satu urat tersumbat, stroke pun datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang balik lagi pada kisah Pak Dokter. Semua gaya hidup sudah dijalani. Dia tidak memiliki korek api yang dipakainya untuk merokok. Penyakit pun, no way. Dalam soal makanan pun, ia selalu memilih makanan yang baik dan sehat. Olah raga pun ia lakukan dalam seminggu, walau tidak terlalu rutin. Lantas apa yang menyebabkan ia terkena stroke? Secara medis tak ditemukan tanda-tanda penyulut penyakit itu. Akhirnya muncul cerita ini. Sang teman menjelaskan sebab musababnya. Menurutnya, ayahnya sering kali menyimpan berbagai masalah yang ada di dalam hati. Ayahnya sering kali merasa jengkel dan dongkol dalam beberapa masalah, termasuk masalah sepele. Atau ia sering kali merasa sakit hati. Hal itu ia simpan sendiri di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa disadari, perlahan-lahan kebiasaan ini berbuah petaka. Rupanya, inilah yang menyebabkan ayahnya mengalami penyempitan pembuluh darah di otak.Tidak ikhlas? Mungkin itu kata yang paling tepat. Sebuah keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita, memang seringkali menyebalkan dan sangat mengganggu. Kekalahan atau kegagalan, dan juga kehilangan, merupakan hal yang amat sulit untuk diterima. Akibatnya, kita pun berada dalam keadaan yang tidak stabil antara menerima dan menolak. Nah, bila menerima, artinya kita ikhlas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, bila tidak, dia akan bersemayam di dalam hati. Tanpa terasa, dada pun terasa sesak. Itulah yang kita rasakan saat pacar memutuskan hubungan tanpa sebab, dus, malah tahu-tahu menikah dengan orang lain, atau mendapati pasangan berselingkuh, meski semua yang terbaik sudah kita berikan. Memang, untuk mengikhlaskan semua kekalahan, kegagalan atau kehilangan, bukanlah pekerjaan mudah. Bila dunia ini sepenuhnya dapat ikhlas dalam segala persoalan, pasti tidak pernah akan ada perang yang memakan ribuan atau jutaan korban jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila semua orang ikhlas, tentu tidak pernah ada yang namanya ilmu santet.Riset pun menjelaskan bahwa satu kunci menuju hidup bahagia ialah menjaga hati agar selalu terbebas dari rasa kebencian. Dan, bersihkan pikiran dari segala kekawatiran. Jadi, belajarlah untuk menerima segala sesuatunya dengan hati yang lapang. Masih sulit? Pergilah ke hutan, berteriaklah di sana. Keluarkan segala kecewa di hati. Takkan ada yang terganggu. Kalau kejauhan, masuklah ke kamar mandi. Lalu tutup pintu. Tapi awas, jangan sampai tetangga tahu-tahu terbangun kaget dikira ada maling beneran atau kucing garong. Atau pergilah berenang, di dalam air, luapkan tangis. Di kubangan air, takkan pernah ada yang menduga bahwa Anda tengah menangis. Profesor Jeffrey Lohr, dari William Fulbright College of Arts and Sciences, menjelaskan bahwa berteriak memberikan sensasi pengendoran otot yang tegang karena kondisi stres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Dr. William Frey, dari University of Minnesota, menemukan bahwa menangis terbukti dapat membuat seseorang merasa lebih baik. Karena air mata yang keluar berfungsi melepaskan ketegangan saraf pada tubuh. Asal tentu saja bukan air mata buaya. Itu kalau Anda kesulitan mengeluarkan segala kekecewaan di dalam hati.Kembali lagi soal ikhlas. Lalu bagaimanakah agar kita bisa sepenuhnya ikhlas? Tanyalah dalam hati. Ikhlas sejatinya kondisi perasaan di dalam hati. Karena itu belajar ikhlas juga berarti belajar melihat dengan hati, mendengar dengan hati, dan tentunya, mengikuti kata hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Erbe Sentanu, penulis buku 'Quantum Ikhlas', dalam kondisi ikhlas, otak memproduksi hormon serotonin dan endorfin yang menyebabkan seseorang merasa nyaman, tenang, dan bahagia. Dalam zona ikhlas, bertebaranlah berbagai energi positif: rasa syukur, sabar, juga termasuk fokus. Kita pun tiba-tiba merasa penuh tenaga. Energi ikhlas ini lalu menyebar ke setiap bagian tubuh.Erbe Sentanu sendiri mempunyai kisah mengenai keikhlasan. Setelah enam tahun menikah, Erbe divonis dokter mengalami aspermatozoa. Suatu kondisi seseorang tidak akan dapat memiliki keturunan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya Erbe terkejut, tetapi ia ikhlas. Dalam penyerahan diri kepada Tuhan, Erbe membayangkan suatu hari nanti ia akan dikaruniai buah hati. Hingga suatu hari ia melakukan uji kualitas sperma. ''Tidak mungkin. Dari nol persen spermatozoa menjadi tiga puluh persen dalam tiga minggu? Tidak mungkin!'' seru sang dokter terkaget-kaget ketika membaca hasil laboratorium. Kini Erbe memiliki putra bernama Shankara Premaswara.Pada akhirnya, ikhlas merupakan kata kunci untuk hidup sehat. Untuk menuju kestabilan hati, manusia memang perlu katup pelepas. Berteriak dan menangis merupakan satu jalan keluarnya. Setelah letih, hati dan kepala biasanya akan berkompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan, keikhlasan untuk melepas kekalahan dan kehilangan, yang akan kita peroleh. Agar hati menjadi netral dan bersih, seperti sebuah speedometer, pada akhirnya, ia kembali ke titik nol. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Menuju Titik Nol oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-2368248792308156836?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2368248792308156836'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/2368248792308156836'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/menuju-titik-nol.html' title='Menuju Titik Nol'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3066364856465555576</id><published>2008-08-09T03:01:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:20:36.649-07:00</updated><title type='text'>Konsekuensi Kerja</title><content type='html'>Dalam banyak kamus bahasa, uang diberi pengertian yang itu-itu juga. Ia disebut sebagai alat pembayaran yang sah, dibuat dari logam –– emas, perak, atau lainnya–– atau barang cetakan dan dipergunakan sebagai ukuran nilai/harga sesuatu, diberi dan diterima dalam jual&lt;br /&gt;beli. Jika kata uang dilacak asal usulnya, maka John Ayto menyebutkan beberapa kata seperti moneta (Romawi Kuno), monere (Latin), moneie (Perancis), dan money (Inggris), sebagai cikal bakal atau nenek moyang istilah uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin akan lain halnya jika sejarah uang ditulis menurut orang Tiongkok Kuno, atau Yahudi dan Arab. Dan ketika dunia mulai mengenal uang plastik, maka pengertian credit dan debet&lt;br /&gt;card sebagai alat pembayaran yang sah dan diterima di banyak tempat mesti ikut dimasukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah uang ––terlepas dari berbagai varian bentuknya–– hanya berfungsi sebagai alat pembayaran yang sah? Mungkin tidak. Uang juga berfungsi sebagai simbol dari kemakmuran seseorang. Dengan uang, banyak hal bisa diperoleh, termasuk kekuasaan dan (maaf) seks. Hubungan antara uang dengan kekuasaan mungkin tersirat dari perkataan Deng Xiao Ping, "money talks loudly". Ya, uang bisa berbicara nyaring. Dalam kancah politik, uang dapat dipergunakan untuk membeli suara, membeli kedudukan dan pengaruh. Tak penting apakah sebuah negara menganut kapitalisme ––dengan atau tanpa kepedulian sosial&lt;br /&gt;sekalipun–– ataupun komunisme, uang memainkan peran yang sama pentingnya. Tanpa uang atau likuiditas dalam jumlah tertentu, sebuah pemerintahan bisa ambruk diterpa badai krisis seperti yang kita alami di Indonesia beberapa tahun terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara uang dengan seks, amat jelas. Seks bisa dibeli dengan uang atau orang bisa menjual seks untuk mendapatkan uang. Tentu seks yang demikian haruslah dibedakan dengan (sebab ia bukan) cinta, sama seperti membeli kasur mewah dan empuk tak menjamin bisa tidur nyenyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hubunganya dengan kemakmuran, jumlah uang yang dimiliki  seseorang, misalnya, dapat menjamin pola hidup seperti apa yang dapat tetap dijalaninya sekalipun ia kehilangan nafkah utama pada suatu saat (di-PHK atau pensiun, misalnya). Dengan jumlah tabungan dalam&lt;br /&gt;jumlah tertentu (besarnya relatif), orang tak perlu khawatir bila harus kehilangan pekerjaan. Apalagi bila ia pandai menginvestasikan harta kekayaannya itu dengan bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena `daya guna' uang yang besar itulah maka tak heran jika kebanyakan orang bekerja untuk mendapatkan uang. Masalahnya, apakah tujuan aktivitas yang disebut kerja itu hanya untuk memperoleh uang? Saya kira tidak. Setidaknya karena saya lebih menyetujui pandangan&lt;br /&gt;yang mengatakan bahwa uang adalah salah satu konsekuensi dari bekerja. Artinya, bila kita bekerja, maka salah satu konsekuensi yang mengikutinya adalah terbukanya kesempatan untuk mendapatkan uang sebagai imbalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena uang adalah salah satu konsekuensi (bukan `salah semua'), maka uang seharusnya tidak perlu dipandang sebagai tujuan akhir dari bekerja. Orang (kita) bekerja untuk mendapatkan uang. Ya. Tetapi bukan Cuma itu. Orang juga bekerja untuk dapat bersosialisasi,&lt;br /&gt;bergaul, dan mendapatkan teman. Orang bekerja juga untuk mengembangkan identitas diri, untuk menambah pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan mengabdikan diri. Bekerja dapat merupakan ekspresi dari keinginan beribadah kepada Tuhan, atau ungkapan rasa syukur karena dipercaya melaksanakan sebuah amanah yang agung dan suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan yang mengatakan bahwa satu-satunya alasan orang bekerja adalah untuk memperoleh uang menunjukkan kurangnya kearifan dalam memaknai pekerjaan itu sendiri. Ini menunjukkan falsafah hidup yang tidak lengkap. Bukankah demikian?[aha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Konsekuensi Kerja oleh Andrias Harefa, seorang writer,&lt;br /&gt;trainer, dan speaker.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3066364856465555576?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3066364856465555576'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3066364856465555576'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/konsekuensi-kerja.html' title='Konsekuensi Kerja'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-4103045978091817344</id><published>2008-08-09T02:59:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:21:55.576-07:00</updated><title type='text'>Memulai Sesuatu yang Baru</title><content type='html'>"Jangan pernah mengatakan tidak bisa. Katakan bahwa Anda bisa dan akan melakukannya, lalu lakukan."-- Jamiesa Turner, usia 12 tahun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BEBERAPA jam sebelum shalat Jumat dimulai, sebuah mobil Ford Escape berwarna hijau berhenti di depan Masjid di daerah Kebayoran Baru. Tempat yang dituju untuk parkir pun tidak berubah, selalu disitu, disisi pohon rindang persis di tikungan. Pada awalnya banyak yang mengira, bahwa sang pemilik mobil akan melakukan ibadah shalat Jumat seperti biasa. Dugaan itu sebenarnya tidak meleset. Hanya saja ada kegiatan lain yang dilakukan sang pemilik mobil tersebut. Apa itu? Bagasi mobil belakang pun segera dibuka setelah mobil tersebut berhenti. Seorang wanita muda mencoba berkemas-kemas mengatur letak beberapa keranjang dan wadah. Nasi kebuli yang semerbak harumnya sudah tercium beberapa meter itu pun, siap untuk dijual.Berjualan nasi kebuli? Betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemandangan baru ini memang baru terlihat beberapa bulan terakhir ini. Berjualan nasi kebuli mungkin bukan sesuatu yang aneh. Tetapi bila menggunakan mobil mewah sebagai alat berjualannya, mungkin terlihat tidak biasa. Karena mobil tersebut boleh dibilang menggunakan cc besar yang tentu saja memakan bahan bakar cukup banyak. Sang pemilik mobil tentu saja sudah mengetahui hal ini. Ia sesungguhnya hanya memanfaatkan waktu yang ada. Idenya sungguh kreatif. Tujuan utamanya beribadah tidak ditinggalkannya, tetapi juga dapat mengeruk keuntungan dari hasil berjualannya. Karena toh, ia datang beribadah ke Mesjid tersebut juga dengan menggunakan mobil tersebut. Lariskah jualannya? Sebelum jam satu siang atau kira-kira setengah jam setelah shalat Jumat selesai, dagangannya habis tak tersisa. Banyak pembeli yang memesan dibungkus untuk dimakan di rumah atau dikantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide kreatif sang pemilik mobil untuk berjualan nasi kebuli merupakan sebuah gagasan yang cemerlang. Praktis disekitar lokasi tak ada saingan yang juga berjualan nasi kebuli. Sang pemilik mobil dinilai mampu membaca situasi dan melihat peluang.Ide kreatif atau munculnya hal-hal baru, biasanya berkaitan dengan lingkungan sekitar, baik di rumah atau tempat pekerjaan. Seorang editor sebuah koran nasional terbitan Jakarta, setelah menjalani hidup yang semakin hari dirasakannya semakin sulit, mencoba mencari jalan lain untuk mengurangi beban hidupnya. Ia pun memutuskan untuk menjadi loper koran dan majalah. Tugas utamanya mengedit dan menulis artikel-berita tetap dijalankannya dengan penuh tanggungjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ia juga mendapat pekerjaan baru, yaitu menerima, mengirimkan, dan mendistrubusikan koran dan majalah ke berbagai tempat di wilayah sekitar rumahnya. Kolega dan jejaring dengan kawan-kawannya yang berkecimpung di dunia surat kabar dan majalah, ia manfaatkan secara positif untuk mengembangkan usahanya. Usaha yang digeluti sang editor sudah berjalan selama tiga tahunan. Berapa penghasilannya dari usaha sambilannya ini? Ternyata setara dengan gajinya saat ini sebagai editor yang masih tetap ia jalankan.Anda pun sebenarnya dapat melakukan hal yang sama, bertindak kreatif, seperti yang dilakukan sang penjual nasi kebuli atau loper koran tersebut. Anda tak perlu menjadi orang yang sangat spesifik atau unik, apalagi jenius untuk menjadi kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan sulit seperti saat ini, tindakan-tindakan yang memunculkan ide-ide baru dan kreatif merupakan sebuah gagasan cemerlang. Bagaimana agar kita dapat memulai sesuatu yang baru atau dapat memunculkan ide-ide kreatif? Otak Anda tentunya juga tak dapat secara ujug-ujug mengeluarkan sebuah ide baru. Cring, seperti bunyi lampu bohlam yang tiba-tiba muncul di kepala Anda begitu Anda mendapat ide baru. Selalu ada proses. Pikiran yang kreatif, timbulnya ide-ide baru, gagasan yang cemerlang, muncul bukannya tanpa sebab akibat. How come? Lihatlah sekeliling Anda. Buka mata, pasang telinga. Banyaklah membaca, tontonlah acara diskusi interaktif di layar teve. Lalu, berdiskusilah dengan kolega dan teman kerja, serta berinteraksi dengan tetangga. Juga, datangilah ke tempat-tempat yang bisa mencerahkan Anda, ke toko buku, ke meseum, atau kemana saja yang Anda suka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan banyak melakukan aktifitas-aktifitas seperti itu, otak Anda akan terus terlatih untuk berpikir, dan terus berpikir. Ide-ide baru pun nantinya diharapkan akan muncul.Begitu ada ide baru muncul, segera rekam hal tersebut. Mencatat adalah hal yang paling mudah untuk merekam. Tulislah di agenda atau buku kerja Anda. Lagu Yesterday yang kesohor itu, diciptakan oleh Paul McCartney ketika ia bangun tidur. Coba seandainya McCartney tak segera menuliskannya setelah bangun dari tidurnya, mungkin saat ini kita tak akan pernah mendengar lagu legendaris tersebut.Tak selamanya pikiran, emosi dan jiwa Anda sedang dalam keadaan mood yang baik. Ada saat-saat Anda mengalami kejenuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila pikiran Anda lagi bete atau hang, istirahatlah sejenak dan kerjakan sesuatu yang sifatnya rutin. Misalnya, mencuci pakaian, mencuci piring, menyiram tanaman, atau hanya berolahraga ringan dengan berjalan sekeliling rumah atau kantor Anda. Pekerjaan ini akan membuat pikiran pragmatis Anda menjadi sibuk.Selama manusia bisa berpikir dengan baik, maka dia dapat melakukan hal-hal yang kreatif. Selama itu pula ia akan selalu mencari jalan lain atau mencoba memulai sesuatu yang baru. Kreatif tidak lebih dari suatu proses berpikir dalam menghasilkan sesuatu. Menghasilkan bukan berarti dari yang tidak ada menjadi ada. Menghasilkan sesuatu yang baru dapat berarti memulai sesuatu yang 'baru tapi lama', mengubah bentuk yang sudah ada, memunculkan kembali sesuatu yang dulu pernah ada, dan tentu saja, juga menemukan sesuatu yang belum ditemukan oleh orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita melakukan suatu hal baru tersebut tapi ternyata gagal? Hal yang patut diingat ialah, jangan takut untuk melakukan kesalahan. Bisa saja Anda merasa menemukan ide atau gagasan baru, kemudian Anda langsung mencobanya. Dan ternyata gagal atau kurang berhasil. Tidak masalah. Dalam hal ini Anda dapat belajar dari kegagalan tersebut. Proses pembelajaran dalam hal ini sedang Anda jalani.Jangan ragu untuk memulai sesuatu. Yang penting Anda percaya diri. Siapapun mempunyai kekuatan untuk menjadi kreatif dan memulai sesuatu yang baru. Begitu pula Anda. (020608)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Memulai Sesuatu yang Baru oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-4103045978091817344?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4103045978091817344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/4103045978091817344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/memulai-sesuatu-yang-baru.html' title='Memulai Sesuatu yang Baru'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-757352751954407535</id><published>2008-08-09T02:58:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:24:07.226-07:00</updated><title type='text'>Jeli Menangkap Peluang</title><content type='html'>The successful man is the one who had the chance and took it. (Roger Babson) Ada ungkapan bijak yang patut kita renungkan: "Orang gagal menyia-nyiakan kesempatan. Orang biasa umumnya menunggu kesempatan. Tapi, orang sukses menciptakan kesempatan." Ungkapan itu begitu dekat dengan realitas hidup yang kita jumpai. Saya mempunyai seorang kawan yang mempunyai rencana bisnis besar dan cemerlang. Akan tetapi, dia tidak segera mengeksekusi idenya alias sekadar menunggu. Dia selalu berdalih bahwa dia membutuhkan waktu (timing) yang tepat sekaligus mendapat petunjuk 'dari Atas' yang tepat pula. Tapi, apa yang terjadi? Tahun berganti tahun, kini dia pun masih menunggu momen yang tepat itu tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kisah lain yang menarik. Saat menjadi pembicara di sebuah seminar di Kota Samarinda beberapa bulan lalu, ada pengalaman yang mengusik akal budi saya. Saat itu, kami meluncur melalui kawasan hutan belantara. Usai berkendaraan selama dua jam lebih, kami berhenti di sebuah persinggahan yang dikelilingi pepohonan lebat. Akan tetapi, persinggahan itu tampak ramai oleh pengunjung. Banyak mobil terparkir memadati halaman depan. Ternyata, di situ ada sebuah gerai makan yang menyajikan makanan tahu. Tentu saja, gerai ini memikat para pengendara yang lapar di jalan. Tampaknya, bisnis tahunya cukup sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang menarik bagi saya adalah bagaimana si pemilik gerai makan ini melihat peluang berjualan tahu enak di tengah hutan belantara ini. Pasti sudah banyak orang melewati jalanan tengah hutan ini. Tapi, mengapa hanya si pemilik gerai yang melihat adanya peluang ini. Sebuah pertanyaan yang menggelitik. Mari kita tengok kisah sukses lainya. Bisnis minuman kemasan Aqua sukses menjadi market leader lantaran sosok Tirto Utomo yang pertama kali melihat peluang tersebut. Semua orang mengalami haus dan butuh air. Tapi, mengapa Tirto Utomo melihat fenomena biasa itu sebagai peluang? Ada juga sosok dunia bernama Jeff Bezos. Kita tahu ada begitu banyak orang yang mengharapkan dan membeli buku melalui Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, mengapa hanya Jeff Besos yang melihat peluang ini? Nah, ada banyak kisah sukses lainnya yang berawal dari kepekaan menangkap peluang. Yang jelas, dari beberapa orang yang sukses tadi, rata-rata mereka memprogram dirinya untuk melihat peluang dan kesempatan di mana-mana. Lantaran matanya tertuju kepada sesuatu yang baik, otaknya pun memengaruhi dirinya untuk mencari dan melihat peluang kapan pun dan di mana pun. Ada seorang pelatih dari luar negeri yang menjelaskan fenomena itu dalam sebutan mental kaya dan mental miskin. Baginya, seorang dengan mental miskin apabila sedang bepergian, matanya selalu tertuju kepada apa saja yang bisa dibelinya. Sebaliknya, orang yang bermental kaya justru akan mengarahkan matanya untuk melihat barang-barang serta bisnis apa yang bisa dijual dan dijalankannya. Stochoma Secara fisiologis, ada istilah stochoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istilah ini mengacu pada realitas di mana mata kita mempunyai daerah buta karena mata kita hanya diarahkan untuk melihat bagian-bagian tertentu. Satu contoh terjadi saat Anda membeli mobil baru. Usai membeli mobil baru, Anda melihat banyak sekali mobil yang sama di jalan. Bukankah mobil itu sudah ada sebelum Anda membeli mobil tersebut. Apakah gara-gara membeli mobil baru, mendadak semua orang di jalan juga menggunakan mobil merek dan tipe sama dengan mobil yang Anda beli? Tentu saja tidak demikian. Sebenarnya, masalahnya sederhana. Mata Anda yang tadinya buta dengan mobil-mobil itu, tiba-tiba dibukakan untuk melihat mobil-mobil tersebut. Kebutaan sementara inilah yang disebut dengan stochoma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ada akibat buruk stochoma bagi kehidupan kita keseharian. Kita bisa menjadi buta terhadap berbagai peluang dan kesempatan yang terpampang di depan mata kita. Percayalah, peluang dan kesempatan datang menghampiri kita timbul tenggelam setiap hari. Namun, mata kita sering dibutakan untuk tidak melihat peluang dan kesempatan itu. Susahnya, semua peluang dan kesempatan itu selalu 'menyamar' dalam bentuk orang-orang dewasa, kejadian biasa, ataupun situasi umum, sehingga tidak mudah kita kenali. Hal ini mengingatkan saya kepada satu hadiah masa kecil yang pernah saya peroleh dari luar negeri, yakni 'Find Walley' di mana kita harus mencari si "Walley" dalam sebuah gambar besar dengan warna dan pemandangan yang warna-warnanya mirip dengan bajunya "Walley", sungguh sulit dicari kalau tidak teliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya pikir begitulah situasi kesempatan dan peluang yang muncul di depan kita. Kejelian dan keinginan yang luar biasa dibutuhkan sehingga kita bisa melihat, saat si "Walley" kesempatan itu muncul di hadapan kita. Eksperimen Ada suatu eksperimen menarik yang dilakukan di suatu universitas di mana para sukarelawan diminta menyaksikan suatu tayangan TV. Tugas mereka ditekankan di awal, yakni menghitung berapa banyak para pemain basket yang mereka saksikan saling mengoper bolanya. Tanpa disadari para sukarelawan itu, di tengah-tengah tayangan tersebut, muncul manusia berkedok gorila yang memukul-mukul dadanya lalu menghilang. Setelah tayangan selesai, para sukarelawan ini ditanyai apakah mereka melihat sesuatu yang aneh dalam tayangan tersebut. Ternyata, banyak di antara mereka yang luput dari menyaksikan kehadiran gorila tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana mungkin gorila sebesar itu luput dari perhatian mereka? Apa yang menyebabkan hal tersebut terjadi? Begitulah, seperti penjelasan kita pada atas, para sukarelawan ini baru saja mengalami stochoma, kebutaan sementara. Masalahnya, pikiran mereka begitu sibuk menghitung berapa kali bola itu dioper sehingga tidak bisa melihat kehadiran si gorila. Bukankah fenomena semacam ini sering terjadi dalam kehidupan kita? Banyak pengalaman menunjukkan saat-saat di mana kita juga seperti itu. Berbagai kesibukan ataaupun pikiran kita, kadang juga 'membutakan' kita dari berbagai peluang dan kesempatan emas yang hadir di depan kita. Karena itulah, tulisan ini menantang kita untuk lebih waspada serta mulai melatih ulang fokus pikiran kita. Untuk itu, perlu sekali bagi kita untuk bersiap-siap dengan apa pun yang muncul di depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kita sendiri harus mulai melatih mata kita untuk melihat berbagai peluang dan kesempatan yang muncul di depan kita. Seperti dikatakan oleh Donald Trump dalam salah satu episode The Apprentice di mana dia mengajarkan para kandidat pengelola perusahaannya untuk 'membuka mata' melihat apa pun peluang bisnis yang mungkin ada di depannya. Menurut Trump, insting seperti itulah yang dia warisi dari ayahnya dan dia latih sehingga mampu mengembangkan kerajaan bisnisnya. Bahkan, dia mengembangkan produk air mineral dengan gambar dirinya sendiri. Jadi, maukah mulai sekarang Anda melatih mata Anda melihat peluang yang mungkin sedang bersliweran di depan mata Anda saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Jeli Menangkap Peluang oleh Anthony Dio Martin, Managing Director HR Excellency&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-757352751954407535?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/757352751954407535'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/757352751954407535'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/jeli-menangkap-peluang.html' title='Jeli Menangkap Peluang'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6397883932631913608</id><published>2008-08-09T02:56:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:25:05.905-07:00</updated><title type='text'>Karakter dan Reputasi</title><content type='html'>Hubungan antara karakter dan reputasi dijelaskan oleh seorang bernama John Wooden dengan sangat tepat. Ia mengatakan, "Be more concerned with your character than your reputation, because your character is what you really are, while your reputation is merely what others think you are". Dengan kata lain, karakter menyangkut innate image sementara reputasi menyangkut social image. Mengutamakan innate image ini berarti being true to yourself, jujur terhadap diri sendiri alias menjadi otentik, yang merupakan jalan satu-satunya untuk dapat membangun integritas sejati (baca: menjadi manusia yang utuh).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era lahirnya––apa yang dengan tepat disebut oleh Yasraf Amir Piliang sebagai––sebuah dunia yang dilipat (baca: internet), tehnik-tehnik pencitraan telah menjadi komoditi yang dikonsumsi dengan lahap oleh siapa saja yang ingin dicitrakan secara positif untuk memperoleh atau melindungi kepentingan tertentu. Artinya ada upaya untuk mendahulukan reputasi melalui proses rekayasa yang canggih dan sistematik, agar citra sosial yang ditampilkan lewat serangkaian aktivitas public relations dapat membentuk opini publik tentang "seseorang" atau "sesuatu". Soal apakah reputasi ciptaan itu sesuai atau tidak dengan realitas dan kebenaran, menjadi urusan nomor dua. Dampak yang paling mengerikan dari upaya mendahulukan reputasi daripada karakter adalah makin suburnya kemunafikan dan kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini paralel dengan apa yang digagas Stephen R. Covey (1989) ketika membicarakan dan membedakan antara Personality Ethic dan Character Ethic. Sebab menurut studi doktoral yang dilakukan Covey, literatur tentang cara-cara meraih keberhasilan atau sukses––khususnya di Amerika, tetapi mungkin juga benar secara universal––mengalami pergeseran dari penekanan kepada usaha membangun karakter seperti yang dicontohkan oleh Benyamin Franklin, ke penekanan kepada usaha pengembangan kepribadian. Di Amerika, selama kurun waktu 150 tahun pertama sejak kemerdekaannya (1776–1926), fondasi keberhasilan diyakini bertumpu pada Character Ethic, yakni upaya mengintegrasikan prinsip-prinsip agar menjadi bagian dalam diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas, kerendahan hati, kesetiaan, pembatasan diri, keadilan, kesabaran, kesederhanaan, keberanian, kerajinan, kesantunan, dan the Golden Rule (berbuatlah kepada orang lain seperti yang kamu kehendaki orang lain perbuat kepadamu), merupakan hal yang diyakini sebagai fondasi kokoh bagi keberhasilan sejati. Lalu, pada 50 tahun berikutnya (1926–1976), terjadi pergeseran ke arah Personality Ethic. Keberhasilan lalu lebih dipahami sebagai fungsi kepribadian, citra public, sikap dan perilaku, berbagai keterampilan dan tehnik-tehnik yang memperlancar interaksi hubungan antar manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pola yang mendukung Personality Ethic ini adalah (1) teknik-tehnik human and public relations; dan (2) ajaran mengenai positive mental attitude (PMA). Ajaran Covey mungkin membuat marah para `pengikut' (antara lain) David J. Schwartz, Napoleon Hill, dan Norman Vincent Peale. Namun dengan kepala dingin kita dapat menilai bahwa dalam hal ini Covey benar. Rekayasa citra sangat berpotensi untuk menjadi prostitusi citra, dan rekayasa sikap positif yang tidak didasarkan pada paradigma yang lebih baik hanya dapat memberikan perubahan sementara yang tidak mendasar dan karenanya "kurang bernilai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini tidak berarti bahwa social image itu tidak perlu direkayasa, tetapi hal itu hendaknya tidak dilakukan untuk memanipulasi, mengaburkan, dan menyimpang dari innate image seseorang. "Tampilan" diri seseorang atau sesuatu itu harus selaras dan benar-benar mencerminkan the true self (diri sejati) yang ada "didalam" (innate). Bila tidak, maka yang terjadi adalah pemalsuan atau twisting of meaning (pemelintiran makna). Hal ini hanya akan melahirkan orang-orang munafik yang kata-kata dan perbuatannya saling bertabrakan sehingga ia tidak dimungkinkan menjadi pribadi yang berintegritas (utuh). Character Ethic berkaitan dengan upaya membangun karakter (innate image), sementara Personality Ethic adalah soal membangun reputasi (social image).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama harus menjadi landasan bagi yang kedua, dan bukan sebaliknya. Yang pertama berkaitan dengan prinsip-prinsip hidup, sementara yang kedua menyangkut soal gaya hidup. Dan hanya bila keduanya selaras, maka keberhasilan seseorang dapat menjadi lestari (sustainable) karena bersifat sejati. Bila tidak, maka keberhasilan itu ibarat bangunan yang tak berfondasi atau dibangun di atas pasir. Banjir dan angin topan (baca: krisis) akan meluluhlantakkan semua itu dalam sekejap waktu. Dan reputasi palsu atau citra sosial yang dibangun berpuluh tahun akan lenyap seketika seiring dengan tampilnya `karakter tercela' yang selama ini disembunyikan. [aha]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Karakter dan Reputasi oleh Andrias Harefa. Andrias Harefa adalah seorang trainer, pembicara publik, dan penulis 30 buku laris.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6397883932631913608?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6397883932631913608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6397883932631913608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/karakter-dan-reputasi.html' title='Karakter dan Reputasi'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8422859277760103428</id><published>2008-08-09T02:55:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:26:45.536-07:00</updated><title type='text'>Mengejar Impian</title><content type='html'>"When the legends die, the dreams end; there is no more greatness. – Ketika legenda sudah mati, tentu impian-impian itu juga sudah berakhir; tak akan ada lagi kejayaan."~ Tecumseh of the Shawnees&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang mempunyai impian. Masing-masing orang tentu memiliki impian berbeda-beda. Ada yang mempunyai impian menjadi miliarder papan atas di dunia, mempunyai bisnis yang besar, mempunyai yayasan sosial yang besar dan canggih, berpengaruh dan terkenal di seluruh jagat, menjadi profesor ternama, menemukan mesin spektakuler, menjadi pelawak terkenal di seluruh dunia, mendapatkan pasangan hidup yang kaya dan terkenal dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Impian itu merupakan hal besar yang mungkin mustahil diwujudkan bila dilihat dalam kondisi Anda sekarang ini. Tetapi sebenarnya impian merupakan langkah menuju sukses yang teramat penting. Tentang apakah impian tersebut terwujud atau tidak semuanya ada di tangan Anda sendiri. Ada yang lebih cepat mewujudkan impian, ada pula yang lambat, bahkan ada yang tidak berhasil karena tidak melakukan langkah apa pun untuk mewujudkan impian tersebut. Ibarat Anda mengendarai mobil menuju sebuah tujuan yaitu impian tadi, terkadang lebih cepat sampai atau lebih lambat karena kondisi jalan berkelok, bergelombang atau banyak batu sandungan. Tak jarang diantara kita tak pernah sampai ke tempat tujuan karena hanya menggerutu dan mengutuk kondisi medan jalan yang sulit ditempuh atau terlalu lama tidur di tepi jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya setiap proses menuju impian terasa tidak begitu mudah dilalui. Ada saja tantangan meskipun Anda sudah melakukan yang terbaik, sehingga membutuhkan usaha yang berulang-ulang, perhatian dan perjuangan ekstra. Tantangan tersebut bukanlah kegagalan. Bahkan bila kita cermati, tantangan itu membentuk diri Anda menjadi lebih baik dalam berbagai hal. Jadi jangan mudah putus asa dan kehilangan keberanian untuk mencoba lagi mewujudkan impian. Tingkatkan kemauan Anda. Maka pintu kesempatan untuk mewujudkan impian akan selalu terbuka lebar. Jonathan, teman saya semasa SMA begitu mencintai dunia bisnis dan bermimpi untuk mengabdikan hidupnya di dunia tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun kemudian usahanya berkembang pesat dan menggurita. Hidupnya bergelimang kesuksesan. Namun di usia 40 tahun ia tersadar akan impiannya mengabdi di dunia pendidikan. Sehingga ia memutuskan untuk kembali menempuh pendidikan. Kemudian ia berhasil menyelesaikan pendidikan S2 dan S3. Saat ini ia sudah menjadi seorang profesor di sebuah universitas ternama di Malaysia. "Setelah mengelilingi seputaran, baru aku temui diriku yang sebenarnya. Kini aku memulai kehidupanku yang baru," katanya. Sebenarnya masih banyak lagi contoh orang-orang yang sudah berhasil meraih impian. Jika mereka berhasil, lalu mengapa sebagian besar diantara kita belum mencapainya? Seperti yang sudah saya singgung tadi, jawabannya adalah karena kita belum melaksanakan tindakan untuk menjemput impian tersebut. Tindakan yang saya maksud adalah melakukan sesuatu untuk mendekatkan diri pada tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak dapat melakukan tindakan secara lebih cepat, Anda dapat memulainya secara perlahan. Tetapi pastikan Anda selalu melakukan sesuatu untuk tiba pada impian itu. Belajar dari salah seorang teman saya yang bermimpi suaminya kelak adalah pria yang sukses dalam karir dan mencintai dirinya sepenuh hati. Oleh sebab itu ia sangat berhati-hati memilih teman dekatnya. Sampai-sampai mayoritas teman-teman dan kerabatnya pesimis, karena di usia sudah memasuki 30 tahun ia belum menemukan pendamping. Tetapi kemauannya begitu kuat dan tidak pernah putus asa mencari sekaligus menunggu. Di usia 35 tahun barulah ia berhasil menemukan pria yang dia impikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun agak terlambat, tetapi ia berhasil mendapatkan apa yang sangat ia dambakan. Bahkan sekarang kebahagiaannya semakin lengkap setelah dikaruniai seorang anak lelaki. Selain tindakan, untuk sampai kepada impian juga butuh sikap konsisten. Artinya Anda siap menghadapi tantangan dalam proses pencapaian impian, sekalipun Anda harus keluar dari zona nyaman. "In Dreams Begin Responsibilities. Tanggung jawab bermula dari sebuah impian," kata Delmore Schwartz. Sekali Anda bersikap konsisten, maka Anda akan selalu menemukan kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan hingga tiba pada tujuan. Seperti teman saya lainnya sebut saja Desi, meskipun baru berusia 30 tahun ia mempunyai karir sangat cemerlang dan mempunyai keluarga yang harmonis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya sukses dan bahagia. Tetapi ia masih mempunyai impian untuk menyelesaikan pendidikan sarjana yang tertunda sejak 7 tahun yang lalu. Demi mengejar impian tersebut ia tidak segan keluar dari zona nyaman. Sebagaimana Jiminy Cricket menyatakan, "When your heart is in your dreams, no request is too extreme. – Ketika impian itu tertanam di hati Anda, tak kan ada yang terasa berat untuk dilakukan." Oleh sebab itu, Desi justru menikmati aktivitasnya belajar di sebuah universitas swasta di Jakarta dua kali dalam satu minggu. Sesampainya di rumah ia juga masih menyempatkan diri untuk belajar. Motivasinya semata-mata hanya ingin mengejar impian yang tertunda, bukan sekedar mencari selembar ijasah atau tergiur posisi lebih strategis di kantor setelah mendapatkan gelar sarjana nanti. Impian mungkin hanya merupakan khayalan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jika impian tersebut disertai dengan tindakan, sikap konsisten, dan kemauan untuk berjuang keras meskipun harus keluar dari zona nyaman ditambah dengan rasa syukur dan doa maka akan menjadikan diri kita lebih pintar, kreatif dan kehidupan kita lebih terarah. Jika Anda ingin meningkatkan produktivitas diri dan kualitas kehidupan, maka pastikan Anda mempunyai impian dan berusaha maksimal untuk mengejarnya. [aho]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Mengejar Impian oleh Andrew Ho, seorang pengusaha, motivator, dan penulis buku-buku best seller.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8422859277760103428?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8422859277760103428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8422859277760103428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/mengejar-impian.html' title='Mengejar Impian'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-200951707952131053</id><published>2008-08-09T02:54:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:27:46.494-07:00</updated><title type='text'>Kelinci Si Penakut</title><content type='html'>Kelinci memang dari dulu terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu keamanannya. Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara bahaya. Semakin mereka ngobrol, semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib mereka. Alangkah malangnya lahir menjadi seekor kelinci. Mau lebih kuat tidak punya tenaga, ingin terbang ke langit biru tidak punya sayap, setiap hari ketakutan melulu. Mau tidur nyenyak pun sulit karena terganggu oleh telinga panjang yang tajam pendengarannya sehingga matanya yang berwarna merah pun semakin lama semakin merah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Daripada hidup menderita ketakutan terus, mereka berpikir lebih baik mati saja. Akhirnya mereka mengambil keputusan beramai-ramai hendak bunuh diri dengan melompat dari tepian tebing yang tinggi dan curam. Maka para kelinci terlihat berbondong-bondong menuju ke arah tebing. Saat mereka melewati pinggir sungai, ada seekor katak yang terkejut melihat kedatangan kelinci yang berjumlah banyak. Tergesa-gesa si katak ketakutan dan segera meloncat ke sungai melarikan diri. Walaupun si kelinci sering menjumpai katak yang melompat ketakutan saat melihat kelinci melintas, tetapi sebelum ini mereka tidak peduli. Berbeda untuk kali ini. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang tersadar dari kesedihannya dan langsung berteriak, "Hei, berhenti! Kita tidak usah ketakutan sampai perlu harus bunuh diri. Karena lihatlah, ternyata ada hewan lain yang lebih tidak bernyali dibandingkan kita yakni si katak yang terbirit-birit saat melihat kita!" Mendengar kata-kata itu, kelinci yang lain tiba-tiba pikiran dan hatinya terbuka, seolah-olah tumbuh tunas keberanian di hati mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dengan riang gembira mereka mulai saling membesarkan diri masing-masing, "Iya, kita tidak perlu ketakutan!" "Tuh kan, ada mahluk lain yang lebih pengecut dari kita." "Iya, kita harus semakin berani." Perlahan-lahan mereka berbalik arah kembali kearah pulang dengan riang gembira dan melupakan niatnya untuk bunuh diri. Pembaca yang budiman,Saat keberuntungan sedang tidak memihak kepada kita, jangan suka meratapi nasib yang dirundung malang seakan-akan hanya kitalah mahluk paling menderita di muka bumi ini. Lihatlah di sekeliling kita. Masih begitu banyak orang yang lebih susah, sengsara, dan sial dibandingkan kita. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan tetapi mampu menjalaninya dengan tegar dan tetap berjuang, kenapa kita tidak? Apa pun keadaan kehidupan kita hari, seharusnya kita jalani dengan optimis dan aktif. Nasib tidak akan dapat kita ubah tanpa manusia itu sendiri yang siap mengubahnya. Karena sesungguhnya, `sukses adalah hak setiap orang'. Success is my right, sukses adalah hak siapa saja yang mau berjuang dengan sungguh-sungguh. Salam sukses luar biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Kelinci Si Penakut oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-200951707952131053?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/200951707952131053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/200951707952131053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/kelinci-si-penakut.html' title='Kelinci Si Penakut'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3821314691082204200</id><published>2008-08-09T02:53:00.001-07:00</published><updated>2008-08-15T00:28:34.036-07:00</updated><title type='text'>MOM : Terima Kasih</title><content type='html'>“Tuhan memberikan Anda hadiah 86.400 detik setiap harinya. Sudahkah Anda menggunakan satu detik saja untuk mengucapkan ”terima kasih””?-- William Arthur Ward, penulis dan editor Amerika, 1921- 1994&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEORANG mahasiswa Indonesia mengalami kebingungan ketika pertama kali kuliah di Jerman, karena setiap kali selesai kuliah, terdengar suara riuh-rendah para mahasiswa mengetuk meja dan bangku secara berulang-ulang. Tentu saja yang terdengar seperti suara orkestra yang kehilangan dirijennya. Berisik dan saling susul menyusul antara suara nada dan melodi. Setelah beberapa kali kuliah, seorang teman melihat bahwa ia tidak melakukan hal yang sama, mengetuk dan memukul meja setiap kali selesai kuliah dilakukan. “Mengapa harus memukul meja?” tanya sang mahasiswa keheranan. Temannya pun menjelaskan bahwa hal itu merupakan tradisi di Jerman, sebuah ungkapan terima kasih kepada dosen yang telah selesai mengajar. Kedengarannya memang aneh, tapi begitulah faktanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan ’terima kasih’ ternyata tidak harus dilakukan dengan bertepuk tangan saja. Tidak juga hanya dengan kata-kata, ’terima kasih, tarimo kasih, matur nuwun, hatur nuhun, matur suksama, xie xie, thanks, thenk ye, danke, merci, shukran, arigato gozaimasu.’ Tapi juga bisa dilakukan dengan banyak cara. Mengapa kita perlu mengucapkan terima kasih kepada seserorang? Terima kasih. Ungkapan sederhana yang terdiri dari dua kata, tetapi mempunyai makna yang sangat mendalam dan memiliki arti yang besar bagi yang menerimanya. Kenyataannya, ucapan ’terima kasih’ ini pada saat sekarang menjadi barang yang langka di negara ini. Tak percaya? Bukalah koran atau majalah setiap hari. Lalu lihatlah surat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda temukan? Betul. Selalu ada saja komplain dari surat yang dikirimkan oleh pembaca koran dan majalah tersebut. Komplain berbagai macam hal, mulai dari yang penting hingga yang sebenarnya pantas masuk keranjang sampah. Isinya, mulai dari pelayanan yang kurang memuaskan dari perusahaan, komplain kinerja aparatur pemerintah, komplain listrik yang byar-pet, hingga komplain mengenai tayangan sinetron yang dinilai tidak mendidik. Tapi, apakah Anda menemukan surat pembaca yang berisikan sebuah ucapan terima kasih? Dalam seminggu, saya yakin, belum tentu sekali Anda mendapatkannya.Terima kasih. Memang mudah diucapkan, tetapi sulit menjadi suatu kebiasan. Semakin tinggi status sosial dan jabatan seseorang, seharusnya semakin sering pula ia mengucapkan terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa? Karena dapat dipastikan, ia akan selalu membutuhkan bantuan dari bawahannya. Akan tetapi, mengucapkan terima kasih, tidak melulu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai jabatan atau status sosialnya tinggi. Setiap orang pada hakekatnya mempunyai kewajiban yang sama. Tak perlu jauh-jauh, ketika Anda bekerja, tentu dilayani oleh office boy setiap harinya yang selalu setia menemani Anda bekerja. Tetapi, sudahkah Anda mengucapkan terima kasih setiap kali ia mengantarkan minuman kepada Anda. Atau hanya sekedar mengambilkan karet gelang misalnya. Cobalah Anda bayangkan, jika satu hari saja office boy di tempat kerja Anda tidak masuk karena sakit. Repot bukan? Walaupun hanya dengan sebuah ucapan terima kasih, orang yang telah memberikan bantuan kepada Anda akan merasa lebih dihargai dan dihormati. Setidaknya, ia telah melakukan pekerjaan tersebut dengan tulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih. Suatu ucapan yang memiliki dimensi bahwa kita merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan uluran bantuan dari orang lain. Karena kita hidup tak sendiri. Makna yang lebih dalam dari suatu ungkapan terima kasih ialah bahwa dalam lingkup interaksi sosial, kita selalu membutuhkan cinta kasih. Dengan kasih itulah, kita akan selalu tergerak untuk menolong orang lain. Bayangkan, bila semua saling memberi kasih, maka semua persoalan di negara ini dapat diminimalisir untuk diatasi. Dengan cinta kasih, hidup menjadi lebih berarti dan bermakna. Terima kasih. Ucapan yang memberikan kekuatan energi positif bagi pemberi dan penerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Energi tersebut akan lebih bernilai bila kita tidak hanya mengucapkannya saja. Satu saat, Anda melakukannya tak cukup hanya dengan mengucapkannya saja bukan? Selain ucapan, sebagai gantinya, kita bisa saja memberikan imbalan balik berupa uang, barang, jasa, atau minimal tentu saja doa yang tulus kepada seseorang yang telah menolong kita. Dan bila suatu saat kita menolong orang, sangat mungkin orang tersebut tidak hanya mengucapkan terima kasih kepada kita tetapi juga mendoakan kita secara tulus. Terima kasih. Tidaklah sulit untuk diucapkan. Juga gratis, tak perlu biaya untuk mengucapkannya. Oleh karena itu, mulai saat ini, kita harus membiasakan mengucapkan terima kasih kepada setiap orang yang telah menolong kita, walau sekecil apapun. Terima kasih, tak lupa pula saya mengucapkan hal itu kepada Anda yang telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Grazie! (300608)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: ”Terima kasih!” oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3821314691082204200?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3821314691082204200'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3821314691082204200'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/mom-terima-kasih.html' title='MOM : Terima Kasih'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1099907759748815090</id><published>2008-08-09T02:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:29:51.278-07:00</updated><title type='text'>Keyakinan</title><content type='html'>Memilih karier dan profesi untuk ditekuni memerlukan suatu belief bahwa pilihan itu memberikan harapan ke arah peningkatan kualitas hidup di masa depan. Sama halnya ketika seorang lulusan sekolah menengah memilih fakultas tertentu untuk melanjutkan studinya di universitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belief seseorang itu mengarahkan sikap dan kemudian perilakunya terhadap hal atau objek tertentu.Semua orang, sadar ataupun tidak, memilih karier dan profesi atas dasar belief yang dianutnya. Profesi-profesi favorit di masa lalu ––dokter, insinyur, akuntan, atau lainnya–– diyakini banyak orang akan mampu membuat mereka sejahtera lahir dan batin. Sebaliknya, sebagian pilihan lain seperti wirausaha, wiraniaga, penulis, dan seniman, dianggap kurang dapat diandalkan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Semua itu karena belief yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata "belief" dalam kamus Echols dan Sadhily diterjemahkan sebagai kepercayaan atau keyakinan. Umumnya hal ini dikaitkan dengan agama (believer), tetapi tidak cuma itu. Sementara Anthony Robbins, dalam bukunya Unlimited Power, menjelaskan bahwa, "Belief is nothing but a state, an intenal representation that governs behaviors." Ia dapat bersifat memberdayakan (empowering belief), tapi juga dapat `memperlemah' (disempowering belief). Dan, seorang bernama Robert Danton Jr, pernah menegaskan bahwa, "Sebuah keyakinan adalah apa yang secara personal kita ketahui atau kita anggap benar, sekalipun orang lain tidak menyetujuinya. " Hal terakhir ini menunjukkan sifat subjektif dari belief seseorang.Dalam kaitannya dengan pilihan karier dan profesi, sebuah keyakinan dapat bersifat memberdayakan bila ia menuntun kita untuk melihat kemungkinan (possibility) untuk dapat berhasil atau mencapai tujuan tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, ia juga dapat `memperlemah' jika kita tidak yakin terhadap kemungkinan bahwa karier dan profesi yang sedang kita tekuni akan membuka peluang untuk meningkatkan kesejahteraan hidup. Artinya, bila kita yakin bahwa kita tidak akan bisa berhasil, maka disempowering belief ini membuat kita enggan berusaha lebih serius atau bekerja lebih keras. Sebaliknya, jika kita yakin bahwa keberhasilan bisa dicapai lewat karier dan profesi yang kita tekuni, maka empowering belief ini akan menjadi semacam sumber energi luar biasa yang membuat kita mampu bertekun dan bekerja keras untuk mencapai apapun tujuan yang telah kita tetapkan dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darimana sebuah keyakinan muncul? Robbins menyebutkan lima sumber, yakni: lingkungan sekitar (environment) , peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar kita (events), pengetahuan (knowledge), hasil-hasil masa lalu (our past results), dan creating in your mind of the experience you desire in the future as if it were here now (semacam `visi" –pen).Dalam pengertian di atas, sebuah belief ikut membentuk sikap atau attitude, yakni suatu pola berpikir (kognitif) dan pola berperasaan (afektif) yang kemudian dinyatakan dalam perilaku tertentu (behavior). Dan dalam arti yang dijelaskan Robbins bahwa belief memiliki kesamaan pengertian dengan apa yang disebut Stephen Covey, pengarang The 7 Habits of Highly Effective People, sebagai paradigma atau peta mental.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik Robbins maupun Covey sepakat bahwa belief atau paradigma yang kita anut/miliki, dapat kita ubah, kita geser, atau kita perbaiki agar lebih berkesesuaian dengan fakta kehidupan (`kebenaran' ). Akan tetapi hal itu tidaklah mudah dilakukan. Kebanyakan kita enggan atau bahkan takut menerobos batas-batas keyakinan yang kita miliki, apalagi bila keyakinan itu juga dianut oleh sebagian besar orang di lingkungan kita (keluarga, sekolah, masyarakat, dsb).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Keyakinan oleh Andrias Harefa. Andrias Harefa adalah seorang writer, trainer, speaker.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1099907759748815090?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1099907759748815090'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1099907759748815090'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/keyakinan.html' title='Keyakinan'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-7015746932434796477</id><published>2008-08-09T02:48:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:31:49.612-07:00</updated><title type='text'>Melakukan Inisiatif</title><content type='html'>"Ya, gue cari jalan lain.'' -- Benyamin Sueb dalam `Lampu Merah' NAMANYA juga orang baru, sudah tentu banyak hal yang dia tidak tahu. Alkisah, seorang manajer baru masuk kantor tepat di hari pertamanya. Bukan sambutan hangat yang dia terima, tapi masalah yang dia dapat. Pagi-pagi sekali, saat hendak membuang hajat ke jamban, dia langsung dikejutkan oleh air yang menggenang hingga ke lantai. Si manajer baru yang ternyata polos, tidak bisa berbuat banyak. Dia langsung balik kanan dan masuk ke kamar direktur utama. Hmm, tentu saja aneh bin ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba tebak apa yang akan dia lakukan? Sekadar menyapa sang bos lalu basa-basi sebentar, atau hal yang ingin dia sampaikan?Ternyata nomor dua yang diambil. Namun sungguh di luar dugaan. Kepada direktur utama, orang paling tinggi jabatannya di Perfect Courier di Brooklyn, New York, si manajer baru melaporkan soal toilet bocor tersebut. Kepada Norm Brodsky, Direktur Utama perusahaan itu, si manajer bertanya apa yang harus dilakukannya dan siapakah yang harus bertanggung jawab dengan masalah tersebut. Naif sekali memang, tapi itulah yang terjadi. Mendapat laporan dari orang baru itu, Brodsky segera berdiri. Dia bergegas menuju gudang, mengambil lap dan ember dan masuk ke kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si manajer lugu itu mengikutinya. Brodsky pun berlaku sebagai petugas kebersihan. Dia mulai membersihkan toilet yang bocor tanpa memperhatikan sang manajer baru yang melihat dengan penuh kebingungan. Setelah selesai, Brodsky pun buka suara. ''Itulah yang harus kita lakukan di sini jika toilet banjir. Lain kali, kamu harus melakukannya sendiri,'' ujarnya. Lembut sekali, namun terasa menohok di dada. Inisiatif, kata yang sangat akrab di telinga. Di kala semua pintu sudah tertutup, pada saat itulah inisiatif dibutuhkan. Seekor tikus yang dikejar kucing dapat lolos karena si tikus mampu mendapatkan jalan yang tak pernah diduga. Satu lubang kecil dia temukan ketika semua jalan sudah tertutup. Lewat lubang itulah dia terselamatkan. Insting, naluri, bisa jadi berdekatan dengan inisiatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya si manajer itu punya akal atau cara lain untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Insting atau nalurinya harus dipakai untuk sekadar mengepel dan membersihkan lantai, tapi nyatanya dia langsung mengalami kebuntuan. Akibatnya, si direktur pun jengkel berat. Untunglah manajer seperti itu hanya ada di Amerika Serikat. Di negeri sendiri, justru kita bernafas lega. Di Belitung Timur, ada orang namanya Basuki Tjahaya Purnama. Sehari-hari dia dipanggil Ahok. Dia bukanlah orang sembarangan di tempat itu. Jabatannya Bupati alias Kepada Daerah Tingkat II, untuk periode 2005-2010. Ahok teramat istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika daerahnya tak memiliki cukup dana untuk memenuhi kebutuhannya, dia tidak lantas mentok akal lalu mengadu pada pemimpin yang lebih tinggi. Tahu apa yang dilakukannya? Pendidikan di daerahnya, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, dia bebaskan dari biaya alias gratis. Dari mana dia mendapatkan biaya untuk itu? Ini yang luar biasa. Ahok melakukan inisiatif yang sesungguhnya. Dia memotong tunjangan jabatannya. Inisiatif lainnya dia berunding dengan para guru. Hasilnya, dana bantuan operasional sekolah alias BOS dipakainya tidak lagi untuk memperbaiki pagar sekolah tapi dialihkan membiayai pendidikan gratis tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kreativitas atau inisiatif pun dilakukan di bidang kesehatan. Lagi-lagi, Ahok memotong sebagian besar tunjangan jabatannya. Orang menjadi sakit karena dia tidak memiliki cukup untuk mencapai standar hidup sehat. Itulah yang ada di kepalanya. Nah, karena itu pula yang menyebabkan para pasien tak bisa datang ke dokter. Dia pun membebaskan biaya pengobatan pada warganya, mulai dari puskesmas hingga rumah sakit di Pangkal Pinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Dengan cara itu, pasien puskemas meningkat sampai 300 persen dari 20 orang menjadi 60 orang per hari. Dua cerita itu jelaslah betapa inisiatif merupakan hal penting bagi siapa pun dan di mana pun. Inisiatif yang keluar dari tindakan seseorang akan menentukan kualitas manusia itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah kacaunya bila semua keputusan, apalagi dalam sebuah keadaan yang genting, harus menunggu perintah dari atasan, dengan alasan tidak ingin dianggap salah.Dalam pekerjaan dan kehidupan yang kita jalani, diperlukan tindakan inisiatif. Inisiatif perlu dilakukan tanpa harus menunggu dahulu apa yang harus dilakukan dan siapa yang harus melakukan. Pada akhirnya, apa pun inisiatif yang dilakukan seseorang, akan sangat berguna bagi kebanyakan orang lain. Sekecil apa pun tindakan yang dilakukan, sudah jelas akan menghasilkan manfaat yang luar biasa. Selain itu, dengan berinisiatif, menunjukkan sebuah keberanian untuk bertindak. (140708)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Melakukan Inisiatif oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-7015746932434796477?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7015746932434796477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/7015746932434796477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/melakukan-inisiatif.html' title='Melakukan Inisiatif'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3455374336587718801</id><published>2008-08-09T02:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:33:04.798-07:00</updated><title type='text'>Penjudi yang Sadar</title><content type='html'>Beberapa waktu yang lalu, saya dikejutkan oleh sebuah telepon yang masuk. Orang di seberang telepon, mengaku berasal dari sebuah kota di Kalimantan. Yang mengejutkan adalah kisahnya yang dituturkan dengan penuh nada sesal. Dari seberang telepon, saya mendengar orang tersebut seperti sedang memendam beban sangat berat. Suaranya setengah terbata-bata. Dan memang, ternyata ia sedang dalam kekalutan yang sangat hebat. Bahkan, kekalutannya itu sempat membutakan pikirannya. Orang itu mengaku sudah dua kali hendak mengakhiri hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ia menyebutkan dirinya selalu terngiang sebuah seminar yang diikutinya beberapa tahun silam. Dalam seminar tersebut, ia mengaku teringat ucapan-ucapan saya yang membuatnya sempat "terbakar" sehingga punya letupan semangat untuk melanjutkan hidup. Dalam dua kali percobaan bunuh dirinya itu, ia merasa ketakutan. Saat itu, ada satu hal yang saya katakan dengan tegas, "Apakah dengan mengakhiri hidup, masalahmu akan segera terselesaikan? Pasti tidak! Mungkin apa yang kamu rasakan sebagai masalah di dunia bisa saja akan hilang, tapi `kehidupan' sesudah kematian itu justru akan lebih menyakitkan karena perbuatanmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bunuh diri, kamu akan mendapat siksa yang amat pedih di alam baka!" Saya juga mengatakan, bahwa tidak ada yang bisa mengakhiri hidup kita kecuali Tuhan. Sebab, hanya Tuhanlah yang berhak mencabut nyawa seseorang. Di seberang, suaranya makin terbata-bata menahan tangis. Tak lama, ia lantas mengaku, bahwa dirinya terlahir di tengah keluarga yang berada. Namun, ia terjebak pada kebiasaan jelek, yakni bermain judi mesin. Ia kalah berkali-kali. Namun, kekalahan tak membuatnya jera, namun justru membuatnya makin penasaran. Itulah yang menjadikannya bangkrut dan makin terjauh dari keluarganya. Kegalauan akibat peristiwa itulah yang membuatnya merasa terpuruk hingga akhirnya sempat memutuskan hendak mengakhiri hidupnya. Setelah sedikit reda emosinya, saya pun mengatakan, bahwa dirinya memang salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak ada kesalahan yang tak bisa diperbaiki jika kita punya kesadaran untuk berubah. Saya katakan kepadanya, bahwa hal pertama yang harus dilakukannya adalah menghentikan kebiasaan negatifnya, yakni berjudi. Ia harus mampu benar-benar menjauh dan menahan diri dari setan judi mesin yang masih menggodanya. Kemudian, saya anjurkan juga padanya untuk meminta maaf kepada orang terdekatnya yakni orangtuanya. Saya yakin, dengan permintaan maaf yang tulus, mereka akan menerimanya kembali dengan tangan terbuka. Sebagai manusia yang beragama, saya katakan padanya untuk kembali mendekatkan diri pada Tuhan sesuai dengan kepercayaannya. Ditambah tindakan nyata untuk menghilangkan kebiasaan buruk, maka saya yakin ia akan bisa kembali bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi, disertai dengan unsur think and action yang tepat, akan tumbuh kekuatan luar biasa yang menggantikan kekalutan dalam diri sehingga ia akan mampu mengatasi semua masalahnya. Mendengar semua perkataan tersebut, dari seberang telepon, terdengar suara tangis yang makin terisak. Namun, kali ini tangisnya mengandung aura yang berbeda. Sebab, tak lama kemudian, ia mengucap kalimat yang pendek namun tegas, "Saya pasti berubah, Pak." Pembaca yang budiman, Memang, dalam hidup ini kita kadang membuat kesalahan. Tapi, dengan sikap yang benar disertai mental yang kaya dan pikiran positif, adanya kesalahan justru akan membuat kita belajar banyak hal. Maka, jangan beri kesempatan atau memberi kompromi pada hal yang negatif dan merusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai kita terjebak pada hal-hal negatif seperti pergaulan bebas, narkoba, judi, hingga sikap miskin mental seperti iri, dengki, benci, malas, dan berbagai pengaruh buruk lainnya. Mari tingkatkan kekayaan mental dengan mendekatkan diri pada Tuhan. Sebab, sebagai insan beragama, kita harusnya sadar bahwa apapun yang terjadi pada kita, tak kan terjadi tanpa peran kita sendiri yang menentukan. Hal ini dikarenakan Tuhan tak kan merubah nasib seseorang, tanpa ia berusaha sendiri untuk mengubahnya. Jaga sikap dan mental positif, pupuk semangat kerja disertai perjuangan nyata, maka kita akan jadi insan yang luar biasa. Dengan think and action, kita tunjukkan bahwa kita mampu terbebas dari belenggu tantangan dan hambatan sesulit apapun, hingga dapat mewujudkan sukses sejati, karena "Success is My Right"!!! Salam sukses,Luar Biasa!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Penjudi yang Sadar oleh Andrie Wongso&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3455374336587718801?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3455374336587718801'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3455374336587718801'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/penjudi-yang-sadar.html' title='Penjudi yang Sadar'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-3260451742779415041</id><published>2008-08-09T02:40:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:35:17.099-07:00</updated><title type='text'>"Are You Playing Games?"</title><content type='html'>Adakah yang pernah mengalami salah satu hal berikut ini saat bertengkar: Ingin mengatakan kepada pasangan bahwa kita telah memaafkannya, namun yang keluar malah kata-kata menyakitkan. Kita ingin pasangan memahami apa yang membuat kita kesal, namun kita malah semakin kesal karena pasangan tidak berespons seperti yang kita inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ingin pasangan meminta maaf terlebih dahulu, namun yang muncul malah rasa sakit hati karena ternyata pasangan bisa bertahan untuk tidak memulai berbaikan. Atau, ketika sama-sama sedang marah, yang terucap adalah daftar kekesalan yang bertumpuk sehingga mengejutkan pasangan yang tidak menduga bahwa selama ini pasangannya menyimpan kekecewaan demikian besar. Jika kita mengalami satu saja dari hal di atas, itu berarti kita sudah memainkan sebuah permainan (game) dalam hubungan kita dengan pasangan. Istilah permainan itu dikemukakan pertama kali oleh Eric Berne, pakar transactional analysis yang terkenal dengan bukunya berjudul Games People Play.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Transactional analysis cukup dikenal dalam bidang komunikasi dan pemasaran. Namun, Berne sendiri memakai konsep ini sebagai sebuah psikoterapi, khususnya dalam masalah keluarga, atau yang terkait dengan relasi. Dinamakan transactional analysis karena terapis yang menggunakan metode ini akan membantu kliennya menganalisis interaksinya dengan orang lain. Interaksi-interaksi yang tidak tepat akan membawa kedua pihak pada hubungan yang tidak sehat. Untuk dapat menganalisis interaksi, kita harus memahami lebih dahulu bahwa tiap individu memiliki tiga kondisi ego (ego states) yang menggambarkan keberfungsian dari keadaan dirinya. Kondisi ego ini adalah anak (child), orangtua (parent), dan dewasa (adult).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita dikatakan sedang dalam kondisi ego anak jika menampilkan karakteristik anak-anak seperti spontan, impulsif, berpusat pada diri sendiri, mencari kesenangan, senang bermain-main, berorientasi pada perasaan, cemas, mencari persetujuan orang lain, patuh, kooperatif, ataupun membantah. Contoh yang paling sederhana adalah, "Yuk, kita bermain." Ego kita dalam kondisi orangtua jika kita menampilkan karakteristik yang khas orangtua baik sebagai orangtua yang mengasuh (nurturing) maupun mengontrol (controlling) . Sifat mengasuh muncul dalam memuji, menenangkan, dan membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, "Ya sudah, yang sabar, ya." Sifat mengontrol dapat berupa tidak menyetujui suatu perilaku, menemukan kesalahan orang lain, ataupun berprasangka. Contohnya, "Kamu kalau jalan pakai mata, dong." Kondisi ego yang dewasa tampil dalam bentuk pernyataan atau sikap yang rasional, objektif, dan penuh pertimbangan. Contohnya, "Kamu sudah memikirkan risiko berbisnis dengan dia?" Perlu diperhatikan kondisi ego dewasa di sini tidak selalu mengacu kepada sikap yang dewasa. Dapat pula sekadar menyatakan data faktual, misalnya, "Hari sudah larut malam." Atau, "Sekarang sudah pukul 12."Tampil SeimbangKondisi ego itu tidak ada kaitannya dengan usia seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang anak kecil dapat saja menampilkan kondisi ego orangtua ketika menghibur temannya agar tidak menangis lagi. Seorang kakek dapat menampilkan kondisi ego anak ketika menginginkan es krim cokelat, sementara ia terkena diabetes. Seorang remaja dapat menampilkan kondisi ego dewasa ketika membatalkan kencannya karena harus belajar untuk ujian akhir. Seorang anak balita juga dapat menampilkan kondisi ego dewasa dengan mengatakan hujan sedang turun.Selain itu, tidak ada yang buruk ataupun baik dari masing-masing kondisi ego.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terpenting adalah ketiga kondisi ego itu tampil seimbang dalam diri kita, dan kita fleksibel dalam menggunakannya sesuai keperluan.Sebagai contoh, ada pasangan suami istri bernama Anton dan Deisy. Suatu hari Deisy mengajak Anton menonton film Kungfu Panda. Ajakan Deisy itu menunjukkan kondisi ego anak yang ingin bersenang-senang dengan menonton film. Yang Deisy inginkan tentunya jawaban yang mendukung keinginannya untuk menonton (bersenang-senang) .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perkataan lain, Deisy menginginkan Anton menjawab dengan kondisi ego anak juga. Jika Anton menjawab, "Wah, boleh juga idemu," Deisy tentu akan senang karena respons Anton sesuai dengan yang diharapkan. Atau bila Anton menjawab dengan ego dewasa, "Memang apa yang menarik dari film itu?", responsnya pun masih belum bertentangan dengan tuntutan Deisy. Interaksi seperti itu antara Anton dan Deisy dinamakan complementary transactions, karena saling melengkapi. Transaksi seperti itu adalah transaksi positif dalam sebuah relasi. Tetapi, jika Anton menjawab, "Kamu ini sudah tua kok senangnya nonton film anak kecil", kritik Anton jelas menampilkan kondisi ego orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan respons seperti itu dapat dibayangkan perasaan Deisy yang kesal karena tidak direspons dengan tepat. Respons Anton itu membuat interaksi di antara mereka menjadi crossed transactions. Crossed karena respons yang diberikan tidak sesuai tuntutan lawan bicara kita. Sampai di situ, Deisy dapat mengembalikan situasi menjadi complementary transactions jika ia mencoba lebih objektif dengan menampilkan kondisi ego dewasa seperti, "Tapi film itu sarat nilai-nilai positif lho." Sayangnya, yang sering terjadi, respons yang tidak sesuai keinginan kita akan kita tanggapi dengan respons yang juga tidak tepat. Deisy, misalnya, akan merajuk, yang berarti ia kembali menampilkan kondisi ego anak. Bukan tidak mungkin akan terjadi pertengkaran karena masalah sepele terkait dengan film Kungfu Panda itu. Anton akan mengomentari sikap kekanakan Deisy, sementara Deisy akan mengatakan Anton tidak pernah memedulikan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi seperti inilah yang disebut Berne dengan melakukan permainan. Secara khusus, permainan antara Deisy dan Anton ini disebut dengan kegemparan (uproar) karena berakhir dengan pertengkaran. Permainan ini dapat diartikan sebagai interaksi yang akhirnya membawa kita pada perasaan yang negatif. Selain crossed transactions, ada lagi yang dinamakan ulterior transactions. Misalnya Anita mengatakan kepada Iwan, suaminya, "Aku benci sama kamu. Kamu jahat." Iwan yang mendengarnya akan menanggapi dengan, "Ya, aku memang jahat. Aku pantas untuk dibenci." Padahal Anita tidak sungguh-sungguh membenci Iwan. Yang ia inginkan dari perkataannya itu adalah Iwan merespons dengan meminta maaf dan mengatakan ia mencintai Anita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dalam ulterior transactions, pesan yang terucap tidak sama dengan pesan yang ingin disampaikan. Ada makna lain yang terselip di dalamnya. Atau sering disebut sebagai pesan tersembunyi (hidden message). Pesan seperti itu tentu sulit dipahami bahkan oleh pasangan yang telah menikah puluhan tahun sekalipun. Akhirnya ulterior transactions pun dapat membawa pasangan ke dalam permainan berjenis uproar.PecundangSayangnya, dalam berelasi, kita sering melakukan permainan-permainan itu. Kita senang dengan permainan karena senantiasa berharap dapat memenangkan permainan. Padahal, dalam sebuah hubungan, siapa pun yang memenangkan permainan itu tidak akan membuat hubungan itu menjadi lebih baik. Sebaliknya, yang terjadi, membuat hubungan menjadi lebih buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berne bahkan dengan tegas mengatakan, siapa pun yang memainkan permainan adalah pecundang. Karena dengan bermain, mereka menghindari interaksi yang sehat dan bermakna. Dengan demikian, permainan hendaknya tidak dimulai. Jika sudah telanjur dimulai, permainan itu harus dihentikan. Bukan berarti kita harus menanggapi semua keinginan pasangan agar respons selalu sesuai tuntutan pasangan. Kadang memang ada baiknya keinginan itu ditanggapi secara rasional dengan menampilkan kondisi ego yang dewasa. Dengan perkataan lain, yang terpenting adalah menciptakan complementary transactions yang positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang lebih penting adalah menghindari percakapan yang mengandung pesan-pesan tersembunyi (ulterior transactions) . Percakapan seperti ini membuka celah untuk terjadinya kesalahpahaman. Kita harus ingat, relasi tentu bukan persoalan tebak-menebak. Jadi, katakan saja kebutuhan kita apa adanya dengan perkataan yang mudah dipahami. Jika telanjur sudah terjadi, ulterior transactions ini harus dihentikan. Caranya, dengan mencoba memahami pasangan untuk dapat mengambil makna tersembunyi. Atau langsung menanyakan kepadanya apa sebenarnya yang ingin disampaikan pasangan atau tindakan apa yang ia harapkan dapat kita lakukan untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara itu lebih mudah dan dapat menyadarkannya bahwa kita sangat ingin menyenangkannya, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan demikian, kita akan terhindar dari permainan yang hanya dapat membawa kita pada pertengkaran yang lebih hebat.So, are you playing games? Please, stop it right now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: "Are You Playing Games?" oleh Lianawati, Penulis adalah Staf Pengajar Fakultas Psikologi Ukrida&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-3260451742779415041?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3260451742779415041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/3260451742779415041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/are-you-playing-games.html' title='&quot;Are You Playing Games?&quot;'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6452766659747278409</id><published>2008-08-09T02:37:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:38:09.273-07:00</updated><title type='text'>Belajar Sukses dari Matematika Sederhana</title><content type='html'>"Dua narapidana melihat ke luar jendela penjara. Satu melihat indahnya bintang-bintang. Satunya lagi melihat lumpur menjijikkan. "(Anthony de Mello)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ingat pelajaran matematika sederhana yang kita pelajari di sekolah dasar. Bisa jadi inilah yang sekarang kita ajarkan pada adik, anak, atau keponakan kita yang masih di TK ataupun SD. Pelajaran yang saya maksudkan adalah operasional hitung, penjumlahan, dan pengurangan. Ingatlah kembali pelajaran operasional hitung "tambah" dan "kurang" tersebut. Apakah yang bisa kita pelajari dan apa hubungannya dengan kesuksesan hidup kita. Jawabannya pun sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan, bentuk operasi hitung "penjumlahan" atau simbol "tambah" yang kita letakkan di setiap angka. Bagaimanakah hasil akhirnya? Hasil akhirnya selalu berubah menjadi angka yang lebih baik atau lebih tinggi nilainya. Jika dijumlahkan dengan angka yang positif, baik angka itu angka plus maupun minus, maka nilainya menjadi lebih baik. Sebaliknya, jika suatu angka dikurangi atau diberi operasional hitung "kurang" maka berapa pun angkanya, akan menjadi lebih kecil nilainya. Anda pasti sudah mengenal sistem operasional hitung ini dengan tanpa perlu bersusah payah. Tapi, apa artinya ini dalam kehidupan sukses kita. Dalam sukses kita, saya membayangkan di dalam diri setiap orang bisa punya kebiasaan "mengurangi" atau kebiasaan "menjumlah", yang saya sebut pribadi "plus" atau pribadi "minus".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikanlah perbedaan yang dihasilkan pribadi plus maupun minus ini. Bagi pribadi "minus", segala kondisi akan menjadi semakin buruk. Bahkan dengan sikapnya, dia membuat situasi atau pun kondisi menjadi bertambah buruk dengan sikapnya. Emosinya serta aura pada dirinya pun cenderung negatif. Itulah sebabnya dia memperburuk suasana yang ada. Misalkan saja, seorang manager dengan keluarganya sedang menyetir keluar kota untuk liburan. Ketika tepat di pintu bayar tol, mobilnya mogok. Akhirnya, dengan kesal, si manajer ini keluar dari mobilnya. Sambil marah-marah, dia tendang mobilnya. Keras sekali sehingga kakinya lebam. Setelah itu, saat ditarik mobil derek untuk diperbaiki, dia marah-marah. Istri dan anak-anaknya pun jadi ikutan 'bete' lantaran terpengaruh sikap si manajer ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, liburan pun batal. Padahal mobilnya bisa diperbaiki dengan cepat. Sementara di sisi lain, ada orang yang mempunyai mentalitas "plus" yang bisa membuat kondisi yang ada menjadi lebih baik. Meskipun dia tidak bisa mengubah keadaan 100% menjadi lebih baik namun sikapnya bisa membuat suasana tidak menjadi semakin lebih buruk. Misalkan pada contoh si manager yang mobilnya mogok di atas. Dia merasakan jengkelnya tapi dengan cepat bisa berpikir pula, "Untung juga. Mogoknya pas di pintu bayar tol. Coba kalau pas di luar kota atau di tengah jalan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, dengan mobil derek, mobilnya bisa segera dibawa ke bengkel terdekat. Bisa diperbaiki lalu dengan segera, mereka bisa menikmati liburannya. Lihat, betapa menyenangkannya kalau kita mempunyai mental "plus" ini. Segala sesuatu tidak menjadi bertambah parah atau memburuk. Minimal, sikap semacam ini dengan cepat akan mengembalikan kondisi yang buruk menjadi normal ke keadaan semula. Dan dengan sikap ini, dia tidak melihat sesuatu dengan emosi-emosi yang negatif seperti marah-marah, kesal, maupun jengkel. Salah satu contoh ini pernah diperlihatkan oleh Thomas Alva Edison sewaktu menyaksikan laboratorium eksperimennya habis terbakar. Dia menyaksikan api yang masih merah menyala lalu berkata, "Iya. Ada gunanya juga semuanya terbakar. Jadi ada kesempatan buat saya untuk memulai lagi semua pemikiran dan ide yang macet, dari awal lagi!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini, Thomas Alva Edison mengajarkan pada kita. Ada sesuatu yang tidak bisa diperbaiki lagi, yakni lab yang terbakar. Namun, dia juga mengajarkan kita bahwa sikap maupun cara kita bertindak bisa membuat situasi dan keadaan menjadi tidak lebih buruk, malah menjadi lebih baik hasilnya. Pecundang Di sisi lain, pelajaran dasar operasional hitung juga mengajarkan kepada kita satu hal yang sederhana. Jika angka berapa pun, tetapi dijumlahkan dengan angka minus maka hasil akhirnya akan menjadi semakin minus. Bayangkanlah hal ini dalam hidup kita di mana kita sering bertemu dan bergaul dengan orang-orang 'pecundang' dan selalu bermental negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang terjadi? Lama-kelamaan diri dan kondisi diri kita juga terpengaruh jadi negatif. Bayangkanlah seorang salesman yang sebenarnya cukup antusias dan semangat, tetapi setiap pagi dia selalu ngopi dan ngrumpi dengan teman-temannya yang selalu mengajarkan padanya, "Kondisi lagi susah", "Gini lho caranya mengambil keuntungan perusahaan buat diri sendiri", "Begini caranya ngobyek di luar dengan fasilitas kantor!". Apa yang akan terjadi kalau selama setahun dia diajarkan seperti itu? Lama-kelamaan mentalnya bisa ikut-ikutan menjadi rusak juga. Karena itulah, maka operasional hitung juga memberikan tipsnya kepada kita. Caranya? Ingatlah dengan prinsip kalau kita mengurangi bilangan apapun dengan angka-angka yang minus (misalkan: X - (-Y) ) maka hasilnya akan lebih positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa artinya? Sederhana saja. Kalau kita bisa mengurangkan orang-orang minus dari kehidupan kita, maka kita bisa menciptakan kondisi dan situasi yang lebih positif. Nah, yang jadi pertanyaan kita adalah siapakah orang-orang yang negatif, berpikir minus dan jelek pengaruhnya dalam kehidupan kita. Kurangilah kesempatan kita berinterkasi ataupun jauhilah orang-orang seperti itu dari kehidupan kita, supaya kita tetap positif menyongsong impian dan cita-cita kita. Demikianlah. Semoga pelajaran kita dari matematika yang amat sederhana ini membuat kita lebih sadar dan membuat kita semakin sukses dengan impian dan cita-cita kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Belajar Sukses dari Matematika Sederhana oleh Anthony Dio Martin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-6452766659747278409?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6452766659747278409'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/6452766659747278409'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/belajar-sukses-dari-matematika.html' title='Belajar Sukses dari Matematika Sederhana'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-8943801631958842279</id><published>2008-08-09T02:33:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:40:42.858-07:00</updated><title type='text'>Prinsip Malaikat</title><content type='html'>Ada yang janggal di mata para bankir ketika mencermati business plan awal RealNetworks yang didirikan Rob Glaser pada 1995. Tertulis secara resmi dalam dokumen, perusahaan itu menetapkan kebijakan penyaluran 5% keuntungan bisnis untuk kegiatan amal di yayasannya. "Sebentar, Anda benar-benar ingin ada kebijakan ini? Sebab, orang yang mempelajari perusahaan Anda tidak akan menyukai ini," begitu kata para bankir, mengingatkan Glaser akan kemungkinan reaksi calon investor. Apa yang terjadi kemudian pada RealNetworks? Rupanya, sepanjang proses go public, hanya dua kali muncul pertanyaan investor soal amal RealNetworks itu. Seorang investor, mengatakan kepada Glaser, "Saya sudah membaca prospektus Anda bahwa Anda akan memberikan 5% keuntungan untuk lembaga amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Anda tidak berikan saja yang 5% itu kepada para investor dan biarkan mereka memberikannya ke lembaga amal?" Menjawab pertanyaan itu, Glaser menjelaskan bahwa dia memang ingin mendorong para investor untuk memberi sumbangan ke lembaga amal. "Tapi, begitu uang itu tidak di tangan kami, maka kami tidak bisa mengawasinya. Jika, kami berikan sendiri yang 5% itu kepada lembaga amal, maka kami tahu itu akan berguna untuk tujuan yang positif." Investor satunya malah bereaksi sangat positif menyangkut kebijakan amal itu. Investor dari California Selatan, yang punya hubungan dengan sebuah perusahaan investasi besar itu menghubunginya lewat telepon. "Saya akan mempelajari dengan sungguh-sungguh rencana bisnis Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah keputusannya berinvestasi atau tidak ke perusahaan Anda, tapi fakta bahwa Anda membuat komitmen pada amal itu pasti menjadi pertimbangan yang mendukung, karena saya kira ini luar biasa." Sang calon investor menambahkan bahwa pengalamannya dengan masalah amal benar-benar positif. "Siapa pun yang mengatakan kepada Anda bahwa Anda tidak mungkin melakukan itu pasti salah." Fakta pertama yang menarik dari pengalaman RealNetworks adalah bahwa hanya dua investor yang bereaksi terhadap kebijakan amal tersebut. Yang satu, sekadar menanyakan tentang cara penyaluran amal, dan yang lainnya menyatakan sangat mendukung. Fakta kedua, RealNetworks kini menjadi perusahaan besar dengan jumlah pegawai 1.594 orang dan pendapatan bersih US$145,22 juta (2006). RealNetworks adalah perusahaan penyedia peranti media Internet (RealAudio, RealVideo dan RealPlayer) yang berbasis di Seattle, Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perusahaan itu juga terkenal karena layanan hiburan online berbasis langganan, seperti Rhapsody, SuperPass, dan RealArcade. Glaser sendiri, yang lahir pada 16 Januari 1962 dan pernah bekerja di Microsoft, sudah punya harta US$2 miliar saat usianya baru 37 tahun. Dia tercatat sebagai penyumbang individual terbesar ke-22 untuk 527 kelompok pada pemilihan umum AS pada 2004. Jumlah sumbangan lulusan Yale Univesity bidang Ekonomi dan Ilmu Komputer itu mencapai US$2,2 juta ke sejumlah organisasi yang berafiliasi ke Partai Demokrat. Perusahaan menyisihkan keuntungan untuk amal memang bukan hal yang aneh. Akan tetapi, seperti kata Glaser, jarang ada yang menuliskan komitmen itu dalam dokumen publik. Apa yang dialami RealNetworks menunjukkan bahwa amal, atau dalam konteks yang lebih luas, filosofi 'memberi', ternyata bukan menjadi faktor negatif bagi sebuah bisnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel beberapa nomor lalu, saya kemukakan satu hasil survei Majalah Fortune pada Oktober 2006. Di situ terlihat bahwa sekitar satu dari setiap US$10 aset di bawah manajemen investasi di Amerika Serikat (US$2,3 triliun dari US$24 triliun) mengalir ke perusahaan yang tinggi tingkat tanggung jawab sosialnya. Ini ditafsirkan sebagai isyarat bahwa perusahaan yang bertanggung jawab secara sosial akan mengungguli perusahaan yang tidak. Selain itu, menurut laporan &lt;a href="http://www.nytimes.com/" target="_blank"&gt;The New York Times&lt;/a&gt;, sampai tahun 2000, pasar untuk values-driven commerce, mencapai US$230 miliar. Angka itu terus tumbuh dua digit setiap tahun. Ceruk pasar yang dirujuk dalam laporan itu adalah masyarakat konsumen dengan kesadaran memilih produsen atau perusahaan yang memerhatikan tanggung jawabnya pada kepentingan stakeholder, termasuk konsumen dan lingkungan. Anggukan universal Pengalaman Glaser, survei Fortune dan laporan New York Times, semua memperlihatkan bahwa filosofi memberi merupakan anggukan universal atas salah satu kecerdasan spiritual manusia. Sikap memberi atau peduli pada hakikatnya adalah suatu investasi kepercayaan (trust).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini berlaku hukum kekekalan energi, bahwa energi yang diberikan tidak akan hilang, ia hanya berubah bentuk. Energi positif (memberi) yang dikeluarkan RealNetworks atau perusahaan lain yang punya tanggung jawab sosial tinggi mengirim sinyal ke para investor bahwa perusahaan-perusaha an itu dijalankan degan integritas. Integritas tidak mungkin menipu dan tidak mungkin berbohong. Integritas tidak memerlukan tepuk tangan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas tidak peduli dengan riuh-rendah sorak -sorai. Integritas tidak pamrih, sebab integritas adalah manifestasi dari Prinsip Malaikat (Angle Principle). Pelakunya tidak mengharapkan apa-apa selain catatan kecil dari malaikat yang berada pada bahu kanannya. Prinsip itu hanya akan muncul ketika manusia telah menyadari bahwa hidupnya adalah pengabdian kepada Tuhan yang telah menitipkan Sifat-Sifat Mulia dalam dirinya. Sifat-sifat yang menjadi kecerdasan spiritual manusia, dan salah satunya adalah peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Prinsip Malaikat oleh Ary Ginanjar Agustian&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-8943801631958842279?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8943801631958842279'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/8943801631958842279'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/prinsip-malaikat.html' title='Prinsip Malaikat'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-1236567739203288296</id><published>2008-08-04T00:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:42:55.663-07:00</updated><title type='text'>Till The Death Do Us Apart</title><content type='html'>“Sekali di Udara Tetap di Udara.” -- Motto Radio Republik Indonesia MASIH ingat iklan deodoran di tahun 1980-an? Singkat tapi luar biasa indahnya. ‘Setia Setiap Saat’ begitu bunyi iklannya. Deodoran berbentuk stik dan bola di ujungnya itu digadang-gadang ampuh untuk menghilangkan bau badan sampai kapan pun juga, alias setiap saat. Soal benar atau tidaknya, si pembuat iklan atau produk tersebut sudah punya jawaban tersendiri. Kalau baru sepuluh menit bau badan sudah muncul, pasti terjadi sesuatu. Apaan tuh? Salah pemakaian atau si pengguna deodoran terlalu aktif. Keringat meluncur deras, alhasil, aroma tak sedap dari ketiak pun menyembur. Setia pada akhirnya memang menjadi kosa kata yang bisa diperdebatkan dengan buih busa di mulut alias menjadi dialog yang bisa tidak berkesudahan. Terlalu banyak hal yang bisa mempengaruhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan bukanlah harga mutlak dari sebuah ikatan. Bagaimana seorang karyawan dapat menjadi setia pada perusahaannya, bila dia mengetahui si bos ternyata tidak jujur dalam mengumumkan laba yang diterima kantornya. Padahal dia sudah mati-matian mendatangkan keuntungan bagi perusahaannya. Begitu pula dalam sebuah ikatan kasih sayang atau lebih sakral: perkawinan. Ikatan itu tentu didasari oleh sebuah kesepakatan di antara dua pelakunya. Mereka sepakat untuk bersatu dan berbagi peran untuk mencapai sebuah tujuan. Nah, kalau di antara kesepakatan itu sudah dilanggar, entah karena sakit atau lain hal, sehingga tujuan bersama tidak lagi bisa dicapai, apakah keliru untuk tidak sepakat lagi? Alhasil, jalan perpisahan atau perceraianlah yang diambil. Bukankah perpisahan juga merupakan bentuk kesepakatan untuk tidak sepakat lagi? Pilihan yang sulit tapi merupakan jalan keluar yang pahit, tapi tetap lebih baik ketimbang harus bersama namun salah satu pasangan sudah merasakan tidak ada lagi kecocokan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sulitnya memahami sebuah ketidaksetiaan seseorang yang berada di luar dunia kita. Toh, hanya mereka berdua yang menjalaninya. Tentu tidaklah mudah bagi kita untuk menjaga kesepakatan itu bila kita sendiri yang menjalaninya.Itulah yang terjadi ketika seorang perempuan muda menggugat cerai suaminya yang sudah tua renta, yang merupakan artis veteran di tahun 1980-an. Padahal sebelumnya, dalam sebuah wawancara di televisi, perempuan muda itu mengatakan, dirinya akan mencintai dan tetap setia pada pasangannya. Jangan hanya mencintai pasangan ketika gagah dan masih berkecukupan saja, begitulah kira-kira pernyataannya ketika itu sebelum ia menggugat cerai suaminya.Tentu orang luar melihatnya dalam kaca mata yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi infotainment, kalau dipisah-pisahkan per kata, berarti ‘info’ yang menghibur, tapi menghibur untuk siapa sebenarnya? justeru menggempur penontonnya dengan tayangannya itu, makin menyudutkan si perempuan tersebut. Cap negatif pun tercetak, ia dikatakan sebagai perempuan yang tidak setia. Padahal, tentu banyak faktor yang menyebabkan si wanita itu menjadi ‘tidak setia’, seperti yang diembuskan infotainment. Namun, siapa pun lebih suka menjauh ketimbang berempati. Bagaimana pun ketidaksetiaan menjadi makanan yang lezat untuk digunjingkan. Sebaliknya, kesetiaan yang diagung-agungkan malah menjadi sekadar nyanyian sepi. Anda masih ingat dengan Christopher Reeve? Reeve merupakan aktor utama pemeran Superman. Reeve menikah dengan model cantik, Dana Charles Morosini, April 1992. Dana tidak hanya cantik, tapi juga cerdas. Ia lulus dengan predikat cum laude di Middlebury College.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernikahan yang dijalani Dana Reeve pada awalnya berjalan begitu menyenangkan. Mereka dikarunia satu orang anak. Hingga akhirnya di tahun 1995, setelah 3 tahun menikah, Christopher Reeve mengalami kecelakaan yang mengubah perjalanan hidup pasangan itu selanjutnya. Reeve terjatuh dari kuda. Kecelakaan itu menyebabkan Reeve mengalami kelumpuhan yang menyebabkan ia harus terus berada di atas kursi roda. Dana Reeve membuktikan kesetiaan terhadap suaminya dengan merawatnya penuh kesabaran, tanpa menggerutu. Dana sepenuhnya sadar, bahwa ia tidak dinafkahi lagi secara lahir bathin oleh suaminya, walau saat itu usianya baru 34 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merawatnya tanpa lelah sedikitpun selama 9 tahun, Dana harus berpisah juga dengan suaminya. Christopher Reeve menghembuskan nafas terakhir pada 10 Oktober 2004. Sepeninggal Reeve, Dana tetap membesar anak tunggalnya dengan penuh kebaikan dan kesabaran. Atas dedikasinya dalam membesarkan anaknya setelah kematian suaminya, tahun 2005, American Cancer Society menganugerahinya ‘Mother of The Year Award’. Bahkan sejak suaminya lumpuh, Dana menjadi pembicara motivasi bagi para penyandang cacat dan lumpuh. Dana akhirnya menyusul suaminya karena kanker paru-paru, ia meninggal pada 6 Maret 2006, atau 2 tahun setelah suaminya meninggal. Aktor Superman Christopher Reeve dalam hidupnya benar-benar mendapat karunia yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menikahi Superwoman yang sesungguhnya. Dana Reeve memang terlahir cantik, cerdas, dan kaya. Dana bisa menikah kapan saja kalau ia mau. Kesetiaan terhadap suaminya telah membuktikan kisah kasihnya yang luar biasa. Kesetiaan Dana atau ketidaksetiaan perempuan yang disebut di atas intinya adalah cermin dari ketahanan mental seseorang dalam menjalani dan mempertahankan komitmen-komitmenny a terhadap pasangan atau sesuatu yang diyakininya. Pada akhirnya, kita juga, manusia yang menjalaninya, yang bisa menjawabnya dengan pilihan dan sikap. (280708)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Till The Death Do Us Apart oleh Sonny Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/66834000726052464-1236567739203288296?l=zulham-effendi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1236567739203288296'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/66834000726052464/posts/default/1236567739203288296'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://zulham-effendi.blogspot.com/2008/08/till-death-do-us-apart.html' title='Till The Death Do Us Apart'/><author><name>Administrator</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-66834000726052464.post-6208879385275466387</id><published>2008-08-04T00:25:00.000-07:00</published><updated>2008-08-15T00:44:41.456-07:00</updated><title type='text'>Tidak Menunda Berbuat Baik</title><content type='html'>Berbuat baik kepada siapa pun dan apa pun di dunia ini mendatangkan kedamaian dan kebahagiaan ke dalam hati. "Your own soul is nourished when you are kind; it is destroyed when you are cruel. – hatimu akan berbunga ketika Anda berbaik hati; tetapi kebahagiaan itu akan lenyap ketika Anda berbuat jahat," kata King Solomon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kejahatan hanya mendatangkan kecemasan, kesedihan, dan rasa tidak nyaman lainnya.Berikut ini kisah tentang seorang pria peruh baya yang cukup sukses berbisnis bahan-bahan kebutuhan pokok. Setiap hari ia selalu mendapatkan omzet penjualan sangat besar. Tetapi ia mempunyai sifat sombong, menang sendiri, dan tidak segan mencelakai orang lain jika berselisih paham atau bersaing dagang dengannya. Hal itu membuat pria tersebut ditakuti sekaligus dibenci orang.Suatu saat ia mendatangi seorang peramal untuk menerka seberapa besar keberuntungan yang akan ia peroleh di tahun-tahun berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi peramal tersebut justru mengungkapkan bahwa pria itu tidak akan dapat bertahan hidup lebih dari 47 tahun. Pria yang saat itu berusia 44 tahun sangat kesal mendengar ramalan itu, lalu pergi begitu saja.Tetapi dalam perjalanan pulang ia terus terngiang semua kata-kata yang dilontarkan oleh sang peramal. Ia menjadi tidak tenang, lalu mencoba menemui beberapa peramal lain yang tak kalah masyhur pada saat itu. Berbagai bentuk teknik ramalan, mulai dari membaca garis tangan, fengsui, baguo, bazhi (ramalan waktu lahir), semuanya mengisyaratkan bahwa usia pria itu tak akan lebih dari 47 tahun.Meskipun sedih, ia berusaha menerima `kenyataan' bahwa sisa hidupnya hanya 3 tahun lagi. Ia mulai bersiap-siap menjelang `kematian'. Berbagai bentuk kebaikan ia laksanakan, berharap dapat membawa amal baik sebanyak mungkin jika harus meninggal dalam waktu 3 tahun mendatang.Sejak saat itu ia rajin beramal, membantu orang miskin di sekitar rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia juga tidak segan membagikan harta bendanya untuk membantu teman-teman maupun kerabat jauh yang membutuhkan bantuan. Hampir semua orang yang pernah mengenal dirinya dulu merasa heran sekaligus senang atas perubahan drastis sikapnya itu.Masa berlalu dan usia pria itu sudah menginjak 47 tahun. Pria tersebut sudah dikenal sangat baik dan pemurah. Sedangkan bisnisnya sudah jauh lebih besar dibandingkan 3 tahun yang lalu. Anehnya sampai usianya merangkak masuk ke tahun 50, ramalan dari para peramal kesohor itu tak satu pun terbukti."Baiknya kamu datangi peramal-peramal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrak-abrik saja isi rumah mereka, karena mereka semua sudah berbohong padamu," celetuk sahabat karibnya bernada kesal.Ah, tidak perlu itu. Justru aku harus berterima kasih. Karena semua ramalan itu sudah membuatku lebih baik. Badanku terasa lebih segar, bisnisku lebih maju, pikiranku lebih ringan, dan sangat banyak orang yang baik padaku dibandingkan 3 tahun yang lalu. Hidupku lebih bahagia sekarang," ucap pria itu tenang.Inti pesan dalam kisah itu mengajak kita berbuat baik kepada siapa pun, apa pun dan kapan pun. Lakukan kebaikan sesegera mungkin, selagi kita mampu. Berikut beberapa hal mengapa kita sebaiknya tidak menunda untuk berbuat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak pernah dapat menebak apa yang akan terjadi 1 jam lagi, 2 jam lagi, dan seterusnya. "You and I can never do a kindness too soon, for we never know how soon it will be too late. – Saya dan Anda tak pernah dapat melakukan kebaikan terlalu cepat, karena kita tak pernah tahu bagaimana ukuran terlalu cepat atau terlambat," Ralph Waldo Emerson.Jangan menunda bila Anda ingin berbuat baik, karena tanpa kita sadari penundaan itu membuat kita kehilangan kesempatan. Di masa datang sangat banyak kemungkinan terjadi, misalnya Anda sudah tidak sanggup melakukannya karena sakit, tua, bangkrut, dan lain sebagainya. Kapan lagi kita dapat menikmati kebahagiaan dan kedamaian itu, jika kita tidak berbuat kebaikan sedari sekarang?Kesempatan hidup kita sangat terbatas, sedangkan tanggung jawab yang harus kita kerjakan sangatlah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun mengetahui kapan kontrak hidup dengan Tuhan YME akan berakhir. Jika benar-benar habis masa kontrak usia kita tentu kesempatan untuk berbuat baik juga sudah hilang. Oleh sebab itu, segera gunakan kesempatan yang Anda miliki untuk berbuat baik dan jangan pernah menundanya lagi.Selain itu, tak satu pun manusia di dunia ini yang sempurna. Semua manusia tidak luput dari dosa dan kesalahan, entah yang kita sadari atau tidak. Selayaknya kita mengimbangi dosa dan kesalahan tersebut dengan perbuatan positif. Kalau kita tidak segera berbuat baik, bisa jadi kita kembali melakukan kealpaan lagi atau justru terjerembab dalam lingkaran kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbuat kebaikan dengan penuh kesungguhan pasti menarik kebaikan pula kedalam kehidupan kita. Samuel Johnson mengatakan, "Kindness is in our power, even when fondness is not. – Kebaikan adalah kekuatan kita, sedangkan kesenangan itu bukan."Dalam kisah di atas dikatakan bahwa pria paruh baya tersebut merasa badannya lebih sehat, hati lebih tentram, dan bisnisnya berkembang pesat setelah ia mengisi hari-harinya dengan perb
